"Ya
Alloh ! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang
Maha Tinggi” (Sahih
Bukhari 59.715)
Dalam
diskursus “Teman Yang Maha Tinggi” seperti
yang diserukan Muhamad sesaat sebelum ia menghembuskan napas terakhir diantara
payudara Aisyah ketika ludah mereka berdua masih berlepotan bercampur menjadi
satu, para sarjana muslim masih begitu beragam dalam membuat kesimpulan. Mereka
masih berdebat habis pada pandangan masing-masing karena kekerasan hati mereka
sendiri. Ini terjadi karena masing-masing pendapat para sarjana muslim tersebut
membawa konsekuensi yang tidak ringan. Itulah sebabnya mereka mengambil jalan
tengah dengan tidak membahas sama sekali peristiwa tersebut dihadapan umat
muslim yang awam.....
Artikel ini dalam rangka
memecahkan kebuntuan yang mereka buat sehingga semua menjadi terang. Dipastikan
95% muslim tidak tahu kisah yang mendebarkan ini, 5% yang tahu dipastikan tidak
peduli atau bahkan malah menutupi kisah sakratul maut yang dialami Muhamad
junjungan mereka.
Apa yang diserukan Muhamad menunjukkan
kebingungannya akan kemana dia akan pergi setelah mati sehingga ia mengajukan
permintaan terakhir kepada Alloh dengan seruan agar dihubungkan dengan “juru damai” yakni “teman yang maha tinggi” tersebut sebagai “shirathal mustaqiim” sebuah jalan lurus untuk dapat langsung
bertemu Alloh!!. Namun, hal yang begitu kontras bahkan ditunjukkan oleh Almasih
Isa sesaat sebelum Dia mati sebagai manusia, “...Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama
dengan Aku di dalam Firdaus!!”, (Lukas 23;43).
Sungguh sebuah perbedaan yang teramat luar
biasa kontras, Almasih Isa bahkan masih sempat mengampuni dan memastikan salah
seorang penjahat yang disalibkan bersama-Nya pada hari itu juga akan bersamanya
di dalam Firdaus............ sedangkan Muhamad masih kebingungan mencari “Sang Juru Damai” yakni “shirathal mustaqiim”.
Kepastian
yang dijaminkan Almasih Isa itulah yang oleh Muhamad sedang diserukan sebelum
ajalnya menjemput... namun apakah Almasih Isa mendengarkan seruan Muhamad
tersebut??
Sebenarnya jauh hari Muhamad sudah
merekam semua ini dengan baik dalam al-Quran, namun rupanya ia sendiri bahkan
para pengikutnya telah salah persepsi akan pesan-pesan tersebut. Sebutan “Almasih” di depan nama Isa adalah
sebuah gelar yang “sangat luar biasa”
karena memiliki pengertian sebagai satu-satunya “juru damai” atau “pendamai”,
sebuah gelar yang merupakan satu-satunya pribadi yang merujuk-Nya sebagai “penghubung” atau yang dalam bahasa
al-Quran disebut sebagai “shirathal mustaqiim” yakni “pribadi
pendamai yang menghubungkan antara umat manusia yang berdosa dengan Alloh!!”. Itulah sebabnya muslim selalu berdoa agar ditunjukkan “shirathal mustaqiim”.
Namun karena sifat egois yang disandangnya mereka mengartikannya sebagai “jembatan/titian” sakratul maut yang
lebarnya hanya sepertujuh tebal rambut yang akan menghubungkan manusia dengan
Alloh di akherat kelak.
Bila demikian, siapakah yang dapat
melintasinya?? Tidak seorangpun!! Itulah sebabnya semenjak awal seluruh muslim
dan muallaf sudah diingatkan bahwa, “...tidak
seorangpun diantaramu melainkan menuju neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu
merupakan kepastian yang sudah ditetapkan!!”, (QS 19;71).
Bahkan sebenarnya Muhamad sendiri juga telah
merekam dengan jelas dalam al-Quran akan pesan Almasih Isa untuk umat muslim
diseluruh dunia agar
mengikuti dan taat kepada Almasih Isa, karena ternyata hanya pribadi Almasih
Isa-lah “Sang Shirathal Mustaqiim” seperti yang disebut-sebut dalam surah Az-zukhruf
ayat 61-63. Dialah juga yang akan membawa kepastian
akan hari kiamat dan Dialah “Jalan Lurus”
yang selama ini dicari dan bahkan secara naluriah Muhamad sendiri harus mengakui
disaat-saat detik terakhir denga berseru kepada Alloh dengan nyaring, “....hubungkanlah
saya dengan Teman Yang Maha Tinggi..” dengan harapan dirinya mendapatkan
privilege untuk terhubung langsung dengan Alloh.
Apakah
akhirnya Muhamad dapat terhubung dengan Sang Juru Damai?? Lantas bagaimana
nasib milyaran umat muslim kelak??
Cobalah dengan rendah hati secara
perlahan membaca surah 19;70-71. Semoga artikel ini dapat menolong dan
membimbing anda untuk mendapatkan “Sang Juru Damai” yang menghubungkan anda kelak dengan
Alloh...