Showing posts with label murtad. Show all posts
Showing posts with label murtad. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

Gembala-gembala di Padang Efrata : Penampakan Messiah di Migdal Eder


Sebuah jawaban bagi muslim yang masih meragukan kisah, "kawanan gembala di tengah padang dipuncak musim dingin"

Dalam sebuah sesi diskusi dengan rekan-rekan saya yang sudah cenderung ingin meninggalkan agamanya yang lama, kini mereka semakin begitu antusias berdiskusi yang menjurus ke aqidah dan tauhid kristiani dengan cara pandang yang semakin kritis. Namun nampaknya, semakin mereka ingin murtad mereka bahkan malah semakin kritis dalam hal perkara tertentu yang memang sangat terbuka untuk dipertanyakan. Sayapun yakin bahwa, walaupun mereka sangat awam tentang Kristen, namun pertanyaan yang mereka ajukan tidak mudah untuk dijawab bahkan oleh rohaniwan yang sudah lama berkecimpung dalam urusan ini yang mungkin saja karena alasan keterbatasan akan padanan dan pengetahuan bahasa.

“...kitab anda ngaco, bagaimana mungkin ada kawanan gembala di Padang yang tengah menggembalakan ternaknya di tengah malam gelap di puncak musim dingin bersalju??”, inilah salah satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab, bahkan oleh rohaniwan sekalipun. Pertanyaan yang tidak disangka-sangka ini “sungguh sangat masuk akal” dan “sangat logis”. Karena, secara logis memang tidak mungkin terjadi di tengah puncak musim dingin bersalju ada sekawanan gembala yang menjaga ternaknya di tengah padang... namun sebaliknya saya justru bangga mereka bisa menemukan pertanyaan yang saya anggap sangat “luar biasa” ini. Dan bahkan baru kali ini saya mendapatkan pertanyaan tersebut! Karena dengan demikian, mereka pasti sudah berusaha keras untuk mencoba memahami iman mereka yang baru, kristiani, disisi lain bila saya dapat menjawabnya, mereka selangkah lagi akan benar-benar murtad...

Sebuah artikel yang sudah lama saya simpan di laptop akhirnya saya berikan kepada mereka untuk mereka pelajari. Artikel tersebut saya copy dari BAMBANG NOORSENA CENTER  karangan Bambang Noorsena,SH,MA yang kebetulan juga seorang mantan muslim. Anda selanjutnya juga dapat membacanya disini agar bisa ikut memahaminya. Namun setelah menyelesaikan membacanya mungkin akan ada pertanyaan lanjutan ; jawaban ini terlalu dicari-cari dan kebetulan ditemukan di Alkitab!  Sama sekali tidak! Karena memang tidak ada jawaban yang dicari-cari, memang Alkitab dan Injil menulisnya, dan kini kembali kepada nurani anda untuk dapat menerima jawaban tersebut atau tidak, karena yang terpenting disini adalah bahwa berita keselamatan telah dikabarkan kepada anda sekalian dan menunggu keputusan anda selanjutnya....

Dan inilah artikel selengkapnya, selamat mengikuti ;


"Migdal Eder, Menara Kawanan
Domba, tempat dimana akan terjadi Raja
Messiah akan diwahyukan pada hari-hari
akhir" (Targum Yonathan, Berehit/Genesis 35:21)

"Tahun yang baik pada bulan Tebeth (Desember)
tidak turun hujan" (Talmud, Ta’anit 6b)

Mungkinkah ada kawanan domba di
padang pada musim dingin?
                                                                              
Dalam banyak rincian tulisannya, khususnya Kisah Para Rasul, keterangan Lukas dibuktikan sangat tepat oleh para archeolog akhir-akhir ini. Nah, dalam kaitan dengan tanggal perayaan Natal, 25 bulan Tebeth/Desember. Lukas menulis: Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal dipadang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (Lukas 2:8). Pertanyaan yang lazim dikemukakan, "Mungkinkah ada kawanan domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin?". Pertanyaan ini, tentu saja memustahilkan penanggalan Gereja seperti yang sudah kita bahas mengenai tanggal Kelahiran al-Masih Isa.

Pertanyaan itu memang menarik. Tetapi sayang sekali, semua sikap yang cenderung meremehkan kisah-kisah seperti itu dalam Alkitab, kurang dilengkapi dengan pemahaman yang memadai mengenai latar belakang tradisi Yahudi. Khususnya mengenai pengharapan Yahudi mengenai kedatangan Messiah. Pertanyaan di atas, dapat dijawab dengan mengemu-kakan 2(dua) fakta dasar sebagi berikut :

Pertama, sesuai dengan pengharapan Yahudi tampaknya yang dimaksudkan Lukas dengan padang gembala itu bukan padang gembala biasa. Tetapi menunjuk kepada Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" yang disebut dalam Targum Yonathan. Latar belakangnya, seperti dicatat dalam Kejadian 35:16-22. Di situ dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu ia melahirkan Benyamin, yang lalu dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu Bethlehem. Kubur Rahel itu ada di Bethlehem hingga sekarang. Di sebuah bangunan dengan kubah putih, di situ ada Menorah dan tulisan Ibrani:Qubr Rahel, "kuburan Rahel". Dalam Targum Yonathan, Migdal Eder, "Menara kawanan domba",[2] tempat Israel memasang kemahnya (Kejadian 35:21), disebut sebagai tempat Messiah akan dinyatakan. Menurut literatur Yahudi: Mishnah, Sheki-nah 7,4 domba-domba yang disebut dalam kaitan dengan Migdal Eder itu bukan domba-domba biasa, tetapi domba-domba kurban Bait Allah, yang dijaga oleh gembala-gembala khusus pula yang diikat oleh peraturan rabbi-rabbi Yahudi. Karena itu, letak Migdal Eder menurut keterangan Mishnah tadi di suatu jalan tertutup dalam perjalanan dari Bethlehem menuju ke Yerusalem. Yang jelas, apa yang sekarang disebut Sahl al-Ra’wat (The Sepherd’s Field) di Beyt Sahour, itu hanya kira-kira saja. Artinya, jauh dari keterangan yang diberikan Mishnah. Nah, karena tempat itu memang tempat tertutup, mungkin semacam benteng begitu, maka "domba-domba di padang itu dibiarkan digembalakan, baik pada saat musim panas maupun musim hujan". Demikian keterangan yang terbaca dalam Talmud, tractate: Bezah 40a, Tsepta Bezah 4:6. [3] Nah, untuk ukuran domba-domba biasa di padang belantara memang tidak mungkin, sebab domba-domba pada umumnya paling lambat harus kembali dimasukkan dalam kandangnya pada waktu turunnya hujan pertama (kira-kira bulan Nopember)". Bahwa Bait Allah di Yerusalem mempunyai persediaan khusus seperti itu, jelas dari fakta bahwa tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban hampir dalam semua lingkaran tahun liturgis. Dalam penanggalan liturgi Yahudi, perayaan yang jatuh pada bulan 25 Kislew sampai 2 Tebeth (Desember/Januari) adalah Hari Hanuka ("penahbisan Bait Allah"). Hari raya ini memperingati kemenangan Yuhuda Makabe pada tahun 165-164 sebelum Masehi, karena kejahatan Anthiokus Epifanes yang menajiskan Baitul Maqdis itu (2 Makabe 10:6). Dalam Yohanes 10:22 disebutkan bahwa perayaan itu jatuh pada musim dingin. Ciri khas perayaan ini adalah penyalaan lampu-lampu terang, sehingga sejarahwan Flavius Yosephus menyebutnya : "Hari Raya Terang" (Antiquities 12:325).[4] Barangkali dari upacara inilah, ummat Kristen mengadaptasi penyalaan lilin-lilin dan lampu Natal. Jadi, tidak usah curiga dulu bahwa ritus-ritus Natal itu asalnya dari paganisme, meskipun kita tidak mengecilkan makna kontekstualisasi yang dalam pada agama apapun di dunia ini.

Kedua, secara umum biasanya pada musim dingin, maka gembala tidak menggembalakan domba-dombanya di padang. Ya, ini kan pada umumnya. Apa di dunia ini tidak pernah terjadi waktu-waktu yang khusus? Jawabnya: Ya, tentu saja pernah terjadi. Jadi, biasanya memang pada bulan Tebeth/Desember curah hujan sangat besar. Orang-orang akan menggigil kedinginan bila berada di luar. Tapi, ternyata tidak selamanya pada bulan Tebeth turun hujan. Nah, kalau saya berkata ada yang luar biasa, supra-Natural, pasti saya akan diejek tidak ilmiah. Tapi saya berbicara berdasarkan bukti. Dalam Talmud, Ta’anith 6b, saya membaca: "Tahun baik dalam bulan Tebeth (Desember) tidak turun hujan". [5] Apa maksud-nya? Ya, memang pernah terjadi "salah mangsa, salah musim". Dalam hubungan dengan itu, Talmud malah secara eksplisit mencatat bahwa pada musim dingin: "domba-domba digembalakan di padang". Untuk lebih mantabnya, saya kutip bahasa Ibraninya: alu hen midbariyot. The flocks which pastured in the wilderness. [6] Kini saya mau bertanya, "Apakah tidak masuk akal apabila kita berfikir bahwa pernah ada waktu yang disiapkan secara khusus oleh Allah: suasana ramah, hari baik dan cuaca yang bagus?". Kelahiran Messiah sendiri, Putra Allah yang lahir dari seorang perempuan Yahudi di Palestina itu terjadi: Fa lama tamma al-Zaman. "When the fullness of the times had come" (Galatia 4:4). Ya, mungkin penafsiran saya ini terlalu jauh. Tapi begitulah saya haqqul yaqin, mengimani misteri Ilahi. Kesimpulan saya, sekali lagi tidak ada yang janggal dengan kelahiran Sayidina Almasih pada bulan Tebeth/ Desember, sebagaimana yang ditetapkan dalam hitungan liturgi Gereja selama ini.

Catatan kaki:

1. Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" ini mempunai makna penting dalam pengharapan Mesianik Yahudi. Tempat itu letaknya antara Bethlehem menuju ke Yerusalem, dan itu bukan padang biasa seperti yang saya buktikan dalam tulisan ini.
2. Alfred Edhersheim, The Life and Times of Jesus The Messiah (Hendrickson Publisher, 1995), pp. 130.
3. Ibid, p. 131.
4. William Wiston, A.M. (ed.), The Works of Flavius Josephus (Philadelpia: J.B. Lippicott & Co, 1872), p. 421.
5. Alfred Edersheim, Loc. Cit.
6. Alfred Edersheim dalam bukunya juga mengutip hasil penelitian Dr. Chaplin, Palestinian Exploration, Januari 1883. Rata-rata pada pertengah-an bulan musim dingin di Palestina, curah hujan mencapai 4.718 inci pada bulan Desember, 5.479 inci pada bulan Januari, dan 5.207 inci pada bulan Pebruari. Jadi sangat dingin. Tetapi pernah terjadi pada tahun 1876-1877 kita mendapatkan angka-angka yang mengejutkan: 0.490 inci pada pertengahan Desember, 1.595 inci pada bulan Pebruari, dan 8.750 pada bulan Pebruari. Jadi, bukan mustahil keterangan Talmud: "Tahun yang baik dalam bulan Tebeth tanpa Hujan", terjadi pada saat kelahiran Yesus (Ibid).
 
Sumber: Noorsena, Bambang, Renungan-renungan Idul Milad (Natal) di Tanah Suci Israel/Palestina, [Malang: Studia Syriaca Orthodoxia,1999], pp. 37-41

[kini, setelah melalui proses yang berliku dan panjang, rekan-rekan saya tersebut bisa mengerti dan sudah meninggalkan agamanya yang lama...]
silahkan menuliskan komentar dengan dengan penuh tanggungjawab tanpa caci maki atau akan langsung dihapus...




Tuesday, September 24, 2013

SAYA MASIH BELUM MENEMUKAN BEDANYA...



[Artikel ini  berjudul asli ; "Musibah Besar! Muslimah Murtad Supaya Dinikahi Pemuda Kafir", oleh Badrul Tamam, yang saya kutip dari sebuah alamat web yang tanpa saya sensor sama sekali, silahkan pembaca mengartikan maknanya.... 
Namun hingga sekarangpun saya masih sulit memahami akan ajaran ini, karena saya masih sulit membedakanya antara ; apakah ajaran ini benar-benar merupakan sebuah ajaran agama atau ajaran sebuah geng narkoba atau ajaran sebuah kelompok mafia, karena selalu  mengancam akan membunuh siapapun yang kedapatan keluar dari kelompoknya. Terus terang hingga saat ini saya masih belum menemukan bedanya... silahkan melanjutkan membacanya.]


.....Musibah buruk lagi besar menimpa keluarga Haji Anshori. Musibah besar yang lebih dahsyat daripada kecelakaan, gempa bumi, angin tornado atau sunami. Musibah yang jauh lebih menyedihkan daripada kematian, cacat, atau kemiskinan. Di mana keluarga haji tersebut  harus putus perwalian, wala', dan loyalitas dari anak perempuannya. Puncakanya pada Jum'at, 18 Juni 2010 yang lalu, saat mereka harus menyaksikan pernikahan anak perempuannya yang berganti agama. Melissa Ariani memilih murtad (pindah agama) demi bisa menikah dengan kekasihnya Choky Sitohang, seorang presenter non-muslim yang sedang naik daun. Padahal dalam timbangan Islam, murtad adalah perkara yang sangat dibenci. Bahkan sangsinya di dunia dan akhirat sangat berat.

Murtad berarti meninggalkan agama Islam secara total dan berpindah kepada agama lain seperti Kristen, Yahudi, Buda, Hindu, dan lainnya dengan sengaja tanpa dipaksa. Murtad (keluar dari Islam) akan membatalkan iman seorang muslim, sebagaimana hadats yang menyebabkan batalnya wudlu'. Sedangkan mati di atas kemurtadan menghapuskan seluruh amal shalih.

Allah Ta'ala menjelaskan tentang nasib orang murtad di dunia dan akhirat,
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217) Di sini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa mati di atas kemurtadan menghapuskan seluruh amal shalih di dunia dan akhirat, serta mengakibatkan kekal di dalam Neraka.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ
"Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat." (QS. Ali Imran: 90) Siapa yang kafir setelah sebelumnya beriman dan terus-terusan kafir dan tidak mau bertaubat sampai datang kematian, maka sekali-kali Allah tidak akan menerima taubatnya ketika ajal menjemputnya.

Orang yang murtad (menjadi kafir) atas pilihannya dan tanpa paksaan, pasti tertimpa murka dari Allah dan wajib kekal di neraka dengan adzab yang pedih. Allah Ta'ala berfirman,
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar." (QS. Al-Nahl: 106)

Pada ayat sesudahnya, Allah menjelaskan tentang alasan harus ditimpa adzab yang pedih, "Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Nahl: 107-109)

Murtad (keluar dari Islam) akan membatalkan iman seorang muslim, sebagaimana hadats yang menyebabkan batalnya wudlu'.

Sedangkan dalam hukum Islam, orang murtad wajib dihukum mati dengan pedang setelah sebelumnya diberi kesempatan taubah selama tiga hari. Jika tetap tidak mau maka hukuman pancung harus dilaksanakan atasnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
"Siapa yang merubah agamanya, maka bunuhlah." (HR. Bukhari)
لَا يَحِلُّ دَمُ اِمْرِئٍ مُسْلِمٍ; يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَأَنِّي رَسُولُ اَللَّهِ, إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: اَلثَّيِّبُ اَلزَّانِي, وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ, وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ; اَلْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
"Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada Ilah kecuali Allah dan aku sebagai utusan Allah kecuali karena satu dari tiga hal: Pembunuhan dibalas bunuh (qishash), duda (dan janda) yang berzina, dan orang yang meningalkan agamanya, memisahkan diri dari jama'ah." (Muttafaq 'alaih)

Maka siapa yang menjadi kafir setelah sebelumnya beriman, terus-menerus dalam kekafirannya dan tidak mau bertaubat, maka darahnya tidak lagi dilindungi yang berarti dia telah menghancurkan dunia dan akhiratnya.

Dalam hukum Islam, orang murtad wajib dihukum mati dengan pedang setelah sebelumnya diberi kesempatan taubah selama tiga hari. Jika tetap tidak mau maka hukuman pancung harus dilaksanakan atasnya.

Berharganya Nikmat Iman
Sesungguhnya nikmat Allah jumlahnya sangat banyak, tidak mampu dihitung. Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya adalah nikmat iman. Dengan iman, kita akan mendapatkan keridlaan Allah 'Azza wa Jalla, bisa masuk surga dan selamat dari neraka. Dan ini merupakan pokok dari keberuntungan hidup. 

Allah Ta'ala berfirman,
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185)

Sebaliknya tanpa iman sebaik apapun amal perbuatan tidak akan diterima oleh Allah. Bahkan kalau seseorang sebelumnya beriman, lalu berganti predikat dengan dengan musyrik dan kafir, seluruh amal ketaatan yang telah dilakukan akan terhapus. Apabila meninggal di atasnya akan menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya.

Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
"Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS. Al Nuur: 39)
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al Furqaan: 23)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ  خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ
"Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh." (QS. Al-Baqarah: 161-162)

Tanpa iman sebaik apapun amal perbuatan tidak akan diterima oleh Allah.

Dari Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Ya Rasulallah, Ibnu Jud'aan sewaktu Jahiliyah telah menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Tidak bermanfaat baginya karena tak pernah sehari pun dia berucap, "Ya Allah Tuhanku, ampunilah dosa kesalahanku pada hari pembalasan." (HR. Muslim)

Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan makna hadits ini, bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir."

bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir.

Oleh karena itu, musibah dunia seberapa berat dan dahsyatnya, tidaklah lebih besar dibandingkan dengan musibah yang menimpa dien dan iman karena akan menyebabkan kerugian besar di dunia dan akhirat.

Dalam sebuah doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang panjang, beliau memberitahukan bahwa musibah terbesar adalah musibah yang menimpa dien dan iman, karenanya dianjurkan untuk berlindung dari tertimpa musibah ini.
. . . . وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا . . .
". . .  Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa dien kami . . ." (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim. Syaik Al-Albani menghasnakan hadits ini dalam Shahih al-Jaami')

[selamat merenungkan diri...]