Showing posts with label awal menjadi murtadin. Show all posts
Showing posts with label awal menjadi murtadin. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

Gembala-gembala di Padang Efrata : Penampakan Messiah di Migdal Eder


Sebuah jawaban bagi muslim yang masih meragukan kisah, "kawanan gembala di tengah padang dipuncak musim dingin"

Dalam sebuah sesi diskusi dengan rekan-rekan saya yang sudah cenderung ingin meninggalkan agamanya yang lama, kini mereka semakin begitu antusias berdiskusi yang menjurus ke aqidah dan tauhid kristiani dengan cara pandang yang semakin kritis. Namun nampaknya, semakin mereka ingin murtad mereka bahkan malah semakin kritis dalam hal perkara tertentu yang memang sangat terbuka untuk dipertanyakan. Sayapun yakin bahwa, walaupun mereka sangat awam tentang Kristen, namun pertanyaan yang mereka ajukan tidak mudah untuk dijawab bahkan oleh rohaniwan yang sudah lama berkecimpung dalam urusan ini yang mungkin saja karena alasan keterbatasan akan padanan dan pengetahuan bahasa.

“...kitab anda ngaco, bagaimana mungkin ada kawanan gembala di Padang yang tengah menggembalakan ternaknya di tengah malam gelap di puncak musim dingin bersalju??”, inilah salah satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab, bahkan oleh rohaniwan sekalipun. Pertanyaan yang tidak disangka-sangka ini “sungguh sangat masuk akal” dan “sangat logis”. Karena, secara logis memang tidak mungkin terjadi di tengah puncak musim dingin bersalju ada sekawanan gembala yang menjaga ternaknya di tengah padang... namun sebaliknya saya justru bangga mereka bisa menemukan pertanyaan yang saya anggap sangat “luar biasa” ini. Dan bahkan baru kali ini saya mendapatkan pertanyaan tersebut! Karena dengan demikian, mereka pasti sudah berusaha keras untuk mencoba memahami iman mereka yang baru, kristiani, disisi lain bila saya dapat menjawabnya, mereka selangkah lagi akan benar-benar murtad...

Sebuah artikel yang sudah lama saya simpan di laptop akhirnya saya berikan kepada mereka untuk mereka pelajari. Artikel tersebut saya copy dari BAMBANG NOORSENA CENTER  karangan Bambang Noorsena,SH,MA yang kebetulan juga seorang mantan muslim. Anda selanjutnya juga dapat membacanya disini agar bisa ikut memahaminya. Namun setelah menyelesaikan membacanya mungkin akan ada pertanyaan lanjutan ; jawaban ini terlalu dicari-cari dan kebetulan ditemukan di Alkitab!  Sama sekali tidak! Karena memang tidak ada jawaban yang dicari-cari, memang Alkitab dan Injil menulisnya, dan kini kembali kepada nurani anda untuk dapat menerima jawaban tersebut atau tidak, karena yang terpenting disini adalah bahwa berita keselamatan telah dikabarkan kepada anda sekalian dan menunggu keputusan anda selanjutnya....

Dan inilah artikel selengkapnya, selamat mengikuti ;


"Migdal Eder, Menara Kawanan
Domba, tempat dimana akan terjadi Raja
Messiah akan diwahyukan pada hari-hari
akhir" (Targum Yonathan, Berehit/Genesis 35:21)

"Tahun yang baik pada bulan Tebeth (Desember)
tidak turun hujan" (Talmud, Ta’anit 6b)

Mungkinkah ada kawanan domba di
padang pada musim dingin?
                                                                              
Dalam banyak rincian tulisannya, khususnya Kisah Para Rasul, keterangan Lukas dibuktikan sangat tepat oleh para archeolog akhir-akhir ini. Nah, dalam kaitan dengan tanggal perayaan Natal, 25 bulan Tebeth/Desember. Lukas menulis: Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal dipadang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (Lukas 2:8). Pertanyaan yang lazim dikemukakan, "Mungkinkah ada kawanan domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin?". Pertanyaan ini, tentu saja memustahilkan penanggalan Gereja seperti yang sudah kita bahas mengenai tanggal Kelahiran al-Masih Isa.

Pertanyaan itu memang menarik. Tetapi sayang sekali, semua sikap yang cenderung meremehkan kisah-kisah seperti itu dalam Alkitab, kurang dilengkapi dengan pemahaman yang memadai mengenai latar belakang tradisi Yahudi. Khususnya mengenai pengharapan Yahudi mengenai kedatangan Messiah. Pertanyaan di atas, dapat dijawab dengan mengemu-kakan 2(dua) fakta dasar sebagi berikut :

Pertama, sesuai dengan pengharapan Yahudi tampaknya yang dimaksudkan Lukas dengan padang gembala itu bukan padang gembala biasa. Tetapi menunjuk kepada Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" yang disebut dalam Targum Yonathan. Latar belakangnya, seperti dicatat dalam Kejadian 35:16-22. Di situ dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu ia melahirkan Benyamin, yang lalu dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu Bethlehem. Kubur Rahel itu ada di Bethlehem hingga sekarang. Di sebuah bangunan dengan kubah putih, di situ ada Menorah dan tulisan Ibrani:Qubr Rahel, "kuburan Rahel". Dalam Targum Yonathan, Migdal Eder, "Menara kawanan domba",[2] tempat Israel memasang kemahnya (Kejadian 35:21), disebut sebagai tempat Messiah akan dinyatakan. Menurut literatur Yahudi: Mishnah, Sheki-nah 7,4 domba-domba yang disebut dalam kaitan dengan Migdal Eder itu bukan domba-domba biasa, tetapi domba-domba kurban Bait Allah, yang dijaga oleh gembala-gembala khusus pula yang diikat oleh peraturan rabbi-rabbi Yahudi. Karena itu, letak Migdal Eder menurut keterangan Mishnah tadi di suatu jalan tertutup dalam perjalanan dari Bethlehem menuju ke Yerusalem. Yang jelas, apa yang sekarang disebut Sahl al-Ra’wat (The Sepherd’s Field) di Beyt Sahour, itu hanya kira-kira saja. Artinya, jauh dari keterangan yang diberikan Mishnah. Nah, karena tempat itu memang tempat tertutup, mungkin semacam benteng begitu, maka "domba-domba di padang itu dibiarkan digembalakan, baik pada saat musim panas maupun musim hujan". Demikian keterangan yang terbaca dalam Talmud, tractate: Bezah 40a, Tsepta Bezah 4:6. [3] Nah, untuk ukuran domba-domba biasa di padang belantara memang tidak mungkin, sebab domba-domba pada umumnya paling lambat harus kembali dimasukkan dalam kandangnya pada waktu turunnya hujan pertama (kira-kira bulan Nopember)". Bahwa Bait Allah di Yerusalem mempunyai persediaan khusus seperti itu, jelas dari fakta bahwa tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban hampir dalam semua lingkaran tahun liturgis. Dalam penanggalan liturgi Yahudi, perayaan yang jatuh pada bulan 25 Kislew sampai 2 Tebeth (Desember/Januari) adalah Hari Hanuka ("penahbisan Bait Allah"). Hari raya ini memperingati kemenangan Yuhuda Makabe pada tahun 165-164 sebelum Masehi, karena kejahatan Anthiokus Epifanes yang menajiskan Baitul Maqdis itu (2 Makabe 10:6). Dalam Yohanes 10:22 disebutkan bahwa perayaan itu jatuh pada musim dingin. Ciri khas perayaan ini adalah penyalaan lampu-lampu terang, sehingga sejarahwan Flavius Yosephus menyebutnya : "Hari Raya Terang" (Antiquities 12:325).[4] Barangkali dari upacara inilah, ummat Kristen mengadaptasi penyalaan lilin-lilin dan lampu Natal. Jadi, tidak usah curiga dulu bahwa ritus-ritus Natal itu asalnya dari paganisme, meskipun kita tidak mengecilkan makna kontekstualisasi yang dalam pada agama apapun di dunia ini.

Kedua, secara umum biasanya pada musim dingin, maka gembala tidak menggembalakan domba-dombanya di padang. Ya, ini kan pada umumnya. Apa di dunia ini tidak pernah terjadi waktu-waktu yang khusus? Jawabnya: Ya, tentu saja pernah terjadi. Jadi, biasanya memang pada bulan Tebeth/Desember curah hujan sangat besar. Orang-orang akan menggigil kedinginan bila berada di luar. Tapi, ternyata tidak selamanya pada bulan Tebeth turun hujan. Nah, kalau saya berkata ada yang luar biasa, supra-Natural, pasti saya akan diejek tidak ilmiah. Tapi saya berbicara berdasarkan bukti. Dalam Talmud, Ta’anith 6b, saya membaca: "Tahun baik dalam bulan Tebeth (Desember) tidak turun hujan". [5] Apa maksud-nya? Ya, memang pernah terjadi "salah mangsa, salah musim". Dalam hubungan dengan itu, Talmud malah secara eksplisit mencatat bahwa pada musim dingin: "domba-domba digembalakan di padang". Untuk lebih mantabnya, saya kutip bahasa Ibraninya: alu hen midbariyot. The flocks which pastured in the wilderness. [6] Kini saya mau bertanya, "Apakah tidak masuk akal apabila kita berfikir bahwa pernah ada waktu yang disiapkan secara khusus oleh Allah: suasana ramah, hari baik dan cuaca yang bagus?". Kelahiran Messiah sendiri, Putra Allah yang lahir dari seorang perempuan Yahudi di Palestina itu terjadi: Fa lama tamma al-Zaman. "When the fullness of the times had come" (Galatia 4:4). Ya, mungkin penafsiran saya ini terlalu jauh. Tapi begitulah saya haqqul yaqin, mengimani misteri Ilahi. Kesimpulan saya, sekali lagi tidak ada yang janggal dengan kelahiran Sayidina Almasih pada bulan Tebeth/ Desember, sebagaimana yang ditetapkan dalam hitungan liturgi Gereja selama ini.

Catatan kaki:

1. Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" ini mempunai makna penting dalam pengharapan Mesianik Yahudi. Tempat itu letaknya antara Bethlehem menuju ke Yerusalem, dan itu bukan padang biasa seperti yang saya buktikan dalam tulisan ini.
2. Alfred Edhersheim, The Life and Times of Jesus The Messiah (Hendrickson Publisher, 1995), pp. 130.
3. Ibid, p. 131.
4. William Wiston, A.M. (ed.), The Works of Flavius Josephus (Philadelpia: J.B. Lippicott & Co, 1872), p. 421.
5. Alfred Edersheim, Loc. Cit.
6. Alfred Edersheim dalam bukunya juga mengutip hasil penelitian Dr. Chaplin, Palestinian Exploration, Januari 1883. Rata-rata pada pertengah-an bulan musim dingin di Palestina, curah hujan mencapai 4.718 inci pada bulan Desember, 5.479 inci pada bulan Januari, dan 5.207 inci pada bulan Pebruari. Jadi sangat dingin. Tetapi pernah terjadi pada tahun 1876-1877 kita mendapatkan angka-angka yang mengejutkan: 0.490 inci pada pertengahan Desember, 1.595 inci pada bulan Pebruari, dan 8.750 pada bulan Pebruari. Jadi, bukan mustahil keterangan Talmud: "Tahun yang baik dalam bulan Tebeth tanpa Hujan", terjadi pada saat kelahiran Yesus (Ibid).
 
Sumber: Noorsena, Bambang, Renungan-renungan Idul Milad (Natal) di Tanah Suci Israel/Palestina, [Malang: Studia Syriaca Orthodoxia,1999], pp. 37-41

[kini, setelah melalui proses yang berliku dan panjang, rekan-rekan saya tersebut bisa mengerti dan sudah meninggalkan agamanya yang lama...]
silahkan menuliskan komentar dengan dengan penuh tanggungjawab tanpa caci maki atau akan langsung dihapus...




Thursday, May 16, 2013

OBROLAN RINGAN BEJO – BEJAN [2] (sambungan dari obrolan ringan bejo – bejan 1)




(...karena ini merupakan artikel bersambung, maka untuk memahami artikel “obrolan ringan bejo – bejan 2” ini, sangat disarankan dan anda harus membaca artikel “obrolan ringan bejo – bejan 1, ini untuk memudahkan pembaca, terimakasih_penulis).

“...you omong begitu mudah....you juga mesti tahu bila aku meninggalkan islam maka aku diancam dibunuh atau paling ringan dikucilkan atau diusir dan tidak diakui pihak keluarga lantaran darahku halal ditumpahkan...you pasti tahu itu hadist sahih yang menyatakan demikian...juga di ayat mana aku juga ndak perlu omong ke kamu....karena aku yakin you juga sudah tahu...”, demikian B berucap lirih...

“you tahu...aku ndak mintak you menjadi murtadin...inget kata-kataku ini..sekali lagi, aku tidak mintak you menjadi murtadin...tapi...you mesti pikir baik-baik....dan silahkan putuskan sendiri...kalaupun you nanti murtad...itu adalah keputusan you...karena you tidak sendirian....percayalah....ada jutaan muslim yang sedang mengalami kebimbangan macem you orang...dan telah siap bikin keputusan...”, begitu L menimpalinya.
“cukuplah...bener yang you omong tadi....di surah 43 ; 61 – 63, memang persis yang you omong...ini aku lagi buka di BB...dan memang mengatakan begitu...”, jawab B semakin perlahan.

Mendapat jawaban demikian, L lantas mendekati temen karibnya tersebut menepuk pundaknya dan mengatakan, “...sorry... sudah jam lima kurang seprapat, aku mesti jemput anakku les..dia selesai les jam lima...ini kartu namaku, you bisa telepon kapan saja...aku tinggal tidak jauh dari sini...tapi mumpung you masih buka you punya BB...coba you buka sekalian surah 6 ; 90 terusin ke surah 21 ; 7......you pasti akan lebih jelas lagi...sampe ketemu ya...”, kemudian L bergegas meninggalkan B yang hanya bergumam dan mengangkat tangannya dan ia kelihatan bengong dan termangu...namun nampak ia dengan perlahan membaca surah 6 ; 90, “..Mereka(pengikut Almasih Isa) telah menerima bimbingan Alloh menuju Jalan Lurus. Ikutilah petunjuk mereka..!!”, begitu membaca ayat ini, nampak degub jantung B semakin cepat, dan seolah tidak percaya, ia bolak balik membaca ayat tersebut berulang-ulang....namun tetap saja, ayat tersebut dibaca dengan kalimat yang sama persis dan tidak berubah..!! Ia nampak semakin gusar dan tengok sana-tengok sini...lantas ia masih sempetin buka surah 21 ; 7, dan membacanya tanpa mengeluarkan suara, namun ia kembali tengok kana-tengok kiri matanya seolah mencari L, mencobanya lagi sambil berdiri...namun ia tidak melihatnya lagi...lantas ia duduk lagi dan membaca ulang ayat terakhir yang ia buka tadi dan perlahan-lahan membacanya dengan bergumam, ”...tanyakan pada ahlul kitab(umat kristen) jika kamu tidak percaya akan hal ini...”.

Nampak ia semakin gusar dan mencoba membaca ulang semua ayat yang disarankan temen lama-nya yang baru dijumpainya barusan.....berkali-kali ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunjukkan wajah yang penuh keheranan....bagaimana mungkin temen karibnya yang kristen tersebut bisa begitu banyak tahu tentang Alquran yang dia sendiri bahkan tidak mengetahui sebelumnya semua yang dikemukakan L barusan....ini semua mengagetkanya dan ia tetap tidak habis pikir, kenapa kristen boleh membaca Alquran sedangkan dia sendiri dan umat islam lainnya diharamkan membaca Injil walaupun diwajibkan mengimani Injil...

Apa yang baru saja dialaminya ini tetap saja tidak membuatnya habis pikir... kenapa selama ini ustadz yang mengajarinya tidak pernah mengungkapkan semua hal ini... ia semakin penasaran....dan sambil berdiri meninggalkan mejanya ia bergumam, “...berarti sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengikuti Almasih Isa alias Yesus yang disembah umat kristen...dan temenku ini bener...aku mesti mengontak dia secepatnya....”. 

Begitu sampai parkiran ia lantas bergegas menuju mobilnya dan segera meninggalkan mall tersebut lantas menceburkan diri berkutat dikemacetan jalanan.... Namun ia tetap tidak tenang dan gusar, pikirannya tetap tertuju pada temen lamanya L, sambil nyetir ia bolak-balik memencet nomor hp L namun tidak ada jawaban...dicoba lagi berulang-ulang dan tetap idem-ditto....semua ini justru menambah kegelisahannya... (BERSAMBUNG KE OBROLAN RINGAN BEJO – BEJAN 3).