Sekali Lagi, Bukti Dan
Fakta Kronologi Sejarah Yang Keliru Dalam Alquran
(nabi) Muhammad seperti yang terekam
dalam Alquran ternyata tidak mampu membedakan antara Maria Ibu biologis Almasih
Isa dengan Miriam yang adalah saudara Harun dan Nabi Musa yang perbedaan
kelahiran keduanya dipisahkan jarak waktu selama lebih dari 16 abad..!!
Bacalah fakta sejarahnya di
bawah ini.....
Kebingungan (nabi)Muhamad dan
Alquran akan fakta sejarah tidak dapat disangkal lagi, betapapun para sarjana
muslim hingga kini masih dan terus berusaha mati-matian sampai jungkir balik
berusaha untuk membelanya dengan dalil-dalil yang mereka buat, namun apa yang
mereka lakukan justru semakin bikin penyesatan ajaran islam menjadi kian
bertambah dalam. Contoh satu lagi yang
merupakan kebingungan Muhammad dan Alquran akan fakta sejarah adalah kronologi
Alkitab tentang Maria Ibu biologis Almasih Isa.
Tampaknya Muhamad telah dikelabui
oleh orang-orang Mandaea yang disebut juga orang-orang Sabi/Sabean/Sabiin sehingga Muhamad-pun akhirnya ikutan menganggap Maria
ibu biologis Almasih Isa sama dengan Miriam saudara perempuan Harun dan Nabi Musa
yang disebut-sebut dalam Alkitab dan parahnya lagi Muhamad tanpa sadar telah terjebak
bahkan memasukkan kisah ini sebagai ayat suci dalam Alquran..!!
Maria ibu biologis Almasih Isa
dalam bahasa Arab disebut dengan nama Miriam, sehingga nama ini menjadi sama
dengan nama Miriam saudara perempuan Harun dan Nabi Musa (baca kitab Bilangan
26:59), dan
disinilah letak pangkal kebingungan Muhamad. Dalam, Surah Maryam (19), ayat 28, tercantum ; “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali
bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina".
Melalui kitabnya,
Muhammad merasa perlu menekankan dan ingin menyatakan bahwa Maria ibu biologis Almasih
Isa adalah tokoh(pribadi) yang sama dengan Miriam saudara perempuan Harun dan Nabi
Musa. Untuk menekankan maksud tersebut hal ini bahkan sampai diulang kembali di
Surah lain di mana Muhammad beranggapan bahwa Yokhebed, istri Amran(ayah Miriam,
Harun dan Nabi Musa), mengamanatkan kepada Maria ibu biologis Almasih Isa ketika
baru lahir.
Beginilah isi Qur‘an, Surah
al-Imran(3), ayat 35-36 ; “(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku
menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat(di Baitul makdis). Karena itu
terimalah(nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia
pun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak
perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu ; dan anak
laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai
dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya
kepada(pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk."
Demikian Muhammad menyatakan dalam
ayat Qur'an di atas, padahal semua orang tahu bahwa Miriam saudara Harun dan
putri Amran lahir di akhir abad ke 16 SM, sedangkan Maria ibu biologis Almasih Isa lahir
sekitar tahun 26-20 SM.
Kebingungan Muhammad akan
sejarah adalah karena keterangan yang
ngawur dari orang-orang Mandaea, yang datang pertama kali di Mesopotamia pada
abad 2 SM. Orang-orang Mandaea ini dikenal di Arab sebagai orang-orang Sabi/Sabean/Sabiin.
Muhammad sangat mengenal ajaran mereka, dan kadang kala dia pun disebut
sebagai orang Sabi oleh masyarakatnya sendiri karena Muhamad mempraktekkan
tatacara ibadah Sabi, seperti sholat lima waktu, wudhu sebelum sholat seperti
yang dilakukan orang-orang Mandaea Sabi, melakukan gerakan sholat yang sama
seperti orang Sabi.
Orang-orang Mandaea mengira
bahwa Maria ibu Almasih Isa adalah saudara Musa dan Harun. Fakta tak terbantahkan ini tercatat dalam buku mereka yang berjudul ; “Haran Gawaita”, yang ditulis
di abad 3 SM, kita dapat baca di buku itu bahwa ; “Almasih Isa ditempatkan di dalam rahim Maria, putri Musa.
Dia disembunyikan dalam kandungannya selama sembilan bulan. Ketika sembilan
bulan telah berlalu, Maria bersalin dan melahirkan sang Messiah” [1].
Muhammad disebut sebagai orang
Sabi oleh orang-orang Mekah. Buktinya , setelah dia kembali dari salah satu
dakwahnya, dia merasa haus. Teman-teman-nya bertanya pada seorang wanita yang membawa
kantung air untuk memberi air pada Muhammad. Wanita itu bertanya, “Di
mana?”Mereka menjawab, “Pada nabi Alloh.” Wanita itu lalu menjawab, “Pada orang
yang disebut orang Sabi itu?” Mereka menjawab, “Tepat, kepada orang yang kau
sebut orang Sabi itu”. Wanita itu kembali ke Mekah dan berkata, “Dua pria yang
bertemu denganku membawa aku menemui orang Sabi” [2].
Kita lihat bahwa Muhammad dikenal masyarakat Mekah
sebagai orang Sabi, dan mereka menyebut
pengikut Muhammad sebagai Sabi Muhammad pula [3]. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa orang-orang Arab di jaman Muhammad mengetahui dengan
baik orang-orang Sabi, dan juga
tata cara ibadah dan ajaran agamanya. Mereka tahu dekatnya hubunganMuhammad
dengan sekte Sabi di Mekah, sehingga ketika Muhammad menyatakan agama barunya,
masyarakat Mekah mengira agama itu muncul dari kaum Sabi yang hidup diantara
mereka.
[1] Haran Gawaita ,Citta del
Vaticano, Biblioteca Apostolica, hal. 3
[2] Al-Bukhari, (Dar al-Kutub al-Ilmiyeh, Beirut-Libenon), 1:89.
[3] Ibn al-Athir,al-Kamel Fi al-Tarikh, 2: hal.
86;Tarikh al-Tabari 1, hal. 126 ; Al-Asbahani, Al Aghani
17, hal.15-17.
Ketika Hasin, ayah dari seorang
muslim bernama Umran, jadi muslim, suku Quraysh
menyebutnya sebagai “Saba”[4] yang
berarti dia beralih agama dan memeluk agama Sabi.Ketika Hamzah, paman Muhammad, masuk mesjid untuk mendukung Muhammad,
orang-orang Mekah berkata padanya, “Kami lihat kau sudah menjadi orang
Sabi”. [5]
Abu Lahab, pamanMuhammad yang menentangnya, menyebut Hamzah sebagai “Orang Sabi
yang bodoh.” [6]
Semua fakta sejarah ini menunjukkan
bahwa suku Quraish menggolongkan Muslim sebagai umat sekte Sabi.
[4] Halabiyah, (Dar al-Maarifah, Beirut-Lebanon), 1, hal. 456.
[5] Halabiyah 1, hal. 477.
[6] Halabiyah 1, hal. 508
[7] Ibn al-Athir,al-Kamel Fi
al-Tarikh, 2, hal. 86.
Tidak hanya masyarakat Quraysh
saja yang menyatakan begitu, tapi suku-suku Arab lainnya juga.Pria bernama
Labid pergi mengunjungi Muhammad dan dia menjadi Muslim. Dia kembali kesukunya
yakni Bani Amir, dan melakukan wudhu. Wudhu merupakan tatacara ibadah umat Sabi.
Dia pun mengucapkan slogan-slogan Sabi seperti “Allahu Akbar”.
Labid mulai nungging dan bersujud seperti
orang Sabi, sholat seperti cara Sabi, dan mengucapkan Fatihah seperti Sabi. Semua aturan sholat yang dikenal orang-orang Arab sebagai tata cara ibadah
Sabi masuk ke dalam ajaran Islam hingga kini.
Sirafa bin Auf bin al-Ahwas, penyair suku Bani Amir, melihat Labib bersholat gaya Sabi dan mengejeknya melalui
puisinya dengan mengatakan Labid sebagai “orang yang datang pada mereka dengan agama Sabi”[7].
Bila sudah begini, bukankah klaim muslim bahwa Quran
sebagai kitab yang di-copy dari kitab yang disimpan di lauhul-mahfudz batal
dengan sendirinya...?
Lantas tatacara dan semua gerakan sholat mereka yang
ternyata meniru ibadah orang Sabiin, saya malah hanya bisa mengelus dada
ini....
*(artikel ini di kutip dari alamat web yang lain)