Thursday, July 4, 2013

GELORA BIRAHI (nabi) MUHAMAD YANG MEMBARA TERHADAP KEMOLEKAN MENANTUNYA


[Sebuah episode kisah panutan dari nabi besar Muhamad yang layak dan patut dicontoh oleh kita muslim....]
Syahdan, nabi besar junjungan kita Muhammad memiliki menantu perempuan belia yang teramat sangat cantik yang bahkan goyangan pinggulnya sewaktu berjalan bikin gempor dan tidak berdaya para lelaki hidung belang manapun bahkan termasuk nabi besar junjungan kita ini. Perempuan menantu sang nabi besar yang kerling matanya konon bahkan sanggup meruntuhkan bulan ini bernama Zainab Binti Jash yang adalah istri dari anak angkat Muhammad sendiri yang bernama Zaid Bin Mohammed!!.

Cerita bermula pada suatu pagi yang cerah, dan entah ngimpi apa semalem, atau ini memang alasan klise bagi lelaki hidung belang manapun, ketika itu Muhammad sengaja secara sembunyi-sembunyi berjalan untuk berkunjung dan masuk ke rumah menantunya yang semlohai tersebut dengan alasan untuk mencari Zaid yang kebetulan banget(mungkin Muhamad memang sudah tahu sebelumnya kalau Zaid tidak berada dirumahnya)dia tertegun dan hanya bisa menelan ludah begitu melihat lekuk liku body Zainab yang baru bangun tidur yang tentu saja dalam kondisi setengah telanjang..... dan entah setan mana  yang merasukinya, Muhammad bukannya memalingkan muka karena malu, namun nabi besar panutan kita yang terkenal bijaksana ini malah bergetar kakinya hingga pinggang dan keluar keringat dingin serta terpaku ditempat dia berdiri tapi lama-kelamaan malah nampak begitu senang sekali dan justru sangat menikmati pemandangan yang langsung membangkitkan dan membakar gelora birahinya ini...... [lanjutan kisahnya sungguh sulit ditelaah dengan akal sehat siapapun, karena ternyata nabi besar junjungan kita yang bijaksana ini justru gelora birahinya semakin membara terhadap menantunya sendiri dan begitu kebelet ingin segera menuntaskan nafsu binatangnya bahkan ingin menjadikannya bini...!!]

Sumber :
Lings, halaman 341 – 342 :
Suatu hari, nabi pergi kerumah Zaid …. Ketika beliau datang Zaid sedang tidak ada di rumah. Zainab, karena tidak menyangka akan ada tamu diwaktu-waktu tersebut,sedang berpakaian seadanya. ….. Zainab lari kepintu tanpa mengenakan alas kaki untuk mempersilahkan nabi masuk dan menunggu hingga suaminya kembali. “Dia sedang tidak ada hai Rasulullah” katanya, tetapi demi bapak dan ibuku, silahkan masuk”. Saat Zainab berdiri dipintu, ia tampak berseri-seri dan riang gembira, dan nabi kagum oleh kecantikannya’.

Abbas Jamal, halaman 55
Tapi apa lacur, sedang baginda nabi mengucapkan asalamu’alaikum sebagaimana lazimnya berliau bertamu, maka yang menjawab adalah Zainab istri Zaid yang dalam keadaan sedang terburu-buru membetulkan pakaiannya yang belum sempurna terpakai. Tentu saja hal ini berakibat tampaknya sebagian aurat Zainab oleh Rasulullah… Setengah riwayat menyatakan bahwa Zainab dalam keadaan berpakaian tipis ……

Atau dari cerita Muhammad Ibn Yahya Ibn Hayyan,
“Rasul datang ke rumah Zaid Ibn Harith mencarinya. Mungkin rasul tak menjumpainya saat itu, itu sebabnya dia bertanya, “Dimana Zaid?” dia masuk rumah mencarinya dan, saat tidak menemukannya, Zainab Binti Jahsh berdiri untuk menemuinya dengan memakai baju tipis yang memperlihatkan kemolekan tubuh Zainab, Ketika mata rasul menatap keindahan tubuh Zainab, dia berkata, “Fa tabarak Allah ahsan al khaleqeen (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) yang mengubah hati tiap laki2” Zainab kemudian berkata, “Dia tidak disini, rasul, masuklah, ayah dan ibuku adalah tebusannya.” Rasul menolak masuk. Zainab lantas memakai baju ketika mendengar rasul ada dipintu, lantas meloncat dan rasul menyukainya ketika dia meloncat itu. Hati sang rasul dipenuhi oleh kekaguman(gelora seks) akan Zainab.

Ketika Zaid pulang, Zainab memberitahukan suaminya bahwa rasul mencarinya. Zaid bertanya, “kau menyuruhnya masuk tidak?” dia menjawab, “aku tawarkan, tapi dia menolak.” Dia bilang, “apa kau dengar dia bilang sesuatu?” Jawabnya, “kudengar dia berkata sesuatu tapi yang kumengerti hanya: Terpujilah Tuhan yang mengatur hati tiap laki-laki”. Zaid menemui rasul dan berkata, “O rasul, kudengar kau datang kerumahku. Apa kau masuk? Mungkin kau menyukai Zainab. Aku bisa saja meninggalkannya.” Rasul berkata, “pertahankanlah istrimu.” Zaid berkata, “O rasul, aku akan meninggalkannya.” Rasul berkata, “pertahankan istrimu.” Jadi ketika Zaid meninggalkan istrinya, Zainab selesai masa mensnya setelah dia mengasingkan dirinya dari Zaid. Sementara rasul duduk dan bicara dengan Aisyah, dia lalu kerasukan, dan ketika berdiri, dia tersenyum dan berkata, “Siapa yang akan pergi ke Zainab memberitahukannya bahwa Tuhan menikahkannya padaku disurga?” Rasul membaca (QS 33:40): “Jadi kau katakan pada seseorang yang Tuhan senangi dan mereka yang kau sendiri senangi: pertahankan istrimu.” Aisyah berkata, “Banyak kudengar tentang kecantikannya dan yang terlebih lagi, tentang Alloh menikahkannya disurga, dan kubilang, “Pasti dia membanggakan diri mengenai ini pada kita.” Salama, budak dari rasul, cepat2 memberitahunya tentang ini. Dia memberinya beberapa perhiasan perak yang dia pakai.”

Dari cerita diatas kita dapat melihat bahwa Zainab bukanlah seorang istri yang jinak, Zainab begitu bangga karena Rasulullah tertarik padanya, oleh karena itu ia menceritakan peristiwa itu kepada suaminya dan Zaid yang memang menganggap Muhammad seperti Tuhan, akhirnya dengan bangga mempersembahkan istrinya pada Muhammad dengan menceraikannya.

Dalam budaya Arab, menantu wanita bagaikan anak perempuan sendiri, tidak peduli apakah dia itu istri dari anak angkat atau anak kandung. Kabar sang Nabi tertarik pada istri anaknya sendiri membuat masyarakat Medinah bertanya-tanya. Ini benar-benar tabu dalam budaya Arab sebelum islam. Karena itulah setelah Zaid menawarkan Zainab pada Muhammad, sang rasul yang pada awalnya telah bergairah pada Zainab mulai berpikir bagaimana mengatasi pertanyaan-pertanyaan masyarakat Medinah. Ah, gampang, kan ada Alloh. Kemudian diturunkanlah ayat berikut;

Sura al-Ahzab Q.33: 40:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Sura al-Ahzab Q.33: 37:
"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Mendengar ayat-ayat diatas, Aisha yang saat itu berumur sekitar 14 tahun mulai merasa gelisah, karena bertambah lagi saingannya, apalagi Zainab sangatlah cantik, bahkan buku disurga telah menuliskan pernikahan Muhammad dan Zainab ini. Aisyah berpikir bahwa Zainab akan membanggakan dirinya, karena ialah satu-satunya istri yang dinikahkan disurga oleh Allah. Dikemudian hari kekhawatiran Aisyah terbukti, istri-istri Muhammad terpecah menjadi 2 kubu, yaitu kubunya Aisha, Saudah, serta Hafsa sebagai istri-istri awal, berhadapan dengan kubunya Zainab dan Umm Salama dan istri-istri lainnya.

Karena peristiwa Muhammad ingin menikahi istri dari anak angkatnya ini, maka tradisi adopsi anak yang dahulu sering dilakukan untuk membantu anak-anak yatim tidak diperbolehkan lagi. Muhammad merubah adopsi yang bertujuan mulia tersebut menjadi terlarang. Kemudian dengan begitu ia juga memperbolehkan siapa saja untuk menikahi istri anak angkatnya, para wanita yang seharusnya dianggap sebagai anaknya sendiri.

Bagaimana cara pembela Islam untuk mempertahankan kisah ini agar tampak religius?

Muhammad Husain Haikal, misalnya, dalam rangka menyangkal pernyataan V. Vacca dalam ensiklopedi Islam mengenai Zainab, berkata mengenai “perbuatan mulia” dari Muhammad, yang oleh para orientalis diubah menjadi kisah romans. Dia berkata, “Mengenai Zainab binti Jahsh, yang dibuat oleh para orientalis menjadi sebuah khayalan romans dan percintaan, Sejarah yang sebenarnya mempertimbangkan bahwa itu (pernikahan Muhammad dengan Zainab) adalah salah satu perbuatan mulia dari Muhammad. Dengan menjadi contoh iman yang sempurna, dia terapkan pada Zainab sebuah hadist yang mengatakan, “Iman seorang lelaki belumlah sempurna hingga dia cinta pada saudaranya seperti dia cinta untuk dirinya.”

Para pembela ini menyimpulkan bahwa itu adalah satu dari banyak segi hebat dari kepribadian Muhammad. Bukti yang menjawab semua pertanyaan bahwa Muhammad adalah contoh yang sempurna bagi hukum yang dia bawa khususnya jika hukum itu ditujukan untuk mengganti tradisi dan kebiasaan orang-orang Arab sebelum Islam. Muhammad adalah contoh dari sistem baru yang Tuhan tampilkan melaluinya sebagai rasa sayang dan petunjuk bagi umat manusia.

Dilain pihak, kebiasaan dan tradisi Arab menuntut bahwa anak adopsi / angkat mendapat warisan dari ayah angkatnya, sama seperti anak-anak kandungnya. Dan karena kebiasaan ini juga menjadi objek dari serangan Muhammad, pilihannya akan Zaid menjadi ujung tombak dari reformasi pertamanya, yang akhirnya menjadikan dia, jika dia siap untuk melepaskan warisan yang mana kebiasaan Arab mengharuskannya, ujung tombak dari undang-undang pelarangan waris kecuali bagi yang sedarah dari turunan dan keluarga yang meninggal. Hal ini tentu saja melengkapi wahyu: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.33: 36)”

Yang menjadi pertanyaan adalah logiskah Allah mengirim Jibril untuk membenarkan skandal Muhammad, yang jelas-jelas tabu dimata masyarakat Arab sendiri?

Bukankah ini hanya akal-akalan Muhammad saja, ketika ia bernafsu melihat kemolekan tubuh Zainab dan ingin memiliki wanita tersebut?

Bukankah Allah seharusnya bermoral mulia, namun melarang adopsi bukalah sebuah tindakan yang bermoral. Melarang minum alkohol, berzina, judi, sihir, membunuh dll, bisa jadi sebuah tindakan bermoral. Tapi kenapa melarang adopsi?

Jawabnya karena Allah bukanlah Tuhan, ia hanyalah boneka Muhammad.

Dimalam pernikahan Muhammad dengan Zainab ini, sang rasul mengadakan pesta dan mengundang beberapa sahabat. Berikut kisahnya;

Sahih Bukhari Book 60, Number 314:
Diriwayatkan Anas bin Malik; Ketika Rasulullah menikahi Zainab bint Jash, beliau mengundang orang-orang untuk makan. Merekapun makan-makan sambil duduk dan mengobrol. Lalu rasul memberi tanda bahwa ia telah siap untuk berdiri (dengan tujuan untuk menyuruh mereka pulang), namun mereka tetap saja masih duduk. Ketika rasul melihat orang-orang tidak merespon tindakannya, ia kemudian bangkit berdiri dan keluar, lalu orang-orang juga beranjak dari duduknya, kecuali 3 orang yang masih tetap duduk. Rasulullah kembali masuk, namun langsung keluar rumah lagi. Melihat itu tiga orang tersebut akhirnya pergi, aku kemudian bilang pada rasul bahwa orang-orang tadi telah pergi, rasul lalu melangkah untuk memasuki rumahnya. Aku berniat masuk kerumah bersama rasul, namun beliau menurunkan tirai diantara aku dan beliau. Kemudian Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki…. (QS 33:53).”

Sahih Muslim No.2565
Diriwayatkan Anas bin Malik, ia berkata: Aku menghadiri pesta perkawinan Zainab, di mana Rasulullah membuat orang-orang merasa kenyang memakan roti dan daging dan beliau juga mengutusku untuk mengundang orang-orang. Setelah acara walimah selesai, beliau berdiri dan beranjak dari tempatnya, dan aku mengikutinya. Pada saat itu masih ada dua orang tamu laki-laki yang belum keluar karena mereka masih asyik berbicara. Nabi lalu melewati beberapa istrinya yang lain. Beliau mengucapkan salam kepada mereka masing-masing(tamunya) lalu bertanya: Bagaimana keadaan kalian semua, wahai anggota keluarga? Mereka menjawab: Baik, wahai Rasulullah. Mereka balik bertanya: Bagaimana dengan keadaan keluargamu? Beliau menjawab: Baik. Setelah selesai beliau kembali dan aku pun ikut kembali. Sesampai di pintu, dua orang tamu laki-laki yang masih asyik berbicara tadi masih ada, namun begitu melihat Nabi kembali mereka cepat-cepat berdiri dan terus keluar. Demi Allah, aku tidak tahu apakah aku yang telah memberitahukan beliau bahwa mereka telah keluar atau wahyu telah turun kepadanya. Sementara aku terus saja mengikuti beliau. Namun begitu kakinya menginjak ambang pintu, segera saja beliau menurunkan kain tirai sehingga aku terhalang dari beliau. Lalu Allah menurunkan ayat berikut ini: Janganlah kamu memasuki rumah Nabi kecuali kamu sudah mendapatkan izinnya.

Ini ayat yang diucapkan nabi kita tersebut;

Sura al-Ahzab Q.33: 53:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Untuk apa Allah mengeluarkan ayat sepele ini? Yaitu untuk memenuhi keinginan Muhammad.

Saat itu gelora birahi malam pertama Muhammad begitu telah membara terhadap mantan menantunya  tersebut sudah tak tertahankan lagi.
Muhammad telah berkali-kali memberikan kode agar para tamu undangan segera pulang, tapi masih saja ada DUA TAMU dan ANAS yang ngeyel tak mau pulang. Muhammad bahkan mengulangi kodenya, akhirnya kedua tamunya pun pulang. Hasrat birahinya sudah semakin membara, namun Anas masih saja ingin bersama rasul. Muhammad akhirnya menempuh cara terang-teranganan untuk mengusir Anas dengan cara menutup tirai di antara mereka berdua. Tapi karena Anas ternyata masih berada dibalik tirai dan tak pulang-pulang juga, terpaksa Muhamad atas nama Alloh ngeluarin JURUS PAMUNGKAS dengan menurunkan ayat-ayat Alloh tersebut diatas.... semata agar nabi besar junjungan kita yang gila seks ini segera dapat menuntaskan gelora birahinya yang sudah tidak tertahankan dengan menantunya....

Friday, June 28, 2013

SIAPA ALLOH, DEWA BULAN DAN DEWA BINTANG


Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan sebuah majalah terkenal terbitan Jakarta belasan tahun yang lalu, seorang artis cantik ibukota(baca ; Indonesia) berdarah Eropa Timur yang diketika itu sedang naik daun yang sempat menjadi ikon iklan sabun merek terkenal, menyatakan bahwa ia menjadi “muallaf” justru ketika ia sedang kuliah di Australia. 

Lantas dalam wawancara tersebut ia berkisah bahwa ke-murtad-anya tersebut dimulai ketika ia sedang duduk-duduk di balkon rumah pondokan di deket kampusnya di malam hari yang nampak cerah dan ia menebarkan pandangannya sekeliling dan ia merasa “tertegun” ketika menyadari yang dilihatnya adalah sebuah pemandangan yang menurutnya begitu luar biasa. Pandanganya malam itu terfokus pada sebuah puncak kubah masjid yang di puncaknya dihiasi lambang “bulan-bintang” yang minturut pengakuannya saat itu seolah memancarkan cahaya akibat pantulan sinar rembulan di malam itu begitu damai dan indah...

Sejak saat itu ia menyatakan selalu gelisah, karena ia telah menyangka bahwa ; pemandangannya tersebut merupakan sebuah “panggilan alam” bahwa orang-orang yang beribadah di dalamnya pastilah orang baik-baik dan tidak mungkin akan “neko-neko” karena memiliki lambang yang begitu teduh dan indah dan damai... Dan sejak saat itu dia menyatakan menjadi muslim dan mulai belajar islam dari berbagai sumber dan rekan-rekan muslimnya.

Namun, benarkah anggapannya tersebut??

Inilah sejarahnya, mengapa setiap masjid memiliki lambang bulan-bintang di atas kubahnya.

Menurut Quran, Tuhan Yang Maha Esa sendirilah yang menamai diri-Nya Allah.
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, Maka Sembahlah Aku” (QS 20 : 14).

Dalam QS 19 : 65 Tuhan bertanya : “Hal Ta’lamu Lahu Samiyyan”.

Ayat ini dipahami oleh ulama2 Islam dengan makna: Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti ini? Atau Apakah engkau mengetahui sesuatu yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagaimana Pemilik nama itu (Allah)? Atau bermakna Apakah engkau mengetahui ada nama yang lebih agung dari nama ini? Juga dapat berarti Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Mungkin Muhammad sewaktu menulis ayat tersebut tidak mengetahui bahwa berabad2 sebelumnya kata Allah telah digunakan oleh orang Hindu India untuk menamai Tuhan mereka. Kata yang sama yang digunakan nenek moyang Muhammad untuk menyebut tuhan mereka.

Kata “ALLAH” sebenarnya telah ada jauh sebelum munculnya Islam. Kata ini diambil dari sebutan sansekerta untuk Dewi Dhurga (dewi bulan-Allah).

Dan nama “Allah” ini sebenarnya juga terdapat dalam Kitab Suci Hindu yaitu Rigveda Book 3 Hymn 30 V. 10 dan Rigveda Book 9 Hymn 67 V. 30.

Kata Allah memang diyakini diambil dari bahasa sanskerta, namun “wujud” Allah yang ada pada jaman Muhammad bukanlah Dewi Durga. Hal ini dikarenakan percampuran kepercayaan Hindu India, dengan kepercayaan2 lain yang memang asli dari Jazirah Arab tersebut. Untuk jelasnya kita simak penjelasan berikut.

Beberapa pengkritik islam mengatakan bahwa Allah dalam Islam adalah Dewa Bulan. Ini tidak Benar! Penulis yang lain mengatakan bahwa Allah dalam Quran berasal dari dewa bulan pada masa sebelum Islam. Ini mungkin benar! Kebenaran yang tak dapat disangkal adalah: konsep Allah dalam Quran berhubungan dengan penyembahan dewa bulan, dan secara tidak langsung terhadap dewa bulan itu sendiri sebagai objek penyembahan pada masa sebelum Islam. Lebih dari itu, pusat penyembahan dewa bulan pada masa sebelum Islam sama dengan tempat pusat ibadah haji pada masa kini yaitu Kabah di Mekah. Hampir semua ritual keagamaan Islam pada masa kini sama dengan semua ritual pada masa sebelum Muhammad, masa dimana Arab masih menyembah dewa bulan.

Satu hal yang pasti, fakta yang tidak dapat dibantah adalah; bahwa penyembahan kepada dewa bulan tersebar luas di seluruh daerah Arab pada masa sebelum Muhammad.
Yusuf Ali seorang Penulis Islam menyatakan dalam Al-qur'an terjemahan Inggrisnya di halaman 1621-1623:

"Penyembahan dewa bulan sangat terkenal dalam bentuk penyembahan yang beragam...dewa bulan adalah dewa laki-laki pada masa India kuno. Dewa bulan juga merupakan dewa laki-laki dalam agama Semiric kuno, dan kata Arab untuk bulan "Qamar" dalam bentuk maskulin. Dengan kata lain, kata Arab untuk matahari "shams" dalam bentuk feminim. Penyembah berhala di Arab nampaknya memandang matahari sebagai seorang dewi dan bulan sebagai seorang dewa laki-laki.

Di halaman 1644 footnote no 5798, dia menjelaskan mengapa "Allah" bersumpah atas nama Bulan dalam Sura 74:32, dalam footnote dia menjelaskan, "Bulan disembah sebagai dewa pada masa kegelapan".

Dalam bagian berikutnya, kami akan menjelaskan lebih rinci bagaimana berkembangnya, atau meluasnya kultus penyembahan berhala di Timur tengah pada masa Muhammad. Kita mulai dari Utara, kemudian ke Medina dan Mekah.

• Mesopotamia
Penyembahan dewa bulan sepertinya mulai di daerah Mesopotamia, dimana dewa bulan disebut dengan nama "Sin" atau kadang-kadang "Nanna". Dikatakan bahwa "Sin adalah dewa pertama dari tiga dewa penting di agama Astrai (perbintangan): Sin, Dewa bulan, Shamash-dewa matahari, dan Ishtar-dewa planet Venus. Simbol utama dalam penyembahan dewa bulan adalah BULAN SABIT, symbol ini ditemukan diseluruh daerah Timur Tengah kuno, dimana ada penyembahan dewa berhala, dengan sebutan apapun juga. Ini ditemukan di daerah penemuan Arkeologi di Arab, Akkad, Kanaan, Mesir dan Siria. Biasanya ditemukan dengan simbol bintang di tengah lingkaran bulan sabit, meskipun tidak selalu, symbol bintang itu adalah bintang fajar, Venus. Orang Assyirian menyembah dewa bulan. Replica perunggu berbentuk bulan sabit (dibuat untuk ditaruh diatas tiang bendera), telah ditemukan sebagai contoh dari daerah Arkeologi di TelTerra. Stratum VI. Replica itu terkubur di benteng kuno Assyrian. (Keel, p297-29S)

Arkeolog yang bekerja di daerah dekat Hazor dari tahun 1955-1958 menemukan kuil dewa bulan. Mereka menemukan dua patung laki-laki diatas tahta dengan ukiran bulan sabit di dadanya. Ini mungkin perwujudan dari dewa bulan itu sendiri, atau mungkin imam-imamnya. Mereka juga menemukan batu yang berukiran tangan terangkat menyembah bulan sabit yang ada diatasnya. Pada situs yang sama mereka juga menemukan bagian dari patung yang lainnya dengan tulisan yang mengidentifikasi mereka sebagai "Putri-putri dari tuhan (God)"

Pada akhirnya Babilonia mengalahkan kekaisaran Assyirian dan membangun kekaisarannya sendiri, dalam puisi kepahlawanan Babilonia yang terkenal, "Enuma Elish", dewa bulan Sin, mengambil peranan. Kota Ur sangat terobsesi dengan dewa bulan sehingga mereka menyebutnya dengan nama mereka di beberapa batu ukiran yang ditemukan, nama Ziggurat. Nanar ada juga disitu. Sir Léonard Wooley menemukan kuil untuk dewa bulan di Ur, dan menggali banyak sekali contoh-contoh penyembahan dewa bulan. Semua benda-benda itu sekarang dimuseumkan di museum Inggris, London. Batu ukiran Ur-Nammu mempunyai symbol bulan sabit yang ditempatkan diatas daftar namanama dewa, menunjukkan bahwa dewa bulan adalah yang dewa yang terutama.

Kota lain yang menjadi pusat penyembahan dewa bulan adalah Harran. Sejarawan kuno, Herodotus, dalam IV 13, 7, membicarakan mengenai kota itu dan kuil dewa bulannya. Kuil tersebut dibangun dan dikembangkan berulangkali pada masa itu, oleh raja-raja terkenal seperti Shalmanezer, Assur-Bani-pal, dan Nabonidus. Reruntuhannya masih dapat dilihat sampai sekarang. Dari tahun 1900 SM sampai 900 SM, raja-raja yang berkuasa diharapkan untuk bersumpah atas namanya (dewa bulan) dalam segala bentuk perjanjian (fakta) penting yang mereka buat, mereka memperoleh kekuatan darinya. Namanya masih dapat ditemukan dalam tulisan kuno berbentuk baji dan dalam batu-batu tulis. Dikemudian waktu, kita membaca dalam sejarah Roma bahwa kaisar Caracala terbunuh setelah dia kembali dari mengunjungi kuil dewa bulan di Harran.

Harran memiliki versi Allahnya sendiri yang sudah diketahui dengan baik oleh mereka yang belajar Taurat. Dilihat dari hasil penelitian, Harran memiliki BAAL-nya sendiri. Tetapi di Harran, kita mendapatkan informasi bahwa BAAL adalah perwujudan lain dari dewa bulan. Sebagai tambahan atas berbagai nama yang diberikan pada dewa bulan, suku yang berbeda terkadang memberikan gagasan yang berbeda tentang dewa bulan. Beberapa suku di Arab Utara percaya bahwa dewa bulan adalah seorang wanita, jadi mereka memiliki DEWI Bulan.

• Bagian Utara Madinah (Arab)

Orang Arab mungkin telah menyembah dewa bulan sejak ribuan tahun lalu. Ribuan benda-benda peninggalan telah ditemukan dalam tanah dan pasir di daerah Timur Tengah, termasuk Arab. Simbol bulan sabit telah ditemukan di materai, batu tulis, barang tembikar, jimat-jimat, benda dari tanah liat, timbangan, anting-anting, kalung, dan benda-benda yang lainnya. Kita tahu dari catatan bahwa raja Babilonia yang terakhir, Nabonidus, pergi ke Tayma, di hijaz, 1000 tahun sebelum Muhammad lahir. Dia tinggal disana untuk beberapa waktu, dan sementara ia disana, ia membuat Tayma menjadi pusat untuk penyembahan dewa bulan. Banyak sekali ditemukan naskah yang menyangkut penyembahan dewa bulan diarea itu, termasuk "Stele o/ nabonidus" Dalam ukiran pahat kuno itu raja sendiri terlihat bersamaan dengan simbol bulan sabit besar di sebelahnya.

Tayma terletak 230 mil dari Medina. Tempat lain di daerah Utara juga telah digali. Ukiran-ukiran di batu dan mangkuk-mangkuk yang dipakai untuk ritual kegamaan pada "putri-putri allah" telah di temukan dan didokumentasikan. Tiga putri dari allah, Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat, seringkali terlihat dengan simbol bulan sabit diatasnya-dewa bulan, (bahkan Prof. Muhhamad Mohar Ali, pengajar sejarah Islam di Universitas Islam di Madinah, menyatakan dalam kuliah Pra-Islam di Arab, bahwa prasasti yang ditujukan untuk 'allah' pada masa sebelum Islam telah ditemukan di daerah Utara, daerah dimana dewa bulan di sembah). Dapat terlihat bahwa tiga putri 'allah' sangat penting di daerah Utara Arab.

Jika anda mau, anda dapat membaca tentang penemuan arkeologinya dalam buku2 ini:
1) Aramaic Inscripticns o/ the Sth Century, Jones, xyi956, pp 1-9 (Isaac Rabinoiuitz)
2) Another Aramaic Record o/ the Noth Arabian Goddes Han'Laat, Jones, XVIII,1959,pp 154-155 (Rabinouiitz)
3) The Goddess Atirat in Ancient Arabia, in Babylon and Ugarit: Her Relation to The Moon God and the Sun Goddess, Orientalia Louiensia Periodica, 3:101-109.
4) Iconography and Character of the Arab Goddess Allât, found in Etudes Preliminaries Aux Religions Orientales Dans L Empire Roman, ed. Maarten J. Verseren, Leiden, Brill,1978, pp 331351 (HJ. Drivers)

• Daerah Selatan Arab, Tepat di kota Mekah (dan sekitarnya)
Kerajaan Saba terletak di daerah Selatan Arab. Orang dari Saba disebut Sabean. Ini adalah tempat asal "Ratu Seba" (Kejadian 1026, Ayub 1:15,6:19,1 Raja-Raja 10:15,). Kata, "Sheba" dalam bahasa Inggris mengacu pada asal katanya dari bahasa Ibrani - Saba. Kerajaan ini cukup dikenal dalam sejarah, dan dikenal baik bahwa orang Sabean menyembah dewa bulan, dan bintang, bahkan kata Saaba dalam bahasa Arab berarti "bintang".

Kerajaan Saba menguasai seluruh daerah Selatan Arab sampai pada perbatasan Yémen dengan Arab, dan ada kemungkinan lebih luas lagi. Pengaruhnya melebihi daerah kekuasaan mereka, bahkan sampai ke kota Mekah Al-qur'an menyebutkan juga mengenai Sabean (Sura 2:62, Sura 5:69, Sura 22:17, Sura 27:29). Lebih dari itu, Sabean adalah kaum pedagang, sehingga pengaruh mereka tersebar kemanapun karavan mereka pergi, bahkan sampai daerah barat Mekah dan Medinah, melewati laut Merah di Afrika. Kaum Sabean menyembah dewa bulan mereka di Sudan, dan Etiopia. Suku Saba dan penyembah berhala lainnya mempunyai banyak sebutan yang berbeda untuk dewa bulan mereka. Dia diberi nama seperti llumqah, atau Al-maqah, Wadd, Amm, Haiubas, Hubal, Ilah dan Sin.

Sin adalah dewa yang sama yang disembah di Haran sampai ke Utara. Penyembah dewa bulan di Haran juga menyebut diri mereka sebagai kaum Sabean. Pada awal 1940, Gertrude Caton Thompson menemukan kuil dewa bulan di Hureidha, di tempat Kerajaan Saba dulu berada. Dia menemukan 21 prasasti dari nama dewa-Sin, di sekitar kuil itu. Ada kemungkinan bahwa itu adalah dewa bulan yang dia temukan. Kuil dewa bulan di temukan juga di Awan, masih di daerah kerajaan kaum Sabean. Pada tahun 1950, Wendell Philips, W.E Albright, Richard Bower, dan yang lainnya menemukan lebih banyak bukti penyembahan dewa bulan di kota2 Qataban, dan Timna, dan di ibukota kuno kerajaan Saba, Marib.

Saudara dapat membaca lebih banyak lagi mengenai penemuan2 ini dalam buku2 berikut:

1) G.C Thompson, 'The Tombs and the Temple o/ Hureidha, 1944
2) Carleton S. Coon, "Southern Arabias, a Problem /or the future" Smithsonia,1944
3) G. Ryfemans, Less Religions Arabes Preislamiques"
4) RichardLe baron Bower }r. dan Franfe P. Albright, Archaeologicai Discoueries in South Arabia, Baltimore, John Hopfeins Uniuersity Press, 1958, p78ff
5) Ray Cleveland, An AncientSouth Arabian Necropolis, Baltimore, John Hopkins University Press, 1965
6) Nelson Glueck, Deities andDolphins, New Yorfe, Farrar, Stratass danGiroux, 1955

Penelitian arkeologis tidak mengatakan banyak hal mengenai kota Mekah, karena pihak yang berkuasa, kaum Islamis, takut akan apa yang dapat ditemukan di sana. Akses untuk beberapa daerah tidak diberikan, jika ada peninggalan yang dapat membuat kontradiksi dengan pandangan "sejarah" mereka, mereka mungkin akan merahasiakannya atau bahkan memusnahkannya. Akan tetapi ada kabar baik, yaitu, ada beberapa penulis Islam masa kini dan Sejarawan Islam pada abad pertengahan yang telah cukup jujur untuk menulis sesuatu tentang penyembahan dewa bulan di mekah.

"Sekitar 400 tahun sebelum Muhammad lahir, Amir bin Harath...bin Saba, keturunan Qahtan dan raja Hijaz, telah meletakkan satu berhala diatas atap kabah. Ini adalah salah satu dewa tertinggi Quraish (suku Muhammad) sebelum Islam. Dikatakan bahwa ada 360 didalam dan sekitar Kabah...selain Hubal, ada juga berhala-berhala lain, Shams, ditempatkan di atas atap Kabah...selam berhala-berhala yang mereka sembah, mereka juga menyembah bintang, matahari, dan bulan" (Hafiz Ghlam Sarwar, "Muhammad the Holy Prophet" Pafeistanj, p. 18-19)

Jadi, kita mengetahui bahwa ada berhala yang ditempatkan di atas kabah, berhala yang disebut "Hubal". Selain ini, penulis muslim juga mengatakan bahwa ada 360 berhala di dalam dan sekitar Kabah-dan 360 adalah jumlah hari dalam Kalender Bulan. Dikatakan juga bahwa Hubal berbagi tempat diatas kabah dengan berhala lain "Shams" Yusuf Ali mengatakan pada kita bahwa Shams adalah dewa matahari. Di daerah Babilonia Sin dewa bulan berdampingan dewa matahari, Shamash. Karena itu Hubal adalah, dewa bulan.

Sumber-sumber dari Musim, Sekuler dan Kristen setuju bahwa Hubal adalah perwujudan dari dewa bulan. Seorang penulis muslim memberikan pernyataan seperti ini:

"Di antara banyak berhala-berhala yang disembah oleh orang Arab di dalam dan di luar Kabah, ada dewa Hubal dan tiga dewi, Al-lat,aI-Uzza, dan Manat. Hubal sebenarnya adalah perwujudan dari dewa bulan, dan mungkin juga dewa hujan, seperti makna kata Hubal 'uapor'. (Mahmoud M. Ayoub, "Islam: Faith and History" (Ox/crd£ngland, One world Publications, 2004), p. 15)

Pada tahun 2005, Reza Aslan menulis buku lain yang berjudul "NoGod but God: The Origins, Euolution, and Future qf Islam." Di halaman 3 dalam buku itu, dia membawa para pembaca kembali ke zaman pra islam Kabah, dia menyatakan:

"Disinilah...dewa-dewa pra Islam di Arab berdiam: Hubal, Dewa bulan dari Syria; Al-Uzza, dewa yang berkuasa di Mesir yang dikenal sebagai Isis dan di Yunani yang dikenal sebagai Aphrodite..."

Azrarki, dalam bukunya menyebut Hubal sebagai dewa bulan. Ini berarti bahwa Hubal mempunyai hubungan dengan matahari, bulan. dan bintang. Dia tidak menyebutkan spesifik seperti Ayaoub atau Aslan, tetapi pada dasarnya mereka menyatakan point yang sama.

"Di dalam kabah, Hubal harus menjaga karakter asli sebagai dewa bintang; tetapi katakter terbesarnya adalah sebagai dewa perantara. Bahkan, di depan dewa Hubal-lah mereka melemparkan panah undian, untuk mengetahui apa yang harus mereka lakukan."( Al-Azrarki,31)

Azrarki juga menyebut Hubal sebagai "dewa perantara" apa artinya? "perantara/bilah" artinya adalah seseorang (sesuatu) yang menyampaikan pesan kepada seseorang (sesuatu) yang lebih tinggi. Hubal, nampaknya melayani sebagai jembatan untuk dewa yang memiliki kekuasaan lebih tinggi. Orang berdoa, kepada dewa yang "tertinggi" melalui dewa yang lebih rendah ini" Dua sejarawan muslim pada abad permulaan Islam memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang Azrarki bicarakan.

Ibnu Kathir dan Ibnu Ishaq menyatakan:
Dinyatakan bahwa ketika 'Abdul Muttalib (kakek Muhammad) menerima perlawanan dari suku Quraish dalam menggali zamzam, dia berjanji jika dia diberikan 10 anak, yang besar nanti dapat melindungi dia, dia akan mengorbankan satu anaknya kepada 'allah' di Kabah...(tahun-tahun berikutnya, dia memiliki 10 anak, dan...) sehingga mereka kembali ke Mekah dan... Abdul Muttalib berdiri di hadapan Hubal dan berdoa kepada 'allah'. Kemudian dia mempersembahkan Abdullah (Ayah Muhammad) dan 10 unta sebagai kurban persembahan dan melemparkan panah undian.( Melemparkan panah undian adalah cara untuk mengetahui kehendak bilah, seperti dadu undian). Dia ingin tahu apakah dia harus tetap meneruskan mempersembahkan anaknya, hasilnya adalah dia tidak perlu mempersembahkan anaknya). Pada saat itu orang dari suku Qurais berkata kepada Abdul Muttalib yang berdiri di dekat Hubal dan sedang berdoa kepada bilah', "Sudah Selesai! Allah-mu, berkenan kepada-mu. O' Abdul muttalib..." (Sirat Rasul Allah. p.126)

Dua kali disebutkan bahwa kakek Muhammad berdiri di hadapan Hubal, berdoa kepada 'allah Ini mendukung apa yang di katakan oleh Azrarki. Nampaknya Hubal adalah dewa lokal, dimana orang Arab pergi kepadanya untuk sampai kepada dewa tertinggi, 'allah’ Ada kemungkinan bahwa Hubal adalah dewa perantara ataupun bilah' itu sendiri, tetapi hal ini tidak membuat satu perbedaan-pun. Catatan yang penting disini adalah baik pergi ke dewa bulan untuk sampai kepada bilah' atau dewa bulan itu adalah bilah', jelas bahwa 'allah', sebagaimana yang dikenal oleh para penyembah dewa di Arab, dalam cara tertentu, memiliki hubungan yang dekat dengan dewa bulan.

Khairt-Al Saleh, di halaman 29 dalam bukunya "Fabled Cities,Pri?ices and Jin Trorn Arab Myths and legends" diterbitkan tahun 1985, mengatakan beberapa hal lain tentang Hubal:

"Hubal tergabung dalam dewa-dewa Semitic, Baal dan Adonis dan Tammuz, dewa musim semi, kesuburan, pertanian dan panen." Dia menghubungkan Hubal dengan Baal, dan banyak para ilmuwan lain setuju dengannya. Nama "Hubal" tidak dapat dijelaskan dari bahasa Arab.

Dalam bukunya "Specimen Historicae Arabum" penulisnya berpendapat bahwa nama itu berasal dari kata Ha-BaaL Tulisan bahasa Ibrani dan Arab Kuno tidak mempunyai hurup vokal, kemungkinan ini adalah salah satu dari perubahan umum yang terjadi (mis: seseorang dapat membaca dengan kata Mohammed, Muhammad, Muhammed, Mahommet.dsb). Nama Hubal (dalam naskah Arab dan Ibrani hurup vokalnya tidak tercatat = H B L) ini menunjukan adanya suatu hubungan dekat dengan kata Ibrani HABAAL (= BAAL).

Baal adalah berhala yang disebutkan dalam Alkitab (Bilangan 253, Hosea 9:10), Di daerah mana Baal disembah? Di Moab! Ini adalah "dewa kesuburan" (dari Gerhard Nehls). Amir Bin Luhaiy nampaknya memang membawa Hubal dari Moab.

Ibnu Kathir mengatakan:
Ibnu Hismah menyatakan bahwa orang terpelajar mengatakan padanya bahwa 'Amir Bin Luhayy pergi dari Mekah ke Syiria untuk urusan bisnis dan mencapai Ma'ab (kemungkinan Moab) didaerah Balija. Amir kemudian meminta mereka untuk memberikan kepadanya berhala yang dapat di bawa ke tanah Arab dimana berhala itu dapat disembah, dan mereka memberikan kepadanya berhala bernama Hubal. Berhala ini dia bawa ke Mekah dan mempersiapkan acuan dan memerintahkan orang untuk menyembahnya dan memuliakannya. (The Life of The Prophet Muhammad (Al-Sira al-Nabauiiyya), Volume I, J, p42)

Selain Hubal di Kabah juga terdapat Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat. Dikatakan bahwa Al-Lat telah dibawa Hijaz dari Palmyra, melalui Tayma (kota yang telah menjadi pusat penyembahan dewa bulan). Al-Lat mungkin bentuk dewa Arab dari dewi Astarte, Ishtar, dalam Alkitab 'Asherah" atau yang dikenal sebagai dewa matahari. Di sisi lain, beberapa orang berpikir bahwa Al-Lat sebenarnya dewa bulan didaerah Arab Utara. Al-lat memiliki batu kubik, dan tegak berdiri di dalam kuil kecil kecilnya di Al-Taif. Nama Al-lat adalah bentuk feminis dari kata Al-lah!

Al-Uzza adalah dewi cinta dan kecantikan, dia diidentifikasikan dengan planet Venus, bintang fajar {bintang yang biasanya dilihat bersamaan dengan bulan sabit jauh sebelum masa Muhammad). Patungnya berdiri tegak di Nakhlat. Pemujaan terhadapnya sangat kuat. Manat adalah dewi yang asli berasal dari Arab. Nama Manat muncul di kuil Baal, di Palmyra, di naskah yang berasal dari tahun 32 M. Manat memiliki batu hitam di jalan antara Mekah dan Medina. Patungnya berdiri tegak dekat Qudayd. Manat adalah dewi takdir. Ketiga dewi ini sangat terkenal. Ketiga dewi ini, dan juga Hubal, sangat senang dengan persembahan korban manusia.


Menurut Khairt al-Saeh:
"sebagaimana penyembahan berhala dan roh-roh, ditemukan di binatang2, tanaman2, bebatuan, dan air, Arab kuno percaya pada beberapa dewa-dewi besar yang mereka pikir memegang kekuasaan tertinggi atas semua hal, yang paling terkenal diantaranya adalah Al-Lat, Al-Uzza, Manat, dan Hubal. Ketiga dewa yang pertama dipercaya sebagai putri-putri al-lah (tuhan) dan karena itulah perantaraan mereka atas nama penyembah mereka menjadi sesuatu yang sangat penting."

Yusuf Ali mengatakan beberapa hal tentang putri-putri 'allah' di halaman 1445 dari terjemahannya, footnote 5096. Dia menjelaskan bahwa Lat, Uzza dan Manat dikenal sebagai "Putri-Putri al-lah! Al-Saeh dan Ali, keduanya menghubungkan ketiga "putri-putri" itu dengan 'allah! Arkeolog menghubungkan "putri-putri al-lah' yang sama dengan Hubal. Prasasti tertua dimana nama Hubal ditemukan di dalamnya di temukan di Nabatea, di daerah barat laut Arabia, di daerah Barat Laut perbatasan Hijaz. Prasasti itu menghubungkan Hubal dengan "Ma-Na-Wat" Kata itu, Ma-Na-Wat, berasal dari tiga kata yang dijadikan satu, mengacu kepada tiga dewi, Manat.Uzza, dan Lat. Ini sama dengan "Putri-Putri al-lah" yang dilambangkan di batu-batu yang digali oleh arkeolog di daerah Utara Arabia, ketiga putri yang sama terlihat bersamaan dengan bulan sabit, dewa bulan. Menaungi mereka semua. Mungkinkah bapak mereka, 'allah; adalah dewa bulan? Hal ini sangat mungkin. Ketiga dewi ini mempunyai ikatan langsung dengan dewa bulan. Ketiga dewi ini disebut sebagai putri-putri 'allah Ada beberapa pendapat yang berbeda tentang hal ini, tapi bukti-buktinya belum meyakinkan.

Dari Baal kepada Allah
Hak. 2:11
Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

Baal, Dewa Sesembahan Bangsa Moab.
Dalam perjalanannya ke Suriah, Khuza'ah dan Jurhum meminta penduduk Moab untuk memberikan salah satu patung dewa sesembahan mereka. Maka mereka memberikannya Hubal, dan ia diletakkan dalam Ka'abah (Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources [Inner Traditions International, LTD. One Park Street, Rochestor Vermont 05767, 1983], p. 5)

Hubal, Nama Arab untuk Baal
Ka'abah adalah tempat persemayaman Hubal, dewa Arab purba tertinggi, sesembahan utama suku Quraish (Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet [Harper San Francisco; ISBN: 0062508865; Reprint edition, October 1993], hal. 61-62)

"... Menurut legenda, sekembalinya Qusayy dari perjalanan ke Syria ia membawa tiga dewi sesembahan ke Hejaz (note: jazirah Arab) yaitu al-Lat, al-Uzza dan Manat, juga memahkotai dewa Hubal di dalam Ka'abah ..." (Armstrong, hal. 66;)

Hubal adalah dewa sesembahan penduduk Mekkah yang ditempatkan di dalam Ka'abah (The Oxford Dictionary of Islam (Oxford University Press, 2003, hal. 117)

Baal dalam dialek Arab disebut juga Hubal. Nama ini berasal dari Ha-Baal, yang dalam dialek Arab artikel berupa konsonal `ha/hu' (S. Noja, "Hubal = Allah", Reconditi: Instituto Lombardo Di Scienze E Lettere, Vol. 28 (1994), hal. 283-295)

Dari Hubal Menjadi al-Ilah
Hubal (dari bahasa Aram yang berarti `roh') jelas merupakan dewa utama dalam Ka'abah dan dipresentasikan dalam bentuk tubuh manusia. Di sampingnya terdapat tujuh anak panah yang biasa digunakan oleh para kahin dalam ritual mereka. Menurut tradisi ibn Hisyam, Amr bin Luhayy mendapatkan sesembahan ini dari bangsa Moab (History of the Arabs from the Earliest Times to the Present, revisi edisi ke-10, new preface oleh Walid Khalidi [Palgrave Macmillan, 2002; ISBN: 0-333-63142- 0 paperback], p. 100

KARENA HUBAL ADALAH DEWA SESEMBAHAN YANG UTAMA, MAKA IA DISEBUT `SANG TUHAN, SANG ILAH' ATAU `AL-ILAH'.

Di Bawah Muhammad: dari al-Ilah kepada Allah

Muhammad menghancurkan pemujaan terhadap al-Lat, al-Uzza dan Manat, namun berhenti menyerang sekte pemuja Hubal. Dari sini Wellhausen (sejarawan-red) menduga bahwa Hubal adalah tidak lain selain Allah, "dewa" orang-orang Mekkah.

Islam meminjam nama "Allah" dari suku-suku Arab purba. Nama ini bervariasi di kalangan berbagai suku Nabatean. Pada akhirnya ini diaplikasikan kepada satu sesembahan yang adalah `Satu-satunya' dan `Yang Utama' (Ibn Warraq, Why I Am Not A Muslim [Prometheus Books, Amherst NY, 1995], pp. 39-40, 42)

Konsep `Allah' sebagai terminologi Arab untuk Tuhan yang Mahatinggi sudah familiar bagi masyarakat Arab di masa Muhammad. Yang dilakukan Muhammad adalah memberikan makna baru untuk membersihkannya dari atribut politeisme (H.A.R. Gibb, Mohammedanism: An Historical Survey [Oxford University Press, London 1961], p. 54)

Berikut ini adalah Hasil-hasil Penelitian mengenai Hubal:

S. Noja (1994): ada metamorfosa semantik dari nama Ba'al (sesembahan Moab) menjadi Hu-Baal dan akhirnya Hubal, dewa bulan (Arab)

Martin Lings (1983): Hubal adalah nama Arab untuk Baal, dewa Moab yang dibawa pulang ke Mekkah oleh Khuza dan Jumhur setelah kunjungan mereka ke Suriah.

Karen Armstrong (1993): Hubal adalah dewa Arab purba tertinggi, takhtanya ditempatkan di dalam Ka'abah.

Dr. Cesar Farrah (2000): Allah sudah ada sebelum Islam. Berasal dari `Il' (Babilonia), `El' (Kanaan purba), `al-Ilah' (Bedouin Arab) dan akhirnya `Allah' di bawah Muhammad.

Mahmoud Ayyub (2004): Hubal adalah dewa bulan Arab. Sementara ada juga tiga dewi Ka'abah lain yaitu al-Lat, al-Uzza dan Manat. Al-Lat sangat mungkin adalah bentuk feminin dari Allah!

Begitulah trasnsformasi kata Baal menjadi Allah adalah sebuah proses antropologis. Secara kronologis:

Baal (berhala Moab) (Hak 6:31) --> Ha-Baal/Hu-Baal/ Hubal (Noja, 1994; Lings, 1983) --> al-Ilah (yang utama) (Hitti, 1937; Armstrong, 1993) --> Allah (Ibn Warraq, 1995; Farrah, 2000; Khalidi, 2002)

Banyak penulis yang mempermasalahkan nama Allah tersebut, namun sebenarnya tidak ada nama yang cukup mewakili untuk menyatakan siapa Tuhan itu, Konsep dibalik nama Tuhanlah yang menentukan. TUHAN disebut dalam berbagai nama dalam suku2 bangsa, Tuhan disebut sebagai YHWH(Yahudi), Allah(Arab), Jubata(Kalimantan), Debata(Batak), God(Inggris).

Lalu seperti apakah konsep Allah menurut Muhammad?


Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri." (QS 3:84)

Konsep Allah menurut Muhammad sama dengan konsep YHWH menurut Yahudi, yaitu monotheisme mutlak (tauhid), dimana Tuhan tidak dapat diserupakan dalam wujud dan bentuk apapun. Konsep Allah dalam Islam didapat Muhammad dari para monotheis Arab seperti Zayd bin Amr dan Waraqah bin Nofal, saudara sepupu Khadijah, istri pertama Muhammad.

Waraqah adalah pemeluk agama Musa (Yahudi) sebelum kemudian beralih ke Nosrania (Ibn Hisham, Sirah, Vol 1, hl 203). Ia mengikuti monotheisme Musa dan Yesus, yaitu didasarkan Taurat dan Injil. Quran berkali2 menyebut para pengikut monotheis Musa dan Yesus ini ‘Wahai Ahlul Kitab ! Kalian tidak memiliki dasar berdiri kecuali kalian berdiri tegak pada Taurat dan Injil.’ (QS 5:6)

Nosrania/Nestorian adalah sebuah sekte yang berasal dari Kristen Ortodoks. Kepercayaan Waraqah yang menolak ke-ilahian Yesus ini adalah kepercayaan yang dianggap menyeleweng dari kepercayaan Kristen ortodoks. Yesus baginya hanyalah seorang nabi, yang menuntaskan hukum Musa. Ia juga membantah kematian Yesus di tiang salib dan kebangkitannya seperti yang ditulis dalam ke empat Injil kaum ortodoks. Injil yang dipakai oleh kaum Nosrania adalah Injil Ibrani (Injil Matius) namun tidak lengkap pencatatannya. Kitab ini adalah injil yang ditujukan bagi orang2 Yahudi. Inilah salah satu sebab mengapa Muhammad menganggap bahwa Yesus hanyalah nabi bagi orang Yahudi, persis seperti ajaran Kaum Nosrania.


Jika konsep Allah Muhammad sama dengan konsep YHWH Yahudi, mengapa sifat Allah begitu bertentangan dengan sifat YHWH? Tuhan, seperti yang diucapkan oleh Musa, Yesus, Zoroaster, dan Hinduisme adalah SUMMUM BONUM (kebaikan yang tertinggi), Allah dilain pihak adalah pribadi yang bengis, yang ditempa dalam khayalan penciptanya, Muhammad.

Jika Allah benar2 Tuhan, mengapa Allah begitu kejam, dan tanpa belas kasihan memerintahkan muslim untuk membantai para non muslim?

Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. [QS 8:12]

Mengapa Allah mewajibkan umatnya untuk merampok dan menjanjikan harta rampasan bagi umatnya?

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216)

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu. (QS 48:20)

Mengapa Allah berkolusi dengan setan untuk menyesatkan orang kafir?

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasut mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?,(QS 19:83)

MENGAPA SIFAT ALLOH SAMA DENGAN SIFAT IBLIS?

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku (iblis) akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka". [QS 15:39-40]

Orang-orang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang2 yang bertobat kepada Nya",[QS 13:27]

(yang kamu sembah) selain Allah?" Mereka menjawab: "Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu". Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. [QS 40:74]

Benarkah alloh muhamad adalah Tuhan? Ataukah ia hanyalah iblis yang menyamar sebagai Tuhan? Renungkanlah dengan hati nurani anda!
Lantas bagaimana kisah artis cantik berdarah Eropa Timur tersebut setelah memeluk islam? Kabar terakhir yang bisa saya akses bahwa artis tersebut bahkan ditemukan kepergok tidur seranjang dengan pria lain ketika proses perceraiannya masih dalam proses persidangan di pengadilan agama islam.

Bila saja artis tersebut kini menyadari sejarah penggunaan lambang dewa bulan-dewa bintang di kubah masjid yang dulu diadopsi Muhamad untuk menarik perhatian penduduk asli Mekkah dan kini di banyak mesjid tidak menggunakan hiasan lambang dewa bulan-bintang di atas kubahnya, maka dia akan memiliki persepsi lain.... 

Tapi satu hal yang pasti bahwa, sejarah memang tidak bisa ditutup-tutupi. Seperti kalimat Bung Karno yang terkenal ini, " ...menutupi sejarah ibaratnya menutup muka dengan sapu tangan dalam terik matahari ditengah hari". 

(artikel ini sebagian terbesarnya dikutip dari website yang kini sudah tidak bisa diakses lagi oleh publik)