Showing posts with label bokep. Show all posts
Showing posts with label bokep. Show all posts

Monday, August 19, 2013

Perbedaan Yang Begitu Tajam Makna Kurban Darah/Sembelihan Antara Kristiani dan Islam (1).



(Logika manapun akan mengatakan bahwa sumber sejarah otentik tertua Nabi-Nabi Tuhan adalah Kitab Yahudi yang juga merupakan sumber sejarah bagi Umat Kristiani, dan tentunya juga bagi Umat lain yang mengakui eksistensi Nabi-Nabi Tuhan karena memang dari sanalah Para Nabi Tuhan berasal. Bila masih ada komunitas iman tertentu yang masih mempertanyakan otentisitas Kitab Yahudi sebagai Rangkuman sejarah Para Nabi Tuhan, mestinya sudah “terhenyak heran” ketika membaca “the dead sea scroll” yang ditemukan pada 1949, karena “ternyata anggapan yang telah terlanjur diajarkan kepada mereka secara turun temurun selama berabad-abad ternyata telah terbantahkan dengan keras yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai temuan terbesar abad ini !!”.  
Sekali lagi, semua artikel yang saya release dalam web ini bukan merupakan artikel olok-olok dan bukan bermaksud memfitnah, namun dalam usaha membuka mata akan klaim kebenaran dari sudut pandang yang berbeda antara dua komunitas iman yang berbeda. Artikel ini saya kutip sepenuhnya dari website  www.answeringislam.com karya Kalangi dengan judul asli, “Syariat Qurban Di Hari Raya Haji, Kini Patut Dipertanyakan Muslim” (Bagian 1).

Muslim yang membaca artikel ini sebaiknya tidak buru-buru apriori seperti orang kebakaran jenggot sebagaimana umumnya yang terjadi di berbagai belahan dunia yang rata-rata “hanya bisa mengecam dan mengancam” justru dketika kepada mereka ditunjukkan kebenaran, sehingga penulis sarankan agar membaca dengan perlahan dengan hati putih dan tidak terburu-buru, selanjutnya silahkan memverifikasi seluruh kutipan baik ayat Alquran maupun hadist sahih dalam artikel ini untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya, selamat membaca_Sang Timur).

Adakah dikatakan di dalam Alkitab dan Al-Quran bahwa Ismael itu anak pengorbanan? Banyak Muslim belum tahu, bahwa jawabannya adalah tidak ada!
Alkitab menegaskan anak itu adalah Ishak, Ishak, dan tak lain daripada Ishak! Sebaliknya Quran ragu-ragu, dan hanya berkata dalam kekaburan bahwa anak itu adalah “anak” Ibrahim. Anak yang mana hanya Allah SWT yang tahu persis untuk diriNya, tetapi sesungguhnya telah diketahui dan diumumkan oleh Elohim Alkitab 2600 tahun sebelum itu tanpa bantahan siapapun! (bila memang Quran dianggap sebagai kitab sempurna dan tanpa ada keraguan didalamnya, tapi mengapa ia tidak menulisnya dengan terang?_pen.)

Kisah Ishak sebagai anak-pengorbanan telah tertulis di Kitab Taurat 2600 tahun sebelum Muhammad dilahirkan. Semua nabi-nabi Tuhan tahu bahwa Ishak itulah anak-yang ingin dikurbankan, tak ada ceritanya sama sekali tentang Ismail yang “punah” dari sejarah. Namun tiba-tiba ALLAH SWT berwahyu-ulang 2600 tahun kemudian kepada Muhammad tentang kasus pengurbanan yang sama tetapi berbeda dalam setiap detailnya! Tentu saja semua Muslim mengharapkan wahyu ulang ini lebih lengkap dan sempurna ketimbang kisah tua-awal (di Alkitab) yang dianggap telah terkorupsi, bahkan sesat. Akan tetapi sebaliknyalah yang terjadi! Ternyata wahyu ulangan yang dianggap sempurna dari Allah itu tidak bisa dipahami isinya per -se- oleh siapapun! Maaf, ini bukan kalimat yang didramatisir,melainkan apa fakta seobyektifnya yang dapat Anda simak sendiri tanpa prasangka. Sebab pemahaman Muslim yang ada dimasyarakat saat ini (tentang kasus penyembelihan anak Ibrahim) telah tertanam oleh sisipan tambahan diluar Quran yang dilencengkan dari kisah asli di Alkitab. Sedemikian sehingga rujukan kisahnya terbiasa difahami seperti apa yang ditanamkan, bukan seperti  apa yang di-tanzilkan sebagai wahyu Quranik!

Namun seperti kata pepatah: “The devil is in details”. Setan-setan nyaman bersembunyi dibalik kekaburan sehingga ia mudah berbelit, berkelit, dan balik menfitnah. Jadi kita akan masuk kedalam details agar dapat memperlihatkan dengan sesungguhnya betapa wahyu-ulang itu sendiri total tidak masuk akal, tekor otoritas, tidak bertujuan, dan kehilangan makna ilahinya yang sejati! Mari kita baca pelan-pelan dan masuk kedalam substansi wahyu yang sewajarnya, dipetik dari Quran Surat 37 VS Kitab Kejadian 22:
100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
101. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim  berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya),
104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
105.sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan (seekor) sembelihan yang besar
108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
109. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

Apa yang dapat Anda lihat?

Pertama
Benar, tak ada muncul nama “Ismail” disitu sebagai anak sembelihan. Kosong! Dan dimanapun di Quran, nama anak-pengurbanan itu dikosongkan oleh Muhammad. Yang ada disebut cuma “sang anak”. Tentu hal semacam ini bukan hal yang kebetulan, melainkan dengan sengaja atau terpaksa.

Muhammad dan juga sahabat-sahabatnya sejak semula belum ada yang mampu membaca Alkitab Ibraninya orang Yahudi. Maka tidak ada yang berani mengklaim atau memastikan itu Ishak atau Ismail. Padahal, jikalau Quran betul wahyu yang didatangkan dari Surga untuk “mengoreksi dan menyempurnakan” Alkitab yang telah tercemar oleh dunia dengan memeteraikan nama Ishak, maka pastilah Allah SWT harus mengumumkan nama Ismail tegas-tegas, bahkan tanpa ragu-ragu perlu memberi maklumat keras: “Salah! Sang anak-kurban adalah Ismail, bukan Ishak seperti yang dipalsukan di Kitab–kitab lain!”

Tetapi Wahyu Islamik tak sanggup bersitegas sejauh itu. Tak ada otoritas apapun yang mendukungnya. Soalnya Muhammad telah mengadopsi sesuatu yang fatal seperti yang diutarakan dalam Hadis Shahih Bukhari Volume 4, buku 55, nomor 583. Disitu dikisahkan betapa Hagar dan Ismail telah terusir dan terpisah total dari Ibrahim sejak Ismail masih menyusu, dan baru setelah Ismail menikah maka ia baru bertemu kembali dengan ayahnya lewat perjalanan bolak-balik yang ketiga dari Palestina ke Mekah! Ini sekaligus mematikan spekulasi para ahli Islam yang mencoba mengklaim anak-kurban itu Ismail, karena “Ismail” yang akan dikurbankan itu hanyalah anak yang menginjak remaja, belum menikah. Semua kisah-kisah akan berbenturan dalam detailnya, khususnya detail “waktu”, apabila Ismail mau dipaksakan menjadi “anak-kurban”.
Selain itu, Tuhan pasti tidak asal sembarangan memilih “anak-kurban” yang hendak dipersembahkan kepada-Nya. Muslim hanya beranggapan bahwa Ismail itu anak sulung, dan karenanya dia yang layak dipilih Allah. SALAH! Anak pilihan (the chosen son) bukannya soal anak sulung, tetapi soal “anak-ahli-waris” atau bukan. Tentu anak gundik tak akan menjadi ahli waris sepanjang istri pertama, Sara, itu “sah permaisuri” bagi Abraham. Itu sebabnya Ishak mendapatkan segala warisan ayahnya Abraham, tetapi anak-anak gundik Abraham hanya mendapatkan sekedar  pemberian, dan dipisahkan tempat mereka dengan Ishak. Ini semua terjadi ketika Abraham masih hidup (Kejadian 25:5-6).
Tetapi bukan saja Abraham yang menetapkan Ishak sebagai ahli warisnya, namun dimata Tuhan, Ia sendiri malahan menetapkan Ishak  sebagai anak tunggal, artinya satu-satunya anak Abraham yang sejati! (Kejadian 22:2, 16). Ini adalah soal ketetapan Tuhan, sama halnya dengan Qabil – walau ia anak sulung Adam – namun ia tidak dipilih dan ditetapkan Tuhan, melainkan adiknya Habil yang dipilih Tuhan! (Kejadian 4:4-5, Qs.5:27)

Anak Abraham yang sejati adalah dan hanyalah anak-perjanjian yang Tuhan janjikan untuk diberikan kepada Abraham, Sara, dan Ishak sendiri (Kejadian 17: 16-17, 19, 21, 21:1 dll.). Anak tersebut bahkan sudah ditandai oleh Tuhan sendiri dengan tanda mukjizatnya kepada Sara yang sudah tua dan mati haid (Kejadian 18: 11-14). Muhammad malahan mengungkapkan bahwa Ishak - dan bukan Ismail - yang lahir lewat tanda-ilahi  yang menerobos kemandulan Sara lewat kunjungan para malaikat ketempatnya. Malaikat menyampaikan kabar gembira bahwa Ishak-lah yang  ditetapkan oleh Allah dan dijadikan keturunan kenabian dan Alkitab(Qs.11:70- 73, 29:27). Allah tegas bersabda, “yang akan disebut keturunanmu (Abraham) ialah yang berasal dari Ishak” ( Kejadian 21:12).

Maka dihadapan Allah, Ismail bukanlah betul-betul keturunan Abraham yang hakiki, melainkan seorang “anak-rekayasa” kedagingan hasil akal-akalan Sara yang (dalam keputus-asaannya menanti datangnya anak-perjanjian), justru menyodorkan budaknya kepada Abraham demi untuk mendapatkan anak!
Walau demikian Tuhan yang Mahakasih tetap mengasihi anak hasil sodoran ini. Namun Ismail tidak pernah merupakan anak-perjanjian Tuhan, dan keturunannya tidak  benar-benar disebut sebagai “keturunan Abraham”, berlainan dengan istilah dan pengertian muluk(political correct) yang dunia tetapkan kepada mereka:

“Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"  Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sara-lah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya” (Kejadian 17:18-19).
Tuhan mempertegas ketetapan ini dengan menampik Ismail dengan “TIDAK” dan hanya menyebut Ishak dari jalur Abraham- Sara sebagai “anak tunggal” Abraham. Padahal semua orang tahu bahwa Ishak bukanlah anak sulung secara kedagingan (dalam bahasa biasa kita), sebab hanya anak sulung-lah yang bisa menjadi anak tunggal ketika adiknya belum lahir.

Kedua
Ibrahim samasekali tidak diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya (seperti yang dipercayai Muslim), melainkan ia hanya bermimpi horror, tentang sesuatu yang menyeramkan tetapi tanpa ada kaitan apapun dengan Allah! Ia bermimpi tentang penyembelihan anaknya(!) tanpa hujan dan angin yang mendasarinya. Maka Ibrahimpun gelisah dan bingung, sehingga mengutarakan mimpinya dan sekaligus minta pendapat kepada anaknya yang walau masih belum dewasa. Tentu saja sang anak (yang sabar itu) lebih bingung dan mempersilahkan apa maunya bapaknya terhadap dia. Sang anak dikatakan sangat sabar, sebenarnya yang tepat adalah sangat bodoh, karena tidak bereaksi atas sesuatu yang jelas-jelas berbahaya bagi dirinya dan ayahnya, bahwa mimpi itu jahat dan bahkan sesat, sebab ALLAH MUSTAHIL membiarkan – apalagi memerintahkan - pembunuhan seorang anak oleh ayahnya yang nabi pula. Ini tidak main-main seperti yang Muslim enteng-entengkan, ini suatu kekejian yang paling fatal yang dapat dilakukan oleh sosok Allah. Mustahi, dan YAKIN bahwa mimpi semacam itu pasti bukan datang dari Allah, melainkan dari SETAN, untuk mengkacaukan semua.

Teman Muslim berdalih, O, itu karena Allah mau menguji iman Ibrahim. Salah besar! Tak ada Allah yang menyuruh orang membunuh lewat mimpi demi untuk mengetahui imannya. Allah sudah paling tahu iman Ibrahim, dan Allah punya sejuta cara lainnya untuk menguji  iman seseorang tanpa usah menentang Hukum Allah sendiri tentang pembunuhan!

Ingat bahwa sebelumnya Abram (nama lamanya) telah “gagal-iman” terhadap janji Tuhan. Ia (bersama Sarai, nama lama isterinya) tidak tegar dan tidak sabar menunggu kelahiran “anak-perjanjian” sehingga menyetubuhi Hagar. Kini Tuhan kembali meneguhkan iman Abraham (nama baru) dengan mengadakan perjanjian-yang kekal untuk Ishak dan keturunannya” (Kejadian 17:18,19). Maka Abraham telah tahu bahwa ia akan mempunyai Ishak, dan Ishak akan mempunyai keturunan seterusnya. Sekalipun sepertinya Tuhan tetap men-test Abraham, tetapi itu hanyalah dilakukan demi mendidik Abraham untuk tetap kokoh mengutamakan kasih kepada Tuhan ketimbang anak yang paling dikasihinya! 
Akan tetapi agenda terbesar dari seluruh peristiwa itu adalah untuk menampilkan maksud maha-besar Tuhan dibalik drama “perintah-pengorbanan” itu. Yaitu penggambaran akan konsep korban penebusan yang Tuhan sediakan bagi keselamatan seluruh umat manusia, dan samasekali bukan menampilkan per-syariatan untuk sesaat menyedekahi daging kurban pada Hari Raya Qurban! Kita akan mengupasnya nanti.

Bandingkan mimpi Ibrahim di Quran dengan perintah langsung dari Tuhan Alkitab kepadanya. Mimpi bisa rancu, meragukan, malahan ngawur, karena one-way, tidak mendapat konfirmasi balik; namun perintah Tuhan langsung memperlihatkan keotentikan dan otoritas-Nya disamping dapat direspon secara timbal balik:
“Setelah semuanya itu Elohim  mencoba (test) Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan” (respon balik Abraham). Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (Kejadian 22:1-2)

Lihat 4 frase perintah Tuhan Alkitab yang tegas disini:

* Tuhan memanggil, “Abraham”, dan dijawab: “Ya, Tuhan” (klik konek dengan Tuhan)
* “ambillah anakmu yang tunggal … Ishak …” (tak ada yang lain, hanya Ishak, yang difahami oleh Abraham, Yakub, Musa, dan semua nabi selama 2600 th)
* “pergilah …” (perintah tegas)
* “persembahkanlah dia sebagai korban bakaran…” (ada ritual, bukan asal bunuh dan sembelih)
* “ke tanah Moria…pada salah satu gunung… (persis lokasinya)
Dan kelak keseluruhan maksud Elohim dengan perintah ajaib ini akan menjadi terang benderang sekaligus mengagumkan!

Bandingkan dengan “wahyu” kepada Muhammad yang rancu:

* “Hai anakku” (siapa? kenapa tak berani tambah kata ”Ismail”? bersiasat kata?)
* “aku mimpi menyembelihmu” (menyeramkan! apa nggak datang dari setan? so what? mimpikan bukan perintah?)
* “fikirkanlah apa pendapatmu” (bingung dalam kerancuan, dan berbalik dengan menyerahkan kepada anak yang baru mau remaja tentang pembunuhan terhadap dirinya?)
* Membaringkan anaknya dimana? Di Mekah?

Jadi tampak terdapat perbedaan pewahyuan keduanya dalam semua segi, antara wahyu asli surga versus dongengan yang diulang-ulang hasil dengar-dengaran ...

Ketiga
Lihat bahwa seluruh narasi surat ini tidak berbicara tentang kurban bagi Allah.
Dan ayat 103 adalah lompatan WAHYU yang tidak bisa difahami orang, kok tiba-tiba kedua anak-beranak ini setuju bahwa sang ayah membaringkan anaknya. Tidak diwahyukan APA PERLUNYA anak itu untuk dibaringkan. Quran bertambah gagal menerangkan penyembelihan itu karena tidak ada pisau atau peralatan apapun lainnya yang diikut sertakan, kecuali pembaringan saja! Padahal semua persiapan  dan alat-alat untuk mempersembahkan kurban telah disebut lengkap 2600 tahun sebelumnya dalam Alkitab, termasuk pisau, kayu, api, dan mendirikan mezbah (tempat meletakkan kurban), dan kurbannya sendiri diletakkan diatas kayu api. Itu adalah  aturan baku sejak dari Kain dan Habel dan Nuh (lihat Kejadian 8:20), Abraham, Ishak, Yakub, sampai kepada Musa dan lain-lain nabi seterusnya untuk melaksanakan sebuah persembahan kurban yang layak  bagi Tuhan.

Jelas Muhammad tidak tahu apa itu Mezbah dan apa itu prosedur persembahan kurban yang layak bagi Tuhan. Alkitab mengungkapkan tidak kurang dari 400 kali apa dan bagaimana itu mezbah (bahasa Ibraninya mizbeah). Itu artinya “tempat pemotongan”, yang khusus untuk melaksanakan ritual persembahan penyembelihan dan pembakaran binatang kurban. Itu dikenal oleh semua nabi-nabi Tuhan kecuali Muhammad seorang! Mezbah dibangun tidak asal-asalan, melainkan dengan susunan batu, kayu, atau tanah, bahkan tembaga atau emas. Ia juga tidak dibangun disembarangan tempat pemukiman umum, melainkan ditempat pilihan khusus dimana kontak antara manusia dengan ilahi telah atau diharapkan akan terjadi!

“Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau” (Keluaran 20:24).

Abraham dalam sejarah perjalanannya yang panjang dari Ur Kasdim hingga Haran dan Kanaan, tercatat mendirikan sejumlah mezbah bagi Tuhan khususnya ditempat-tempat perjumpaannya atau pengalaman spiritualnya dengan Tuhannya. Misalnya di More dekat Sikhem dimana Tuhan menampakkan diri. Juga diantara Betel dan Ai, ditempat dimana ia memanggil nama YAHWEH (awas, bukan nama ALLAH, Kejadian 12:6-8). Atau kini di tanah Moria yang telah Tuhan tentukan sebelumnya. Mezbah itu adalah penghormatannya yang paling tinggi yang dapat dia dirikan untuk dipersembahkan kehadapan Tuhannya bersama korban bakaran diatasnya! Abraham tidak mengenal tipe “bait-bait” yang lain untuk dia bersembah kepada Tuhannya! Tetapi Muhammad yang tidak tahu apa itu mezbah dan apa ritual persembahan korban yang layak, malah mendongengkan tipe “mezbah-pembaringan” bagi anak Ibrahim, tanpa pisau, kayu, dan api pembakaran.

Dan kelak Muhammad makin berani menspekulasikan Ibrahim pergi ke tanah Arab untuk turut membangun Rumah Tuhan - Baitullah disana, "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (untuk tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)…” (Qs.3:96). Tetapi rumah-sembah macam apakah itu Baitullah? Selama hidupnya Abraham hanya mengenal dan membangun altar Mezbah, bukan “bait-baitan” lain semisal untuk tempat kumpulan manusia-manusia beribadat, melainkan tempat dia sekeluarga mau mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhannya! Tetapi lihatlah betapa nekad-nya Muhammad yang kebablasan berspekulasi membuali pengikutnya yang bodoh dan mau ditipu mentah-mentah:

Periwayatan Abu Dhar: "Aku berkata, "O Rasulullah, masjid mana yang pertama dibuat didunia ini?. Dia berkata, "Al-Masjid Al Haram (di Mekah)". Aku berkata, "Mana yang dibangun setelah itu?". Dia menjawab, "Al-Masjidil Al-Aqsa (di Yerusalem)". Aku berkata, "Berapa jangka waktu antara pembangunan kedua bangunan itu?" Dia berkata, "Empat puluh tahun" (Shahih Bukhari 5/585).
NB. Padahal arkeologi dan sejarah mencatat selisih keberadaan Ibrahim (yang dipercaya membangun Baitullah Mekah) dan Raja Solomo (yang membangun Bait Yerusalem) adalah seribu tahun!  Dan manakah yang lebih pertama dibangun oleh Ibrahim: Mezbah di Sikhem (tatkala Abraham masih berumur 75-an) ataukah membangun Baitullah-Mekah bersama anaknya Ismail (tatkala Ibrahim berumur sekitar 100 tahun)?

Kita rekapitulasi sebagian dongengan Muhammad:
Tampaknya Muhammad berusaha “merangkul” sosok Ibrahim (dan Ismail) dan menjadikannya sebagai Bapa Islam yang memulai ritual-islami. Maka terjadilah pendongengan yang terbesar dalam sejarah seolah Muhammad (dari garis keturunan Ismail) adalah penegak agama Ibrahim yang lurus (Qs.6:161, 3:95 dll). Tetapi, seperti yang  telah dikatakan dimuka, bahwa dihadapan Tuhan Ismail bukanlah betul-betul keturunan Abraham yang hakiki. Kini fakta bertambah bahwa Muhammad tidak tahu apa-apa tentang mezbah Abraham, walau Alkitab telah menyebutkan istilahnya sebanyak 400 kali! Kapan Muhammad mendirikan ritual korban bakaran diatas mezbah seperti yang dilakukan Abraham? Kapan Muhammad memanggil Tuhan dengan nama YAHWEH seperti yang diserukan oleh Abraham (Kejadian 12:8). Dan betapa ngawurnya Muhammad berbual tentang pembangunan Baitullah dan Al-Aqsa, serta perjalanannya ke Mekkah menemui anaknya Ismail yang entah sudah jadi Nabi atau belum? Entah kapan dia ditahbiskan Muslim menjadi nabi! Di Mekkah, sang ayah ini tidak mendirikan mezbah maupun mempersembahkan korban bakaran, bahkan tidak melakukan apapun kecuali mengintervensi keluarga Ismail! Sang ayah yang Nabi itu MESTINYA pertama-tama mendamaikan hubungan suami-istri anaknya yang tampaknya tidak harmonis, namun ternyata Ibrahim justru mengisyaratkan agar Ismail menceraikan isterinya! (Shahih Bukhari 4/55/583). Nabi Besar betulan atau hasil fantasi Muhammad? Dan adakah Ibrahim itu pernah melakukan (atau menyerukan orang) untuk memuja dan mencium Batu-Hitam Ka’bah seperti yang Muhammad contohkan?!
Semua-muanya ini, ditambah dengan kenyataan bahwa Muhammad tidak pernah disunat ala Abraham, MAKA atas dasar apakah Muhammad itu bisa-bisa membual-kan dirinya sebagai penegak “agama Ibrahim yang lurus”?! Agama Ibrahim apa yang dia tegakkan? Dan apanya yang lurus?! Semuanya telah bengkok, dijungkir-balik, dikosongkan, dan dibualkannya! Ini adalah sebuah unjuk kenekatan spekulasi yang luar biasa dari pihak Muhammad, demi mencoba menghilangkan setting Israel dan Yudaisme agar mulus menjadi Islam dalam setting Arab (re: kisah Ibrahim-Ismail, Baitullah, kiblat shalat, puasa Ashura, dll). Kita tidak heran bilamana hal itu bisa mengkelabui orang-orang Arab jaman dahulu yang gila dongengan 1001 malam, namun para Muslim yang bernalar universal saat ini tentu harus mempersoalkan kembali dongengan yang membodohi!

Keempat
Menyusuri ayat 104, 105 dan 106, para pembaca Quran pasti dibuat kaget ketika kedua ayah dan anak itu sedang nyaman berserah diri (!) dan sang anak  sedang berbaring, tetapi tiba-tiba datang suara teriakan (dari langit?):
"Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata…
Tidakkah ini  kalimat-kalimat yang lucu, berantakan, dan tak masuk akal? Yang kehilangan otoritas sebagai sebuah wahyu korektif atas apa yang sudah diwahyukan 2600 tahun sebelumnya?

Tak ada narasi apapun bahwa Ibrahim siap-siap untuk membunuh, tak ada apa-apa yang kritis dan genting, tiba-tiba ada teriakan Allah? Anehnya teriakan itu SAMASEKALI BUKAN (membantah dongengan umum Muslim) teriakan langsung Allah SWT untuk menyetop(menghentikan) TINDAKAN genting Ibrahim terhadap sang anak. Yang Ibrahim lakukan cuma membaringkan anaknya itulah! Teriakan Allah malahan hanyalah sekedar pujian belaka kepada Ibrahim, yang mana samasekali lepas dari konteks drama kritis penyembelihan. Ternyata Allah hanya mencoba meyakinkan Ibrahim yang kebingungan. Dan untuk itu Allah sampai perlu menekankan kata SESUNGGUHNYA sampai tiga kali,  
a. Sesungguhnya Ibrahim telah membenarkan mimpi Ibrahim sendiri
b. Sesungguhnya perbuatan Ibrahim (yang mau membunuh anaknya??) itu adalah perbuatan baik! Sehingga Ibrahim akan mendapat balasan Allah.
c. Sesungguhnya kejadian ini (atau mimpi ini?) adalah sungguh dan benar suatu ujian yang nyata.
Tetapi tiga kata “sesungguhnya” yang begitu royal diucapkan oleh Allah SWT itu justru bisa lebih mengacaukan ketimbang meyakinkan.  

Sebab membenarkan mimpi Anda sendiri untuk membunuh anak Anda sendiri tanpa pasal apapun  itu, apakah itu SUATU IMAN dan PERBUATAN BAIK yang dibenarkan Islam? Adakah Muhammad atau para sahabatnya yang andaikata bermimpi menggorok leher anaknya, lalu benar-benar akan menggoroknya atas nama Allah? Atas dasar apakah maka mimpi membunuh anak itu boleh menjadi suatu perintah wajib bagi Ibrahim? Dan apakah dengan narasi yang hanya berdasarkan 10 ayat Allah diatas, ada orang Muslim beriman yang dapat menyimpulkan bahwa mimpi demikian itu adalah sebuah TESTING IMAN dari Allah? Tidakkah itu justru lebih mungkin testing dari Setan?

Tampaknya Muhammad dan Muslim lupa bahwa untuk mimpi-mimpi yang dianggap sebagaiwahyu teramat penting maka Tuhan akan selalu menjelaskannya lewat malaikat, atau akan dinyatakan berkali-kali dengan konfirmasi (lihat mimpi nabi Yusuf dikonfirmasi 2x, Firaun 2x, Petrus 3x dan dikonfirmasi balik 1x, dll). Ini semua agar wahyu-sorga tidak terbaur dengan mimpi fantasi dunia maya. Bagaimanapun, Mahatahu dan Mahadaya cipta Allah tidak akan memilih moda-komunikasi yang begitu kerdil, rancu dan rentan salah paham, untuk menyampaikan sebuah message Tuhan yang terbesar  bagi umat manusia, lewat Abraham, Bapa Bangsa-bangsa dan Nabi yang digelar Sahabat Elohim. (BERSAMBUNG ke bag.2)

Wednesday, July 24, 2013

MENGAPA MATAHARI HARUS TENGGELAM DALAM KOLAM LUMPUR HITAM ??



(andaikan saja nabi Muhamad sempat melihat gambar yang saya copy dari google ini, maka saya yakin beliau akan mengatakan bahwa, "ternyata matahari tenggelam di balik rerimbunan pohon", dan akan langsung melakukan nasikh-mansukh untuk merevisi kitab sucinya)

======================================================
Mungkin sebagian pembaca yang tidak mengerti dasar sains muslim akan mengernyitkan dahi begitu membaca judul artikel diatas atau bahkan geleng-geleng kepala, namun tidak demikian bagi muslim yang sangat yakin dan menyandarkan sains mereka yang bersumber dari Quran. Disini pembaca yang awam harus mulai membiasakan diri ; bagaimana sains muslim itu dibangun.

Aku(=Abu Dzar) pernah membonceng rasulullah SAW berada di atas keledai saat matahari berada di arah barat. Kemudian beliau bersabda: “Tahukah di manakah matahari ini tenggelam?”. Aku menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari tenggelam di MATA AIR(= aynin) YANG BERLUMPUR HITAM”.
(Hadist HR. Abu Daud, no. 3488).

Hadist ini jelas-jelas menerangkan bahwa sumber mata air tersebut disebut berlumpur hitam. Air memancar dari mata air berlumpur hitam tersebut terkumpul dalam suatu kubangan macem embung/empang atau danau yang menjadi tempat tenggelamnya matahari. Ibaratnya macem kerbau pulang ke kandang di sore hari setelah menjelajah savana. Jadi minturut hadist ini, matahari memang akan selalu tenggelam/berkubang  di dalam perut bumi tepat di dalam(kubangan) lumpur hitam!!. Marilah kita bersama menyimak ayat suci yang mendukung sains “cemerlang” ini ;

QS 18 : 86, “ Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat....”

Dari uraian yang dijelaskan dalam ayat suci tersebut diatas dan dibandingkan dengan hadist dalam paragraf sebelumnya nampaknya saling mendukung dan membenarkan dasar sains muslim bahwa, “ matahari memang tenggelam dalam semacem kolam/empang/embung/kubangan/danau/laut berlumpur hitam”.  Inilah sains terbaik dan menjadi dasar sains yang dibanggakan muslim hingga hari ini.

Ada beberapa sarjana dan tokoh muslim terkenal yang berusaha menerangkan sampai jungkir balik agar ayat ini nampak masuk akal dan diterima khalayak, namun kenyataannya apa yang dilakukan mereka malah bikin situasi menjadi lebih fatal lagi karena menurut mereka bahwa ; ”yang dimaksud adalah matahari tenggelam di dalam laut yang didasarnya memiliki/berlumpur hitam”.

Kesimpulan dan keterangan para sarjana muslim tersebut diatas sangat Fatal dan Keblinger, karena ;

1.    Laut yang dimaksud dalam ayat tersebut jelas laut yang berada dan yang merupakan bagian dari bumi, bukan laut di angkasa, sehingga matahari yang berukuran ribuan kali lipat dari bumi tidak mungkin parkir atau masuk dan tenggelam dalam perut bumi melalui laut tersebut.
2.    Pusat tata surya adalah matahari, bumi mengitarinya, sehingga siang-malam dan gelap-terang pada bagian tertentu di bumi ditentukan oleh perputaran bumi terhadap matahari.
3.    Sehingga ayat suci tersebut tidak mungkin berasal dari Tuhan.

Sehingga bila kita kembali ke judul artikel ini, ”Mengapa matahari harus tenggelam di dalam kolam lumpur hitam ??”. Walaupun semua umat manusia tahu bahwa matahari tidak pernah tenggelam dalam kolam lumpur hitam dan tidak pernah tercari lokasinya, namun jawabannya cukup jelas dan sungguh fantastis, “Karena Alquran dan hadist mengatakannya begitu !!”.

Sungguh sangat menakjubkan dasar sains muslim...

Adakah yang memiliki pandangan lain tentang matahari yang tenggelam dalam lumpur hitam seperti yang diterangkan dalam hadist sahih dan Alquran ini..?? tuliskan uneg-uneg anda dalam box komentar, namun gunakan bahasa yang baik dan jangan sampai mengancam eksistensi umat lain...

Thursday, July 4, 2013

GELORA BIRAHI (nabi) MUHAMAD YANG MEMBARA TERHADAP KEMOLEKAN MENANTUNYA


[Sebuah episode kisah panutan dari nabi besar Muhamad yang layak dan patut dicontoh oleh kita muslim....]
Syahdan, nabi besar junjungan kita Muhammad memiliki menantu perempuan belia yang teramat sangat cantik yang bahkan goyangan pinggulnya sewaktu berjalan bikin gempor dan tidak berdaya para lelaki hidung belang manapun bahkan termasuk nabi besar junjungan kita ini. Perempuan menantu sang nabi besar yang kerling matanya konon bahkan sanggup meruntuhkan bulan ini bernama Zainab Binti Jash yang adalah istri dari anak angkat Muhammad sendiri yang bernama Zaid Bin Mohammed!!.

Cerita bermula pada suatu pagi yang cerah, dan entah ngimpi apa semalem, atau ini memang alasan klise bagi lelaki hidung belang manapun, ketika itu Muhammad sengaja secara sembunyi-sembunyi berjalan untuk berkunjung dan masuk ke rumah menantunya yang semlohai tersebut dengan alasan untuk mencari Zaid yang kebetulan banget(mungkin Muhamad memang sudah tahu sebelumnya kalau Zaid tidak berada dirumahnya)dia tertegun dan hanya bisa menelan ludah begitu melihat lekuk liku body Zainab yang baru bangun tidur yang tentu saja dalam kondisi setengah telanjang..... dan entah setan mana  yang merasukinya, Muhammad bukannya memalingkan muka karena malu, namun nabi besar panutan kita yang terkenal bijaksana ini malah bergetar kakinya hingga pinggang dan keluar keringat dingin serta terpaku ditempat dia berdiri tapi lama-kelamaan malah nampak begitu senang sekali dan justru sangat menikmati pemandangan yang langsung membangkitkan dan membakar gelora birahinya ini...... [lanjutan kisahnya sungguh sulit ditelaah dengan akal sehat siapapun, karena ternyata nabi besar junjungan kita yang bijaksana ini justru gelora birahinya semakin membara terhadap menantunya sendiri dan begitu kebelet ingin segera menuntaskan nafsu binatangnya bahkan ingin menjadikannya bini...!!]

Sumber :
Lings, halaman 341 – 342 :
Suatu hari, nabi pergi kerumah Zaid …. Ketika beliau datang Zaid sedang tidak ada di rumah. Zainab, karena tidak menyangka akan ada tamu diwaktu-waktu tersebut,sedang berpakaian seadanya. ….. Zainab lari kepintu tanpa mengenakan alas kaki untuk mempersilahkan nabi masuk dan menunggu hingga suaminya kembali. “Dia sedang tidak ada hai Rasulullah” katanya, tetapi demi bapak dan ibuku, silahkan masuk”. Saat Zainab berdiri dipintu, ia tampak berseri-seri dan riang gembira, dan nabi kagum oleh kecantikannya’.

Abbas Jamal, halaman 55
Tapi apa lacur, sedang baginda nabi mengucapkan asalamu’alaikum sebagaimana lazimnya berliau bertamu, maka yang menjawab adalah Zainab istri Zaid yang dalam keadaan sedang terburu-buru membetulkan pakaiannya yang belum sempurna terpakai. Tentu saja hal ini berakibat tampaknya sebagian aurat Zainab oleh Rasulullah… Setengah riwayat menyatakan bahwa Zainab dalam keadaan berpakaian tipis ……

Atau dari cerita Muhammad Ibn Yahya Ibn Hayyan,
“Rasul datang ke rumah Zaid Ibn Harith mencarinya. Mungkin rasul tak menjumpainya saat itu, itu sebabnya dia bertanya, “Dimana Zaid?” dia masuk rumah mencarinya dan, saat tidak menemukannya, Zainab Binti Jahsh berdiri untuk menemuinya dengan memakai baju tipis yang memperlihatkan kemolekan tubuh Zainab, Ketika mata rasul menatap keindahan tubuh Zainab, dia berkata, “Fa tabarak Allah ahsan al khaleqeen (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) yang mengubah hati tiap laki2” Zainab kemudian berkata, “Dia tidak disini, rasul, masuklah, ayah dan ibuku adalah tebusannya.” Rasul menolak masuk. Zainab lantas memakai baju ketika mendengar rasul ada dipintu, lantas meloncat dan rasul menyukainya ketika dia meloncat itu. Hati sang rasul dipenuhi oleh kekaguman(gelora seks) akan Zainab.

Ketika Zaid pulang, Zainab memberitahukan suaminya bahwa rasul mencarinya. Zaid bertanya, “kau menyuruhnya masuk tidak?” dia menjawab, “aku tawarkan, tapi dia menolak.” Dia bilang, “apa kau dengar dia bilang sesuatu?” Jawabnya, “kudengar dia berkata sesuatu tapi yang kumengerti hanya: Terpujilah Tuhan yang mengatur hati tiap laki-laki”. Zaid menemui rasul dan berkata, “O rasul, kudengar kau datang kerumahku. Apa kau masuk? Mungkin kau menyukai Zainab. Aku bisa saja meninggalkannya.” Rasul berkata, “pertahankanlah istrimu.” Zaid berkata, “O rasul, aku akan meninggalkannya.” Rasul berkata, “pertahankan istrimu.” Jadi ketika Zaid meninggalkan istrinya, Zainab selesai masa mensnya setelah dia mengasingkan dirinya dari Zaid. Sementara rasul duduk dan bicara dengan Aisyah, dia lalu kerasukan, dan ketika berdiri, dia tersenyum dan berkata, “Siapa yang akan pergi ke Zainab memberitahukannya bahwa Tuhan menikahkannya padaku disurga?” Rasul membaca (QS 33:40): “Jadi kau katakan pada seseorang yang Tuhan senangi dan mereka yang kau sendiri senangi: pertahankan istrimu.” Aisyah berkata, “Banyak kudengar tentang kecantikannya dan yang terlebih lagi, tentang Alloh menikahkannya disurga, dan kubilang, “Pasti dia membanggakan diri mengenai ini pada kita.” Salama, budak dari rasul, cepat2 memberitahunya tentang ini. Dia memberinya beberapa perhiasan perak yang dia pakai.”

Dari cerita diatas kita dapat melihat bahwa Zainab bukanlah seorang istri yang jinak, Zainab begitu bangga karena Rasulullah tertarik padanya, oleh karena itu ia menceritakan peristiwa itu kepada suaminya dan Zaid yang memang menganggap Muhammad seperti Tuhan, akhirnya dengan bangga mempersembahkan istrinya pada Muhammad dengan menceraikannya.

Dalam budaya Arab, menantu wanita bagaikan anak perempuan sendiri, tidak peduli apakah dia itu istri dari anak angkat atau anak kandung. Kabar sang Nabi tertarik pada istri anaknya sendiri membuat masyarakat Medinah bertanya-tanya. Ini benar-benar tabu dalam budaya Arab sebelum islam. Karena itulah setelah Zaid menawarkan Zainab pada Muhammad, sang rasul yang pada awalnya telah bergairah pada Zainab mulai berpikir bagaimana mengatasi pertanyaan-pertanyaan masyarakat Medinah. Ah, gampang, kan ada Alloh. Kemudian diturunkanlah ayat berikut;

Sura al-Ahzab Q.33: 40:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Sura al-Ahzab Q.33: 37:
"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Mendengar ayat-ayat diatas, Aisha yang saat itu berumur sekitar 14 tahun mulai merasa gelisah, karena bertambah lagi saingannya, apalagi Zainab sangatlah cantik, bahkan buku disurga telah menuliskan pernikahan Muhammad dan Zainab ini. Aisyah berpikir bahwa Zainab akan membanggakan dirinya, karena ialah satu-satunya istri yang dinikahkan disurga oleh Allah. Dikemudian hari kekhawatiran Aisyah terbukti, istri-istri Muhammad terpecah menjadi 2 kubu, yaitu kubunya Aisha, Saudah, serta Hafsa sebagai istri-istri awal, berhadapan dengan kubunya Zainab dan Umm Salama dan istri-istri lainnya.

Karena peristiwa Muhammad ingin menikahi istri dari anak angkatnya ini, maka tradisi adopsi anak yang dahulu sering dilakukan untuk membantu anak-anak yatim tidak diperbolehkan lagi. Muhammad merubah adopsi yang bertujuan mulia tersebut menjadi terlarang. Kemudian dengan begitu ia juga memperbolehkan siapa saja untuk menikahi istri anak angkatnya, para wanita yang seharusnya dianggap sebagai anaknya sendiri.

Bagaimana cara pembela Islam untuk mempertahankan kisah ini agar tampak religius?

Muhammad Husain Haikal, misalnya, dalam rangka menyangkal pernyataan V. Vacca dalam ensiklopedi Islam mengenai Zainab, berkata mengenai “perbuatan mulia” dari Muhammad, yang oleh para orientalis diubah menjadi kisah romans. Dia berkata, “Mengenai Zainab binti Jahsh, yang dibuat oleh para orientalis menjadi sebuah khayalan romans dan percintaan, Sejarah yang sebenarnya mempertimbangkan bahwa itu (pernikahan Muhammad dengan Zainab) adalah salah satu perbuatan mulia dari Muhammad. Dengan menjadi contoh iman yang sempurna, dia terapkan pada Zainab sebuah hadist yang mengatakan, “Iman seorang lelaki belumlah sempurna hingga dia cinta pada saudaranya seperti dia cinta untuk dirinya.”

Para pembela ini menyimpulkan bahwa itu adalah satu dari banyak segi hebat dari kepribadian Muhammad. Bukti yang menjawab semua pertanyaan bahwa Muhammad adalah contoh yang sempurna bagi hukum yang dia bawa khususnya jika hukum itu ditujukan untuk mengganti tradisi dan kebiasaan orang-orang Arab sebelum Islam. Muhammad adalah contoh dari sistem baru yang Tuhan tampilkan melaluinya sebagai rasa sayang dan petunjuk bagi umat manusia.

Dilain pihak, kebiasaan dan tradisi Arab menuntut bahwa anak adopsi / angkat mendapat warisan dari ayah angkatnya, sama seperti anak-anak kandungnya. Dan karena kebiasaan ini juga menjadi objek dari serangan Muhammad, pilihannya akan Zaid menjadi ujung tombak dari reformasi pertamanya, yang akhirnya menjadikan dia, jika dia siap untuk melepaskan warisan yang mana kebiasaan Arab mengharuskannya, ujung tombak dari undang-undang pelarangan waris kecuali bagi yang sedarah dari turunan dan keluarga yang meninggal. Hal ini tentu saja melengkapi wahyu: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.33: 36)”

Yang menjadi pertanyaan adalah logiskah Allah mengirim Jibril untuk membenarkan skandal Muhammad, yang jelas-jelas tabu dimata masyarakat Arab sendiri?

Bukankah ini hanya akal-akalan Muhammad saja, ketika ia bernafsu melihat kemolekan tubuh Zainab dan ingin memiliki wanita tersebut?

Bukankah Allah seharusnya bermoral mulia, namun melarang adopsi bukalah sebuah tindakan yang bermoral. Melarang minum alkohol, berzina, judi, sihir, membunuh dll, bisa jadi sebuah tindakan bermoral. Tapi kenapa melarang adopsi?

Jawabnya karena Allah bukanlah Tuhan, ia hanyalah boneka Muhammad.

Dimalam pernikahan Muhammad dengan Zainab ini, sang rasul mengadakan pesta dan mengundang beberapa sahabat. Berikut kisahnya;

Sahih Bukhari Book 60, Number 314:
Diriwayatkan Anas bin Malik; Ketika Rasulullah menikahi Zainab bint Jash, beliau mengundang orang-orang untuk makan. Merekapun makan-makan sambil duduk dan mengobrol. Lalu rasul memberi tanda bahwa ia telah siap untuk berdiri (dengan tujuan untuk menyuruh mereka pulang), namun mereka tetap saja masih duduk. Ketika rasul melihat orang-orang tidak merespon tindakannya, ia kemudian bangkit berdiri dan keluar, lalu orang-orang juga beranjak dari duduknya, kecuali 3 orang yang masih tetap duduk. Rasulullah kembali masuk, namun langsung keluar rumah lagi. Melihat itu tiga orang tersebut akhirnya pergi, aku kemudian bilang pada rasul bahwa orang-orang tadi telah pergi, rasul lalu melangkah untuk memasuki rumahnya. Aku berniat masuk kerumah bersama rasul, namun beliau menurunkan tirai diantara aku dan beliau. Kemudian Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki…. (QS 33:53).”

Sahih Muslim No.2565
Diriwayatkan Anas bin Malik, ia berkata: Aku menghadiri pesta perkawinan Zainab, di mana Rasulullah membuat orang-orang merasa kenyang memakan roti dan daging dan beliau juga mengutusku untuk mengundang orang-orang. Setelah acara walimah selesai, beliau berdiri dan beranjak dari tempatnya, dan aku mengikutinya. Pada saat itu masih ada dua orang tamu laki-laki yang belum keluar karena mereka masih asyik berbicara. Nabi lalu melewati beberapa istrinya yang lain. Beliau mengucapkan salam kepada mereka masing-masing(tamunya) lalu bertanya: Bagaimana keadaan kalian semua, wahai anggota keluarga? Mereka menjawab: Baik, wahai Rasulullah. Mereka balik bertanya: Bagaimana dengan keadaan keluargamu? Beliau menjawab: Baik. Setelah selesai beliau kembali dan aku pun ikut kembali. Sesampai di pintu, dua orang tamu laki-laki yang masih asyik berbicara tadi masih ada, namun begitu melihat Nabi kembali mereka cepat-cepat berdiri dan terus keluar. Demi Allah, aku tidak tahu apakah aku yang telah memberitahukan beliau bahwa mereka telah keluar atau wahyu telah turun kepadanya. Sementara aku terus saja mengikuti beliau. Namun begitu kakinya menginjak ambang pintu, segera saja beliau menurunkan kain tirai sehingga aku terhalang dari beliau. Lalu Allah menurunkan ayat berikut ini: Janganlah kamu memasuki rumah Nabi kecuali kamu sudah mendapatkan izinnya.

Ini ayat yang diucapkan nabi kita tersebut;

Sura al-Ahzab Q.33: 53:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Untuk apa Allah mengeluarkan ayat sepele ini? Yaitu untuk memenuhi keinginan Muhammad.

Saat itu gelora birahi malam pertama Muhammad begitu telah membara terhadap mantan menantunya  tersebut sudah tak tertahankan lagi.
Muhammad telah berkali-kali memberikan kode agar para tamu undangan segera pulang, tapi masih saja ada DUA TAMU dan ANAS yang ngeyel tak mau pulang. Muhammad bahkan mengulangi kodenya, akhirnya kedua tamunya pun pulang. Hasrat birahinya sudah semakin membara, namun Anas masih saja ingin bersama rasul. Muhammad akhirnya menempuh cara terang-teranganan untuk mengusir Anas dengan cara menutup tirai di antara mereka berdua. Tapi karena Anas ternyata masih berada dibalik tirai dan tak pulang-pulang juga, terpaksa Muhamad atas nama Alloh ngeluarin JURUS PAMUNGKAS dengan menurunkan ayat-ayat Alloh tersebut diatas.... semata agar nabi besar junjungan kita yang gila seks ini segera dapat menuntaskan gelora birahinya yang sudah tidak tertahankan dengan menantunya....