Monday, August 19, 2013

Perbedaan Yang Begitu Tajam Makna Kurban Darah/Sembelihan Antara Kristiani dan Islam (2).



(Logika manapun akan mengatakan bahwa sumber sejarah otentik tertua Nabi-Nabi Tuhan adalah Kitab Yahudi yang juga merupakan sumber sejarah bagi Umat Kristiani, dan tentunya juga bagi Umat lain yang mengakui eksistensi Nabi-Nabi Tuhan karena memang dari sanalah Para Nabi Tuhan berasal. Bila masih ada komunitas iman tertentu yang masih mempertanyakan otentisitas Kitab Yahudi sebagai Rangkuman sejarah Para Nabi Tuhan, mestinya sudah “terhenyak heran” ketika membaca “the dead sea scroll” yang ditemukan pada 1949, karena “ternyata anggapan yang telah terlanjur diajarkan kepada mereka secara turun temurun ternyata telah terbantahkan dengan keras yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai temuan terbesar abad ini !!”  
Sekali lagi, semua artikel yang saya release dalam web ini bukan merupakan artikel olok-olok dan bukan bermaksud memfitnah, namun dalam usaha membuka mata akan klaim kebenaran dari sudut pandang yang berbeda antara dua komunitas iman yang berbeda. Artikel ini saya kutip sepenuhnya dari website  www.answeringislam.com karya Kalangi dengan judul asli, “Syariat Qurban Di Hari Raya Haji, Kini Patut Dipertanyakan Muslim” (Bagian 2).

Muslim yang membaca artikel ini sebaiknya tidak buru-buru apriori seperti orang kebakaran jenggot sebagaimana umumnya yang terjadi di berbagai belahan dunia yang yang rata-rata “hanya bisa mengecam dan mengancam” justru dketika kepada mereka ditunjukkan kebenaran, sehingga penulis sarankan agar membaca dengan perlahan dengan hati putih dan tidak terburu-buru, selanjutnya silahkan memverifikasi seluruh kutipan baik ayat Alquran maupun hadist sahih dalam artikel ini untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya, selamat membaca_Sang Timur).

Kita telah menyaksikan diatas betapa buruk dan rancunya “wahyu”  Allah SWT ketika Ia harus mewahyu-ulang apa-apa yang telah diturunkan dengan segenap otoritas kedalam Taurat Musa, seperti yang termaktub dalam Alkitab 2600 tahun sebelumnya, simak Kitab Kejadian 22: 1-19 sebagai berikut,
22:1  Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman  kepadanya:  “Abraham” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”
22:2  Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
22:3  Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
22:4  Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
22:5  Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”
22:6  Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:7  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa”, Sahut Abraham:  ”Ya, anakku”. Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
22:8  Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:9  Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
22:10  Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
22:11  Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham", sahutnya: "Ya, Tuhan."
22:12  Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."
22:13  Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
22:14  Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN (akan) menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Tampak betapa lancar, utuh, logis dan penuh otoritasnya pasal tersebut  sebagai buah Firman, ketimbang ayat-ayat Quran yang berantakan dalam kisah “korban sembelihan”. Alkitab mengatakan satu hal, tetapi Quran justru mengosongkannya, atau melencengkannya kepada yang lain sehingga acak, kacau, hilang makna dan tema sasaran. Lihatlah misalnya:
  • Tuhan sendiri berfirman kepada Abraham, tetapi ini dilencengkan  menjadi Ibrahim sendiri yang bermimpi tentang penyembelihan anaknya, tanpa ada sangkut paut dan persinggungan sedikitpun dengan Allah.
  • Anak yang diminta untuk dikorbankan adalah “Ishak, dikaburkan jadi “anak”.
  • Seluruh tema “mempersembahkan korban bakaran bagi Tuhan”,  dilenceng-kan  menjadi perbaringan sang anak, atau paling banter semacam persiapan persembelihan (tetapi bukan persembahan untuk Allah!).
  • Abraham mempersiapkan pisau, api dan kayu, dan mendirikan mezbah, mengikat Ishak dan membaringkannya diatas kayu api di mezbah, siap untuk memasuki ritual korban bakaran. Ini dikosongkan/dikorup sama sekali oleh Quran dan diganti dengan “membaringkan” sang anak! Hanya itu!
  • Suara Tuhan dalam suasana genting berseru untuk menghentikan tindak peneyembelihan:“Abraham, Abraham (2 kali).… Jangan bunuh… Jangan kauapa-apakan…”, ini diganti menjadi suara Allah SWT yang memanggil nama Abraham (1 kali saja), tidak ada urgensi dan perintah STOP yang melarang penyembelihan! Melainkan hanya berfirman umum yang tidak genting: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya …., sesungguhnya…”. 3X “sesungguhnya” yang diucapkan Allah secara boros diluar konteks malah menjadikannya “tidak sungguh”!
  • Domba dihadirkan, disediakan oleh Tuhan sendiri, sesuai dengan tamsilan karya-Nya sekarang dan kelak: “TUHAN (akan) Menyediakan” (THE LORD WILL PROVIDE). Kenapa ada rujukan waktu “akan” (will) dalam provisi Tuhan yang satu ini? Ya, itulah bagian nubuat yang akan digenapi Tuhan kelak (akan dijelaskan nanti).Ayat nubuat dengan makna rohani yang paling penting ini ternyata dikosongkan total dari Quran!
  • Tuhan bertindak sehingga: “Domba itu dikorbankan sebagai korban bakaran pengganti anaknya” .Ayat ini di paraphrase-kan dalam konteks dan konten yang tidak jelas menjadi:  “Dan Kami tebus anak itu dengan (seekor ) sembelihan yang besar”.
Sekarang menjadi pertanyaan besar, kenapa Allah SWT tidak mampu mengulang Firman yang lebih unggul atau sama jelasnya ketika Ia berwahyu-ulang kepada masyarakat Arab yang katanya lebih maju bahasanya 2600 tahun kemudian? Atau setidaknya, meng-copy saja ayat-ayat asli kuno tersebut kedalam style Arabic khas Quran yang katanya tiada tandingan itu? Bahkan bukankah inferioritas surat Quran terhadap tandingannya (yang terkenal dengan Surat Semisal Quran) bisa-bisa dijadikan bukti bahwa Quran itu tidak datang dari sisi Allah? (Qs. 17:88, 52:34, 2:23, 10:37-38). Itu pasti telah menambah daftar kerumitan Muslim terhadap otoritas Quran sebagai wahyu Allah.Mari kita kini masuk kepada puncak misteri kisah penyembelihan yang selama ini tertutup bagi Muslim.

Kelima
Maka simaklah ayat pokok 107 itu baik-baik. Tidak seperti pada Alkitab, ayat ini muncul tanpa konteks jelas yang mendahuluinya. Tiba-tiba saja ayat ini muncul berbicara tentang peran satu kurban sembelihan teramat besar yang Allah jadikan penebus atas kematian anak Ibrahim:
“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar” (Wa fa dainaahu bi dzibhin ’azhiim”).
(Bandingkan ini dengan ayat-ayat di Kitab Kejadian sebelum ayat 22:13, dimana Tuhan menghentikan tindak Abraham yang siap menyembelih anaknya, lalu barulah menggantikan sang anak dengan seekor domba jantan yang disediakan-Nya sendiri):
“…mengorbankannya (domba itu) sebagai korban bakaran pengganti anaknya” (ayat 13).

Banyak teman Muslim hanya menganggap kasus sembelihan ini sebagai sekedar gertak atau ujian Allah kepada Ibrahim, dan karena Ibrahim lulus testing, maka diberi hadiah tebusan bagi kelulusannya. Muslim tidak menyadari bahwa ayat-ayat itu justru adalah suatu penggambaran dahsyat akan sebuah konsep korban penebusan bagi umat manusia. Muslim praktis tidak diajak oleh ulamanya masuk kedalam details dari makna ayat ini, karena seperti telah dikatakan diatas “The devil is in details”. Akibatnya Muslim kurang bisa menangkap keseluruhan kekuatan-makna yang dahsyat dari ayat Quran ini. Sebab kejelasan konsep tebusan ini terhalang oleh terjemahan/tafsiran para ulama yang apriori  menjuruskan makna “kurban” itu kepada pengertian harfiah yang dipatok mati menjadi “seekor HEWAN sembelihan besar”. Padahal wahyu surgawi ini justru berbicara tentang sosok “kurban penebus anak Ibrahim” dalam makna penggambaran! Hal inilah yang menyebabkan para pakar Islam saling berselisih memaknai hakekat ayat ini. Sebagian pakar Muslim berputar-putar menafsirkan kurban yang besar ini sebagai seekor binatang yang tambun fisiknya. Tentu saja itu tafsiran konyol! Cerahkanlah sendiri pemahaman Anda dengan membandingkan kritis sejumlah terjemahan berikut ini tentang sosok kurban:
* “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (terjm. Depag)
* “Dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang besar” (terjm. Disbintalad)
*“And We ransomed his son with a costly victim” (sebuah kurban yang mahal, terjm. J.M.Rodwell)
* “… with a noble sacrifice” (sebuah kurban agung/ mulia, terjm. N.J. Dawood)
* “… with a mighty sacrifice” (sebuah kurban yang perkasa, terjm. Arberry)
* “… with a tremendous victim” (sebuah kurban yang dahsyat, terjm. Mohammed Pickthall)
* “… with a great sacrifice” (sebuah kurban yang besar/ hebat, terjm. Yusuf Ali).

Apa yang Anda lihat lagi disini?

Menebus berarti membeli balik dengan membayar harga yang sesuai.
Dan dari makna asli ayat diatas, kita mencatat gambaran bahwa harga yang sangat luar biasalah yang harus dibayar oleh Tuhan (!) bagi sebuah  penebusan untuk anak Ibrahim. Itu adalah satu sosok kurban dengan segala kebesaran, keagungan, kemuliaan, kedahsyatan, keperkasaan ‘azhiim’ yang amat besar nilainya yang ditamzilkan Allah  sebagai  Penebus  untuk men-substitusikan kematian semua anak-anak Ibrahim kelak (karena dia Bapak bangsa-bangsa orang beriman). Sedemikian besar harga sosok kurban itu sehingga pewahyuan Quran HARUS memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma Allah, yaitu Al-Azhim(Yang Maha-Agung). Selama pakar Muslim mengkotakkan sosok tersebut secara harafiah hanya sebagai seekor binatang tambun, mereka tidak mampu memahami masalah masalah detail berikut ini:

(a) Apa perlu-perlunya sang anak itu disuruh dibunuh lalu ditebus oleh Allah agar memiliki sang anak kembali?                               

Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah tak perlu memerintahkan pembunuhan (nabi membunuh anak calon nabi!). Ada sejuta cara lain yang halal pada Mahatahunya Allah dan yang tidak menjadi batu sandungan. Dan bila hanya sekedar untuk testing, cukup Ibrahim melepaskan anaknya tanpa usah tebusan kurban, bukan? Ujian iman serentak telah berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim “STOP, jangan bunuh anakmu!”

(b)  Dan kenapa Allah memerlukan kematian-kurban? Apakah anak Ibrahim itu bersalah sehingga ia harus dibunuh, lalu harus pula ditebus?
Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Bukankah hal itu yang justru diperlukan oleh SETAN? Itulah. Kematian kurban ini adalah gambaran tamzil dari kematian seorang Al Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang sudah diniscayakan kepada setiap manusia berdosa (Qs.19:71, Roma 6:23, Kejadian 2:17) karena semua manusia itu berdosa. Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum Kasih Tuhan kini dapat berkata, “Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius  20:28).
Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Maha-kasih (yang akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa hakekat diriNya yang Maha-adil?

Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi Non-Adil; dan ketika Ia menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi Non-Kasih. Ketegangan (“kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban sebagai Penebus – pembayar harga kematian – yang mempertemukan Keadilan Tuhan dengan Kasih Tuhan! Kini Ia tetap Maha-adil ketika mengampuni dalam kasihNya, karena Tuhan sendiri telah membayar harga keadilan itu lewat kematian Al Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam dunia! Anda dan saya yang berdosa - ditamzilkan sebagai anak Abraham yang harus mati/disembelih, namun kita diselamatkan Tuhan dengan sebuah tebusan Anak Domba Tuhan yang mahal yang diperlambangkan oleh Yesus Mesias sebagai korban penyaliban. Agar perlambangannya absah dan tidak nyeleweng, maka Nabi Yahya sengaja diutus mendahului Yesus demi untuk mengkonfirmasikan hal tersebut. Itu terjadi ketika Yesus datang menghampiri Nabi Yahya secara fisik, dan Yahya pun berseru:
“Lihatlah Anak Domba Tuhan (Yesus), yang menghapus dosa dunia.” (Yoh.1:29).
Sosok Kurban Anak Domba itu (akan disediakan Tuhan) sebagai pengganti sang anak yang harus mati (ayat 13 berkaitan ayat 8 & 14). Istilah “akan” disini sengaja dipakai Tuhan demi menunjukkan pula akan nubuat yang kelak akan terjadi atas apa yang sudah terjadi dalam tamzilan kasus Abraham ini! “Anak Domba Tuhan” yang ‘azhiim” itulah yang kelak akan dikurbankan disalib untuk menebus kematian “anak-anak Abraham” yang telah berdosa dan terkutuk kematian. 

(c) Andaikata tebusan bagi sang anak itu hanya harfiah seekor binatang, kenapa si penebus (binatang) justru dianggap bernilai sangat “agung-mulia-dahsyat-mahal-perkasa-hebat” ketimbang yang ditebus-nya (manusia)?
Tak ada jawaban, kecuali itu adalah Sang Penebus!
Itulah kematian-kurban yang sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, seperti yang telah dibicarakan dimuka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban Anda dan saya jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah dihari raya Haji? Korban semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai sosial dan religi.
“HUKUM KURBAN” ATAU “HUKUM SEDEKAH”?

Jadi sekarang semua substansi kembali dan berpusat kepada “Kurban agung yang disediakan oleh Allah sendiri untuk penebusan anak (berdosa)”. Abraham atau anaknya tidak menyedekahi siapapun. Kisah itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Hari Raya Qurban yang MENSYARIATKAN potong kambing dan ramai-ramai pemberian sedekahan dari manusia bagi sesamanya (yang bersifat horizontal). Kisah ini semata-mata bersifat dan berurusan vertikal, dimana Tuhan beracara dari atas untuk memberi penyelamatan kepada anak-anak manusia. Dan ini merujuk kepada “konsep tebusan darah” yang diharuskan Tuhan didalam Taurat sejak dari zaman Adam ketika Kain dan Habel(Qabil-Habil) mempersembahkan korban, dan seterusnya hingga kepada Yesus yang menumpahkan darahnya sebagai korban diatas salib. Tak ada syariat apapun yang perlu diusahakan dan dijalankan disini kecuali percaya, beriman dan taat kepada Penebus dosa yang Tuhan sediakan (Yohanes 14:1, 1:29, Qs 3:50, 43:63). Bahwa belakangan, lewat ulangan-wahyu 2600 tahun kemudian terjadi tradisi penyembelihan kambing kurban untuk disedekahkan kepada orang miskin, itu hanyalah pelencengan dari maklumat Tuhan tentang konsep tebusan darah Anak Domba yang Tuhan sediakan untuk kita imani. 

Muslim sering berkata bahwa Tuhan cukup mengampuni dosaku bilamana aku menyesal dan bertobat. Tetapi kenyataannya sekalipun Anda menyesal atas dosa Anda, namun penyesalan itu sendiri tidak merupakan pembenaran atas dosa yang telah Anda lakukan. Seorang pencuri yang menyatakan penyesalannya dimuka pengadilan tetaplah ia pencuri. Ia tidak dibebaskan atau dibenarkan semata-mata karena penyesalannya, melainkan hanya dibebaskan bilamana ia telah membayar lunas hukumannya, ATAU dosanya telah ditebus lewat suatu harga hukum-kurban yang Tuhan berlakukan sendiri. Dan dimata Tuhan, harga yang berlaku adalah suatu kurban tebusan dengan penumpahan darah.

Tuhan berbicara dengan Musa, menegaskan bahwa  hanya darah yang tertumpah diatas mezbah saja dipakai Tuhan sebagai alat pengampunan dosa:
“Karena nyawa mahluk ada didalam darahnya dan Aku  telah memberikan darah itu kepadamu diatas mezbah untuk mengadakan perdamaian (penebusan) dengan perantaraan nyawa” (Imamat 17:11)
Kitab Ibrani 9:22  mengatakan : “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”

Itulah simbol tebusan Tuhan lewat darah korban persembahan dalam Perjanjian Lama yang diperlukan terus menerus untuk setiap penebusan dosa (setelah membayar kerugian-kerugian materi kepada pihak yang terkorban).  Namun semua korban-korban binatang dan persembahan hanyalah merupakan sinyal-sinyal, simbol-simbol, tamzil dan bayang-bayang sementara, dan merupakan pengantar menuju kepada pengurbanan permanen,berlaku sekali dan untuk seterusnya, yaitu darah Yesus yang disalibkan (Ibrani 9:28). Pengurbanan yang kudus tanpa cacat inilah yang menandai suatu Perjanjian Baru untuk keselamatan seluruh umat manusia sekarang yang mau mengimani Sang Korban Agung:
“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibrani 10:14).

Kita menyaksikan bahwa teman Muslim banyak mendapat ajaran dari ulamanya yang menafsir Alkitab menurut agendanya sendiri. Sekarang ketahuanlah bahwa konsep penebusan darah Anak Domba lewat salib bukanlah bikin-bikinan Paulus, melainkan justru sudah  diucapkan dan digambarkan Tuhan sendiri sejak Adam dan Hawa dan dinubuatkan oleh para Nabi dan dipersaksikan oleh Nabi Yahya muka per muka dengan Yesus, yang bahkan dikonfirmasi balik oleh Yesus sendiri….                     

Inilah antara lain kata-kata nubuat  dari setiap sosok:
Abraham, “Tuhan  yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya” (Kejadian. 22:8)
Yohanes (Yahya), “Lihatlah Anak Domba Tuhan, Yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29)
Tuhan Elohim, “Aku telah memberikan  darah itu kepadamu diatas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu...” (Imamat 17:11)
Yesus Mesias,“Sebab  inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28)

APA YANG DIKORUP QURAN?

Akhirnya, kita menyadari betapa Quran yang mengklaim sebagai wahyu korektif dan terakhir, namun justru memperlihatkan wajah sejatinya yang tidak berkualitas sebagai Firman Tuhan. Wahyu-ulangan yang seharusnya menjelaskan dan menyempurnakan justru terbalik dalam perannya yang mengacaukan. Bahkan bukan hanya itu. Justru yang paling mengenaskan adalah terkorupnya begitu banyak ayat-ayat keselamatan Tuhan yang telah sengaja dikosongkan dan diplintir oleh Quran dengan mengatas-namakan Allah SWT.

Sejak Adam

Sejak kejatuhan manusia pertama, kita menyaksikan bahwa Tuhan setapak demi setapak memperkenalkan sebuah Hukum-Kurban (The Law of Sacrifice) yang merancang penyelamatan manusia dari dosa kematian. Betapa mulai dari Adam dan Hawa, mereka telah membuat cawat penutup kemaluan bagi dirinya yang telanjang (lambang dosa), terbuat dari daun tumbuh-tumbuhan (Kejadian 3:7), dan ini tercantum pula dalam Quran 20:12. Tetapi ternyata Tuhan tidak berkenan dan menolaknya, dan menggantikannya dengan cawat kulit binatang,
“Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka”. (Kejadian 3:21).
Tuhan tidak berkenan dengan cawat daun itu karena dua hal yang amat prinsip. Cawat daun “made by Adam-Hawa” itu tidak absah dimata Tuhan karena itu tidak sesuai dengan the Law of Sacrifice yang perlu dilambangkan oleh penumpahan darah (dalam hal ini lewat cawat kulit binatang). Dan ini paling perlu diajarkan kepada Adam agar bisa diteruskan kepada anak cucunya.

Kedua, cawat daun itu adalah lambang usaha diri manusia untuk menutupi ketelanjangan (dosa) mereka. Manusia tidak bisa mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan kekudusan Tuhan tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000 pahala. Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun si pemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 mesjid! Cawat daun-daun made-by Adam itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit “made-by Tuhan” yang secara hakiki mampu menutup/menebus dosa manusia!

NAMUN! Kembali kita temukan bahwa Quran sengaja mengkorupsi ayat lambang penyelamatan dosa! Ayat tentang cawat kulit dikosongkan samasekali dari Quran (!) walau cawat daun yang kurang penting itu dipertahankan dalam “kekekalan Quran”! Bagaimana harus Muhammad (dengan Jibril-nya) mempertanggung-jawabkan pengosongan perlambangan yang sangat prinsip dan esensial ini?
Hukum-Kurban yang Tuhan rancangkan bagi penyelamatan umat-manusia itulah yang dipilih Muhammad dan Jibril untuk disembunyikan Quran atas nama Allah.

Sejak Qabil dan Habil

Lihat pula anak-anaknya Adam, Kain dan Habel (Qabil dan Habil). Betapa Quran menjelaskan bahwa Tuhan menerima persembahan korban Habel dan menolak persembahan korban Kain, namun aneh, Quran kembali mengosongkan hal yang terpenting, yaitu apa alasannya. Quran menutup, tetapi Alkitab mengungkapkan bahwa persembahan kurban yang bernyawalah (dengan tumpahan darah) yang Tuhan berkenan, bukan tanam-tanaman yang tanpa darah. 
“Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu (buah-buahan-sayur-mayur-umbi-umbian dll) kepada TUHAN sebagai korban persembahan. Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya” (Kejadian 4:4-5).

Sejak Nuh

Tampaknya nabi Nuh sudah cukup paham akan “hukum-kurban” dimana Tuhan akan berkenan atas persembahan korban tatkala dipersembahkan dengan tumpahan darah kurban yang layak. Maka hal pertama yang Nuh lakukan begitu keluar dari bahteranya adalah mendirikan mezbah bagi TUHAN, lalu mempersembahkan korban bakaran dengan hewan-hewan bernyawa diatas mezbah. Dan Tuhan menilainya sebagai “persembahan yang harum” (Kejadian 8:20-22)

Sejak Musa

Tuhan terus tanpa henti memperkenalkan konsep penebusan ini tahap pertahap kepada moyang-moyang yang paling awal. Dan Musa tentu tak luput dari mengisahkannya dalam Tauratnya. Kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah topik favorit yang dicatat Quran berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian, Muhammad kembali absen mencatat peristiwa yang paling inti dari Kisah Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH! Padahal perayaan Paskah adalah event yang paling bersejarah, menyentuh dan heroik bagi setiap orang Yahudi. Tuhan sendirilah yang memerintahkan kisah ini agar tertanam dalam ingatan turun-temurun dalam perayaan Perjamuan Paskah setiap tahun!

Hanya dengan tulah yang paling “mematikan” perlawanan hebat Firaun, maka Firaun akhirnya menyerah kepada tuntutan Musa! Apakah tulah yang paling mematikan Firaun menurut versi Quran dan versi Kitab Musa sendiri? Menurut Musa, itu adalah tulah ke-10, ditimpakan pada Firaun ketika Tuhan mengirim Malaikat kematian untuk mencabut nyawa anak sulung dari setiap keluarga APABILA pintu rumahnya tidak diperciki darah domba! Tuhan berkata:
”Apabila Aku melihat darah itu (ada di pintu), maka Aku akan lewat”.
Itu adalah vonis kematian yang dilewatkan (diluputkan) Tuhan bagi rumah yang bertanda darah kurban (Keluaran 12:13).

Tetapi Muhammad dengan Quran-nya lagi-lagi mengosongkan tulah-10 ini dengan hanya menyodorkan  total 9 tulah saja. Tulah-10 yang merupakan lambang penyelamatan Umat lewat darah-kurban-tebusan, kembali ditiadakan Muhammad! Segera timbul dua pertanyaan kepada setiap kepala yang bernalar:

(1). Apakah tulah-9 nya Quran cukup mematikan tegar tengkuknya Firaun (sehingga Firuan menyerah kepada Musa), mengingat ia masih tidak bergeming ketika ditimpakan tulah-8?

(2). Manakah catatan yang lebih akurat: Taurat Musa yang mencatat konfrontasi dirinya sendiri dengan Firaun, ataukah Muhammad yang mencatat/mendongeng kembali kisah Musa 2000-an tahun setelahnya, entah dari sumber mana? Jawablah dengan batin yang hening!
Tampaknya diseluruh Quran, ”Allah” yang namanya diatas-namakan Muhammad itu telah berusaha untuk menafikan habis-habisan ”Hukum-Kurban” yang tersebar luas diseluruh Alkitab (yang tidak dipaparkan lebih lanjut lagi disini). Ia, Allah SWT meniadakan sosok Penebus yang Tuhan Elohim sediakan sendiri kepada umat-Nya. Untuk itu, kisah penyembelihan anak Ibrahim juga dikosongkan Quran dari segala unsur-unsur persembahan korban bakaran yang baku: tak ada mezbah, tak ada kayu dan api, tali (bahkan pisau?). Bahkan kisah tersebut dihentikan ditengah jalan, dan tidak ada Muslim yang bertanya, bagaimana Muhammad selanjutnya meritualkan persembahan ”kurban hewan” yang Allah sudah hadirkan kepada Ibrahim? Apakah benar hewan itu jadi dipotong? lalu dibakar? atau dibuang? atau dibawa pulang dagingnya? atau disedekahkan kepada manusia lainnya? Atau ... dipersembahkan sebagai korban bakaran kepada Tuhan Yahweh sebagaimana yang Abraham lakukan (mengingat ”agama Ibrahim yang lurus” diwariskan kepada Muhammad, tentu termasuk wahyu-Nya tentang Ibrahim)
TAK ADA JAWABAN... Jikalau begitu, pensedekahan daging kurban di Hari Raya Haji tentu bualan lanjutan dari Muhammad pribadi, dan samasekali bukan dasar yang Tuhan ingin syariatkan !

Akhirnya kita menyaksikan bahwa keselamatan lewat konsep-tebusan-kurban itu tercakup luas dan menyeluruh disemua lini Alkitab. Itu tidak bisa disisipkan dan dipalsukan oleh tangan Paulus dan antek-anteknya (seperti yang Muslim tuduhkan) tanpa merusak kemulusan, logika narasi, konsistensi dan otoritas Alkitab. Pemalsuan fondasi Alkitab tersebut - kalau ada - mustahil dapat dilakukan diam-diam tanpa diketahui oleh jejak sejarah. Ingat bahwa Yahudi dan Kristen yang saling bertikai dikala itu, pasti akan saling memata-matai secara tajam (melebihi Muslim) kalau-kalau ada pihak lawan yang meng-utak-atik Kitab Suci mereka masing-masing. Kenyataannya tak ada satu pihak yang menggugat pihak lainnya. Kebalikannyalah yang justru kita saksikan dimuka hidung kita, ketika wahyu-ulangan 2600 tahun yang lalu dikisahkan kembali secara kacau oleh Quran, apalagi dengan mengkaitkan persyariatan qurban yang nyasar dan tidak kena sasaran sehingga kehilangan inti dan bobot pewahyuan tentang sebuah Kurban Tebusan yang sebenarnya, yaitu:
“Dan Kami menebusnya (anak-anak-Abraham) dengan Kurban yang sangat Agung”!

Alangkah mencemaskan bahwa korupsi quranik justru bercirikan “kematian” (Qs 19:71), yaitu PENGOSONGAN INTI KONSEP KESELAMATAN KEKAL yang Tuhan sendiri tawarkan. Dan alangkah tragisnya sekian milliar teman Muslim dibuat kehilangan Penebusnya. Mereka ramai-ramai disajikan dongeng wahyu-ulangan dan digiring memilih “cawat daun” yang bisa diusahakan sendiri, dan hasil usaha diri itu memang mengasyikkan dan dihargai. Tetapi “cawat-kulit” dari Anak Domba sesungguhnya telah Tuhan sendiri sediakan. Tetapi karena itu diberikan secara cuma-cuma, maka terasa kurang asyik – kurang berharga. Memang, the devil is in the detail! Pelajarilah detailnya untuk membongkar para setan yang bersembunyi dibalik plintiran dan silat lidah. Bertanyalah kepada diri Anda, ada apa maka Tuhan perlu mengutus DUA Nabi Besar sekaligus dalam satu era yang sama, yaitu Yahya dan Yesus. Apa guna dan fungsinya Yahya jikalau sudah ada Yesus? Nah, Nabi Yahya itu diutus khusus untuk berduet memberi kesaksian langsung tentang Yesus Mesias, kesaksian besi, tunjuk hidung muka per muka, bukan nubuat dalam ruang dan rentang waktu yang berbeda jauh! Dan Yahya telah berseru
“Bertobatlah”, lalu bersaksi: “Lihatlah Anak Domba Tuhan. Yang menghapus dosa dunia”.

Dan Yesus telah pula mengkonfirmasikannya:
“Anak Manusia datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan  (nyawa) bagi banyak orang” (Markus 10:45).
“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."(Lukas 19:10).

YA, Yesus Al-Masih telah merendahkan diri-Nya untuk menyelamatkan Anda lewat kurban tebusan-Nya yang mahal; kenapa Anda tidak menemui-Nya dengan rendah hati pula? Ada masalah apa antara Anda dengan Dia, sosok yang Muhammad sendiri akui sebagai YANG terbesar di dunia dan di alam akhirat?.

Perbedaan Yang Begitu Tajam Makna Kurban Darah/Sembelihan Antara Kristiani dan Islam (1).



(Logika manapun akan mengatakan bahwa sumber sejarah otentik tertua Nabi-Nabi Tuhan adalah Kitab Yahudi yang juga merupakan sumber sejarah bagi Umat Kristiani, dan tentunya juga bagi Umat lain yang mengakui eksistensi Nabi-Nabi Tuhan karena memang dari sanalah Para Nabi Tuhan berasal. Bila masih ada komunitas iman tertentu yang masih mempertanyakan otentisitas Kitab Yahudi sebagai Rangkuman sejarah Para Nabi Tuhan, mestinya sudah “terhenyak heran” ketika membaca “the dead sea scroll” yang ditemukan pada 1949, karena “ternyata anggapan yang telah terlanjur diajarkan kepada mereka secara turun temurun selama berabad-abad ternyata telah terbantahkan dengan keras yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai temuan terbesar abad ini !!”.  
Sekali lagi, semua artikel yang saya release dalam web ini bukan merupakan artikel olok-olok dan bukan bermaksud memfitnah, namun dalam usaha membuka mata akan klaim kebenaran dari sudut pandang yang berbeda antara dua komunitas iman yang berbeda. Artikel ini saya kutip sepenuhnya dari website  www.answeringislam.com karya Kalangi dengan judul asli, “Syariat Qurban Di Hari Raya Haji, Kini Patut Dipertanyakan Muslim” (Bagian 1).

Muslim yang membaca artikel ini sebaiknya tidak buru-buru apriori seperti orang kebakaran jenggot sebagaimana umumnya yang terjadi di berbagai belahan dunia yang rata-rata “hanya bisa mengecam dan mengancam” justru dketika kepada mereka ditunjukkan kebenaran, sehingga penulis sarankan agar membaca dengan perlahan dengan hati putih dan tidak terburu-buru, selanjutnya silahkan memverifikasi seluruh kutipan baik ayat Alquran maupun hadist sahih dalam artikel ini untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya, selamat membaca_Sang Timur).

Adakah dikatakan di dalam Alkitab dan Al-Quran bahwa Ismael itu anak pengorbanan? Banyak Muslim belum tahu, bahwa jawabannya adalah tidak ada!
Alkitab menegaskan anak itu adalah Ishak, Ishak, dan tak lain daripada Ishak! Sebaliknya Quran ragu-ragu, dan hanya berkata dalam kekaburan bahwa anak itu adalah “anak” Ibrahim. Anak yang mana hanya Allah SWT yang tahu persis untuk diriNya, tetapi sesungguhnya telah diketahui dan diumumkan oleh Elohim Alkitab 2600 tahun sebelum itu tanpa bantahan siapapun! (bila memang Quran dianggap sebagai kitab sempurna dan tanpa ada keraguan didalamnya, tapi mengapa ia tidak menulisnya dengan terang?_pen.)

Kisah Ishak sebagai anak-pengorbanan telah tertulis di Kitab Taurat 2600 tahun sebelum Muhammad dilahirkan. Semua nabi-nabi Tuhan tahu bahwa Ishak itulah anak-yang ingin dikurbankan, tak ada ceritanya sama sekali tentang Ismail yang “punah” dari sejarah. Namun tiba-tiba ALLAH SWT berwahyu-ulang 2600 tahun kemudian kepada Muhammad tentang kasus pengurbanan yang sama tetapi berbeda dalam setiap detailnya! Tentu saja semua Muslim mengharapkan wahyu ulang ini lebih lengkap dan sempurna ketimbang kisah tua-awal (di Alkitab) yang dianggap telah terkorupsi, bahkan sesat. Akan tetapi sebaliknyalah yang terjadi! Ternyata wahyu ulangan yang dianggap sempurna dari Allah itu tidak bisa dipahami isinya per -se- oleh siapapun! Maaf, ini bukan kalimat yang didramatisir,melainkan apa fakta seobyektifnya yang dapat Anda simak sendiri tanpa prasangka. Sebab pemahaman Muslim yang ada dimasyarakat saat ini (tentang kasus penyembelihan anak Ibrahim) telah tertanam oleh sisipan tambahan diluar Quran yang dilencengkan dari kisah asli di Alkitab. Sedemikian sehingga rujukan kisahnya terbiasa difahami seperti apa yang ditanamkan, bukan seperti  apa yang di-tanzilkan sebagai wahyu Quranik!

Namun seperti kata pepatah: “The devil is in details”. Setan-setan nyaman bersembunyi dibalik kekaburan sehingga ia mudah berbelit, berkelit, dan balik menfitnah. Jadi kita akan masuk kedalam details agar dapat memperlihatkan dengan sesungguhnya betapa wahyu-ulang itu sendiri total tidak masuk akal, tekor otoritas, tidak bertujuan, dan kehilangan makna ilahinya yang sejati! Mari kita baca pelan-pelan dan masuk kedalam substansi wahyu yang sewajarnya, dipetik dari Quran Surat 37 VS Kitab Kejadian 22:
100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
101. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim  berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya),
104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
105.sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan (seekor) sembelihan yang besar
108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
109. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

Apa yang dapat Anda lihat?

Pertama
Benar, tak ada muncul nama “Ismail” disitu sebagai anak sembelihan. Kosong! Dan dimanapun di Quran, nama anak-pengurbanan itu dikosongkan oleh Muhammad. Yang ada disebut cuma “sang anak”. Tentu hal semacam ini bukan hal yang kebetulan, melainkan dengan sengaja atau terpaksa.

Muhammad dan juga sahabat-sahabatnya sejak semula belum ada yang mampu membaca Alkitab Ibraninya orang Yahudi. Maka tidak ada yang berani mengklaim atau memastikan itu Ishak atau Ismail. Padahal, jikalau Quran betul wahyu yang didatangkan dari Surga untuk “mengoreksi dan menyempurnakan” Alkitab yang telah tercemar oleh dunia dengan memeteraikan nama Ishak, maka pastilah Allah SWT harus mengumumkan nama Ismail tegas-tegas, bahkan tanpa ragu-ragu perlu memberi maklumat keras: “Salah! Sang anak-kurban adalah Ismail, bukan Ishak seperti yang dipalsukan di Kitab–kitab lain!”

Tetapi Wahyu Islamik tak sanggup bersitegas sejauh itu. Tak ada otoritas apapun yang mendukungnya. Soalnya Muhammad telah mengadopsi sesuatu yang fatal seperti yang diutarakan dalam Hadis Shahih Bukhari Volume 4, buku 55, nomor 583. Disitu dikisahkan betapa Hagar dan Ismail telah terusir dan terpisah total dari Ibrahim sejak Ismail masih menyusu, dan baru setelah Ismail menikah maka ia baru bertemu kembali dengan ayahnya lewat perjalanan bolak-balik yang ketiga dari Palestina ke Mekah! Ini sekaligus mematikan spekulasi para ahli Islam yang mencoba mengklaim anak-kurban itu Ismail, karena “Ismail” yang akan dikurbankan itu hanyalah anak yang menginjak remaja, belum menikah. Semua kisah-kisah akan berbenturan dalam detailnya, khususnya detail “waktu”, apabila Ismail mau dipaksakan menjadi “anak-kurban”.
Selain itu, Tuhan pasti tidak asal sembarangan memilih “anak-kurban” yang hendak dipersembahkan kepada-Nya. Muslim hanya beranggapan bahwa Ismail itu anak sulung, dan karenanya dia yang layak dipilih Allah. SALAH! Anak pilihan (the chosen son) bukannya soal anak sulung, tetapi soal “anak-ahli-waris” atau bukan. Tentu anak gundik tak akan menjadi ahli waris sepanjang istri pertama, Sara, itu “sah permaisuri” bagi Abraham. Itu sebabnya Ishak mendapatkan segala warisan ayahnya Abraham, tetapi anak-anak gundik Abraham hanya mendapatkan sekedar  pemberian, dan dipisahkan tempat mereka dengan Ishak. Ini semua terjadi ketika Abraham masih hidup (Kejadian 25:5-6).
Tetapi bukan saja Abraham yang menetapkan Ishak sebagai ahli warisnya, namun dimata Tuhan, Ia sendiri malahan menetapkan Ishak  sebagai anak tunggal, artinya satu-satunya anak Abraham yang sejati! (Kejadian 22:2, 16). Ini adalah soal ketetapan Tuhan, sama halnya dengan Qabil – walau ia anak sulung Adam – namun ia tidak dipilih dan ditetapkan Tuhan, melainkan adiknya Habil yang dipilih Tuhan! (Kejadian 4:4-5, Qs.5:27)

Anak Abraham yang sejati adalah dan hanyalah anak-perjanjian yang Tuhan janjikan untuk diberikan kepada Abraham, Sara, dan Ishak sendiri (Kejadian 17: 16-17, 19, 21, 21:1 dll.). Anak tersebut bahkan sudah ditandai oleh Tuhan sendiri dengan tanda mukjizatnya kepada Sara yang sudah tua dan mati haid (Kejadian 18: 11-14). Muhammad malahan mengungkapkan bahwa Ishak - dan bukan Ismail - yang lahir lewat tanda-ilahi  yang menerobos kemandulan Sara lewat kunjungan para malaikat ketempatnya. Malaikat menyampaikan kabar gembira bahwa Ishak-lah yang  ditetapkan oleh Allah dan dijadikan keturunan kenabian dan Alkitab(Qs.11:70- 73, 29:27). Allah tegas bersabda, “yang akan disebut keturunanmu (Abraham) ialah yang berasal dari Ishak” ( Kejadian 21:12).

Maka dihadapan Allah, Ismail bukanlah betul-betul keturunan Abraham yang hakiki, melainkan seorang “anak-rekayasa” kedagingan hasil akal-akalan Sara yang (dalam keputus-asaannya menanti datangnya anak-perjanjian), justru menyodorkan budaknya kepada Abraham demi untuk mendapatkan anak!
Walau demikian Tuhan yang Mahakasih tetap mengasihi anak hasil sodoran ini. Namun Ismail tidak pernah merupakan anak-perjanjian Tuhan, dan keturunannya tidak  benar-benar disebut sebagai “keturunan Abraham”, berlainan dengan istilah dan pengertian muluk(political correct) yang dunia tetapkan kepada mereka:

“Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"  Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sara-lah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya” (Kejadian 17:18-19).
Tuhan mempertegas ketetapan ini dengan menampik Ismail dengan “TIDAK” dan hanya menyebut Ishak dari jalur Abraham- Sara sebagai “anak tunggal” Abraham. Padahal semua orang tahu bahwa Ishak bukanlah anak sulung secara kedagingan (dalam bahasa biasa kita), sebab hanya anak sulung-lah yang bisa menjadi anak tunggal ketika adiknya belum lahir.

Kedua
Ibrahim samasekali tidak diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya (seperti yang dipercayai Muslim), melainkan ia hanya bermimpi horror, tentang sesuatu yang menyeramkan tetapi tanpa ada kaitan apapun dengan Allah! Ia bermimpi tentang penyembelihan anaknya(!) tanpa hujan dan angin yang mendasarinya. Maka Ibrahimpun gelisah dan bingung, sehingga mengutarakan mimpinya dan sekaligus minta pendapat kepada anaknya yang walau masih belum dewasa. Tentu saja sang anak (yang sabar itu) lebih bingung dan mempersilahkan apa maunya bapaknya terhadap dia. Sang anak dikatakan sangat sabar, sebenarnya yang tepat adalah sangat bodoh, karena tidak bereaksi atas sesuatu yang jelas-jelas berbahaya bagi dirinya dan ayahnya, bahwa mimpi itu jahat dan bahkan sesat, sebab ALLAH MUSTAHIL membiarkan – apalagi memerintahkan - pembunuhan seorang anak oleh ayahnya yang nabi pula. Ini tidak main-main seperti yang Muslim enteng-entengkan, ini suatu kekejian yang paling fatal yang dapat dilakukan oleh sosok Allah. Mustahi, dan YAKIN bahwa mimpi semacam itu pasti bukan datang dari Allah, melainkan dari SETAN, untuk mengkacaukan semua.

Teman Muslim berdalih, O, itu karena Allah mau menguji iman Ibrahim. Salah besar! Tak ada Allah yang menyuruh orang membunuh lewat mimpi demi untuk mengetahui imannya. Allah sudah paling tahu iman Ibrahim, dan Allah punya sejuta cara lainnya untuk menguji  iman seseorang tanpa usah menentang Hukum Allah sendiri tentang pembunuhan!

Ingat bahwa sebelumnya Abram (nama lamanya) telah “gagal-iman” terhadap janji Tuhan. Ia (bersama Sarai, nama lama isterinya) tidak tegar dan tidak sabar menunggu kelahiran “anak-perjanjian” sehingga menyetubuhi Hagar. Kini Tuhan kembali meneguhkan iman Abraham (nama baru) dengan mengadakan perjanjian-yang kekal untuk Ishak dan keturunannya” (Kejadian 17:18,19). Maka Abraham telah tahu bahwa ia akan mempunyai Ishak, dan Ishak akan mempunyai keturunan seterusnya. Sekalipun sepertinya Tuhan tetap men-test Abraham, tetapi itu hanyalah dilakukan demi mendidik Abraham untuk tetap kokoh mengutamakan kasih kepada Tuhan ketimbang anak yang paling dikasihinya! 
Akan tetapi agenda terbesar dari seluruh peristiwa itu adalah untuk menampilkan maksud maha-besar Tuhan dibalik drama “perintah-pengorbanan” itu. Yaitu penggambaran akan konsep korban penebusan yang Tuhan sediakan bagi keselamatan seluruh umat manusia, dan samasekali bukan menampilkan per-syariatan untuk sesaat menyedekahi daging kurban pada Hari Raya Qurban! Kita akan mengupasnya nanti.

Bandingkan mimpi Ibrahim di Quran dengan perintah langsung dari Tuhan Alkitab kepadanya. Mimpi bisa rancu, meragukan, malahan ngawur, karena one-way, tidak mendapat konfirmasi balik; namun perintah Tuhan langsung memperlihatkan keotentikan dan otoritas-Nya disamping dapat direspon secara timbal balik:
“Setelah semuanya itu Elohim  mencoba (test) Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan” (respon balik Abraham). Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (Kejadian 22:1-2)

Lihat 4 frase perintah Tuhan Alkitab yang tegas disini:

* Tuhan memanggil, “Abraham”, dan dijawab: “Ya, Tuhan” (klik konek dengan Tuhan)
* “ambillah anakmu yang tunggal … Ishak …” (tak ada yang lain, hanya Ishak, yang difahami oleh Abraham, Yakub, Musa, dan semua nabi selama 2600 th)
* “pergilah …” (perintah tegas)
* “persembahkanlah dia sebagai korban bakaran…” (ada ritual, bukan asal bunuh dan sembelih)
* “ke tanah Moria…pada salah satu gunung… (persis lokasinya)
Dan kelak keseluruhan maksud Elohim dengan perintah ajaib ini akan menjadi terang benderang sekaligus mengagumkan!

Bandingkan dengan “wahyu” kepada Muhammad yang rancu:

* “Hai anakku” (siapa? kenapa tak berani tambah kata ”Ismail”? bersiasat kata?)
* “aku mimpi menyembelihmu” (menyeramkan! apa nggak datang dari setan? so what? mimpikan bukan perintah?)
* “fikirkanlah apa pendapatmu” (bingung dalam kerancuan, dan berbalik dengan menyerahkan kepada anak yang baru mau remaja tentang pembunuhan terhadap dirinya?)
* Membaringkan anaknya dimana? Di Mekah?

Jadi tampak terdapat perbedaan pewahyuan keduanya dalam semua segi, antara wahyu asli surga versus dongengan yang diulang-ulang hasil dengar-dengaran ...

Ketiga
Lihat bahwa seluruh narasi surat ini tidak berbicara tentang kurban bagi Allah.
Dan ayat 103 adalah lompatan WAHYU yang tidak bisa difahami orang, kok tiba-tiba kedua anak-beranak ini setuju bahwa sang ayah membaringkan anaknya. Tidak diwahyukan APA PERLUNYA anak itu untuk dibaringkan. Quran bertambah gagal menerangkan penyembelihan itu karena tidak ada pisau atau peralatan apapun lainnya yang diikut sertakan, kecuali pembaringan saja! Padahal semua persiapan  dan alat-alat untuk mempersembahkan kurban telah disebut lengkap 2600 tahun sebelumnya dalam Alkitab, termasuk pisau, kayu, api, dan mendirikan mezbah (tempat meletakkan kurban), dan kurbannya sendiri diletakkan diatas kayu api. Itu adalah  aturan baku sejak dari Kain dan Habel dan Nuh (lihat Kejadian 8:20), Abraham, Ishak, Yakub, sampai kepada Musa dan lain-lain nabi seterusnya untuk melaksanakan sebuah persembahan kurban yang layak  bagi Tuhan.

Jelas Muhammad tidak tahu apa itu Mezbah dan apa itu prosedur persembahan kurban yang layak bagi Tuhan. Alkitab mengungkapkan tidak kurang dari 400 kali apa dan bagaimana itu mezbah (bahasa Ibraninya mizbeah). Itu artinya “tempat pemotongan”, yang khusus untuk melaksanakan ritual persembahan penyembelihan dan pembakaran binatang kurban. Itu dikenal oleh semua nabi-nabi Tuhan kecuali Muhammad seorang! Mezbah dibangun tidak asal-asalan, melainkan dengan susunan batu, kayu, atau tanah, bahkan tembaga atau emas. Ia juga tidak dibangun disembarangan tempat pemukiman umum, melainkan ditempat pilihan khusus dimana kontak antara manusia dengan ilahi telah atau diharapkan akan terjadi!

“Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau” (Keluaran 20:24).

Abraham dalam sejarah perjalanannya yang panjang dari Ur Kasdim hingga Haran dan Kanaan, tercatat mendirikan sejumlah mezbah bagi Tuhan khususnya ditempat-tempat perjumpaannya atau pengalaman spiritualnya dengan Tuhannya. Misalnya di More dekat Sikhem dimana Tuhan menampakkan diri. Juga diantara Betel dan Ai, ditempat dimana ia memanggil nama YAHWEH (awas, bukan nama ALLAH, Kejadian 12:6-8). Atau kini di tanah Moria yang telah Tuhan tentukan sebelumnya. Mezbah itu adalah penghormatannya yang paling tinggi yang dapat dia dirikan untuk dipersembahkan kehadapan Tuhannya bersama korban bakaran diatasnya! Abraham tidak mengenal tipe “bait-bait” yang lain untuk dia bersembah kepada Tuhannya! Tetapi Muhammad yang tidak tahu apa itu mezbah dan apa ritual persembahan korban yang layak, malah mendongengkan tipe “mezbah-pembaringan” bagi anak Ibrahim, tanpa pisau, kayu, dan api pembakaran.

Dan kelak Muhammad makin berani menspekulasikan Ibrahim pergi ke tanah Arab untuk turut membangun Rumah Tuhan - Baitullah disana, "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (untuk tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)…” (Qs.3:96). Tetapi rumah-sembah macam apakah itu Baitullah? Selama hidupnya Abraham hanya mengenal dan membangun altar Mezbah, bukan “bait-baitan” lain semisal untuk tempat kumpulan manusia-manusia beribadat, melainkan tempat dia sekeluarga mau mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhannya! Tetapi lihatlah betapa nekad-nya Muhammad yang kebablasan berspekulasi membuali pengikutnya yang bodoh dan mau ditipu mentah-mentah:

Periwayatan Abu Dhar: "Aku berkata, "O Rasulullah, masjid mana yang pertama dibuat didunia ini?. Dia berkata, "Al-Masjid Al Haram (di Mekah)". Aku berkata, "Mana yang dibangun setelah itu?". Dia menjawab, "Al-Masjidil Al-Aqsa (di Yerusalem)". Aku berkata, "Berapa jangka waktu antara pembangunan kedua bangunan itu?" Dia berkata, "Empat puluh tahun" (Shahih Bukhari 5/585).
NB. Padahal arkeologi dan sejarah mencatat selisih keberadaan Ibrahim (yang dipercaya membangun Baitullah Mekah) dan Raja Solomo (yang membangun Bait Yerusalem) adalah seribu tahun!  Dan manakah yang lebih pertama dibangun oleh Ibrahim: Mezbah di Sikhem (tatkala Abraham masih berumur 75-an) ataukah membangun Baitullah-Mekah bersama anaknya Ismail (tatkala Ibrahim berumur sekitar 100 tahun)?

Kita rekapitulasi sebagian dongengan Muhammad:
Tampaknya Muhammad berusaha “merangkul” sosok Ibrahim (dan Ismail) dan menjadikannya sebagai Bapa Islam yang memulai ritual-islami. Maka terjadilah pendongengan yang terbesar dalam sejarah seolah Muhammad (dari garis keturunan Ismail) adalah penegak agama Ibrahim yang lurus (Qs.6:161, 3:95 dll). Tetapi, seperti yang  telah dikatakan dimuka, bahwa dihadapan Tuhan Ismail bukanlah betul-betul keturunan Abraham yang hakiki. Kini fakta bertambah bahwa Muhammad tidak tahu apa-apa tentang mezbah Abraham, walau Alkitab telah menyebutkan istilahnya sebanyak 400 kali! Kapan Muhammad mendirikan ritual korban bakaran diatas mezbah seperti yang dilakukan Abraham? Kapan Muhammad memanggil Tuhan dengan nama YAHWEH seperti yang diserukan oleh Abraham (Kejadian 12:8). Dan betapa ngawurnya Muhammad berbual tentang pembangunan Baitullah dan Al-Aqsa, serta perjalanannya ke Mekkah menemui anaknya Ismail yang entah sudah jadi Nabi atau belum? Entah kapan dia ditahbiskan Muslim menjadi nabi! Di Mekkah, sang ayah ini tidak mendirikan mezbah maupun mempersembahkan korban bakaran, bahkan tidak melakukan apapun kecuali mengintervensi keluarga Ismail! Sang ayah yang Nabi itu MESTINYA pertama-tama mendamaikan hubungan suami-istri anaknya yang tampaknya tidak harmonis, namun ternyata Ibrahim justru mengisyaratkan agar Ismail menceraikan isterinya! (Shahih Bukhari 4/55/583). Nabi Besar betulan atau hasil fantasi Muhammad? Dan adakah Ibrahim itu pernah melakukan (atau menyerukan orang) untuk memuja dan mencium Batu-Hitam Ka’bah seperti yang Muhammad contohkan?!
Semua-muanya ini, ditambah dengan kenyataan bahwa Muhammad tidak pernah disunat ala Abraham, MAKA atas dasar apakah Muhammad itu bisa-bisa membual-kan dirinya sebagai penegak “agama Ibrahim yang lurus”?! Agama Ibrahim apa yang dia tegakkan? Dan apanya yang lurus?! Semuanya telah bengkok, dijungkir-balik, dikosongkan, dan dibualkannya! Ini adalah sebuah unjuk kenekatan spekulasi yang luar biasa dari pihak Muhammad, demi mencoba menghilangkan setting Israel dan Yudaisme agar mulus menjadi Islam dalam setting Arab (re: kisah Ibrahim-Ismail, Baitullah, kiblat shalat, puasa Ashura, dll). Kita tidak heran bilamana hal itu bisa mengkelabui orang-orang Arab jaman dahulu yang gila dongengan 1001 malam, namun para Muslim yang bernalar universal saat ini tentu harus mempersoalkan kembali dongengan yang membodohi!

Keempat
Menyusuri ayat 104, 105 dan 106, para pembaca Quran pasti dibuat kaget ketika kedua ayah dan anak itu sedang nyaman berserah diri (!) dan sang anak  sedang berbaring, tetapi tiba-tiba datang suara teriakan (dari langit?):
"Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata…
Tidakkah ini  kalimat-kalimat yang lucu, berantakan, dan tak masuk akal? Yang kehilangan otoritas sebagai sebuah wahyu korektif atas apa yang sudah diwahyukan 2600 tahun sebelumnya?

Tak ada narasi apapun bahwa Ibrahim siap-siap untuk membunuh, tak ada apa-apa yang kritis dan genting, tiba-tiba ada teriakan Allah? Anehnya teriakan itu SAMASEKALI BUKAN (membantah dongengan umum Muslim) teriakan langsung Allah SWT untuk menyetop(menghentikan) TINDAKAN genting Ibrahim terhadap sang anak. Yang Ibrahim lakukan cuma membaringkan anaknya itulah! Teriakan Allah malahan hanyalah sekedar pujian belaka kepada Ibrahim, yang mana samasekali lepas dari konteks drama kritis penyembelihan. Ternyata Allah hanya mencoba meyakinkan Ibrahim yang kebingungan. Dan untuk itu Allah sampai perlu menekankan kata SESUNGGUHNYA sampai tiga kali,  
a. Sesungguhnya Ibrahim telah membenarkan mimpi Ibrahim sendiri
b. Sesungguhnya perbuatan Ibrahim (yang mau membunuh anaknya??) itu adalah perbuatan baik! Sehingga Ibrahim akan mendapat balasan Allah.
c. Sesungguhnya kejadian ini (atau mimpi ini?) adalah sungguh dan benar suatu ujian yang nyata.
Tetapi tiga kata “sesungguhnya” yang begitu royal diucapkan oleh Allah SWT itu justru bisa lebih mengacaukan ketimbang meyakinkan.  

Sebab membenarkan mimpi Anda sendiri untuk membunuh anak Anda sendiri tanpa pasal apapun  itu, apakah itu SUATU IMAN dan PERBUATAN BAIK yang dibenarkan Islam? Adakah Muhammad atau para sahabatnya yang andaikata bermimpi menggorok leher anaknya, lalu benar-benar akan menggoroknya atas nama Allah? Atas dasar apakah maka mimpi membunuh anak itu boleh menjadi suatu perintah wajib bagi Ibrahim? Dan apakah dengan narasi yang hanya berdasarkan 10 ayat Allah diatas, ada orang Muslim beriman yang dapat menyimpulkan bahwa mimpi demikian itu adalah sebuah TESTING IMAN dari Allah? Tidakkah itu justru lebih mungkin testing dari Setan?

Tampaknya Muhammad dan Muslim lupa bahwa untuk mimpi-mimpi yang dianggap sebagaiwahyu teramat penting maka Tuhan akan selalu menjelaskannya lewat malaikat, atau akan dinyatakan berkali-kali dengan konfirmasi (lihat mimpi nabi Yusuf dikonfirmasi 2x, Firaun 2x, Petrus 3x dan dikonfirmasi balik 1x, dll). Ini semua agar wahyu-sorga tidak terbaur dengan mimpi fantasi dunia maya. Bagaimanapun, Mahatahu dan Mahadaya cipta Allah tidak akan memilih moda-komunikasi yang begitu kerdil, rancu dan rentan salah paham, untuk menyampaikan sebuah message Tuhan yang terbesar  bagi umat manusia, lewat Abraham, Bapa Bangsa-bangsa dan Nabi yang digelar Sahabat Elohim. (BERSAMBUNG ke bag.2)