Showing posts with label muhamad. Show all posts
Showing posts with label muhamad. Show all posts

Monday, October 7, 2013

PERTANYAAN YANG MENUNTUT JAWABAN


_bagian pertama dari 6 artikel.
Oleh ; Abd Al Masih
[...mungkin saja anda pernah membaca artikel ini di website lain karena artikel ini memang saya copy dari alamat website lain. Saya sengaja tidak mengubah judul artikel dan isinya agar tidak menimbulkan kesalahan dalam memahami esensinya. Namun karena terlalu panjang, maka akan saya bagi dalam beberapa bagian. Pembaca hendaknya membaca sampai habis untuk mendapatkan manfaat yang utuh dari apa yang selama ini di-salah- mengerti-kan atau malah sengaja di-sembunyi-kan oleh para sarjana muslim dan para mubaligh kepada umat muslim dalam memahami Quran dan Injil. Sesuai dengan judulnya, “Pertanyaan Yang Menuntut Jawaban”, maka sebagian besar pertanyaan yang selama ini tersimpan di kepala anda akan terjawab di sini...selamat membaca]


Pendahuluan
Pada zaman yang serba cepat saat ini, pesawat udara telah membawa benua-benua yang begitu jauh menjadi lebih dekat. Banyak orang dapat bepergian dengan bebas ke negara-negara lainnya. Kita telah menjadi “Desa Sedunia” (Global Village) – Produksi harian dari buku, TV, dan radio telah mempengaruhi pemikiran semua orang, dan kadang kala mengakibatkan orang menjadi bingung dan frustrasi. Dunia ini bising sekali dengan segala macam masalah. Walaupun teknologi telah begitu majunya, tetap saja muncul pertanyaan lama: Apakah kebenaran yang kekal itu? Jika kita saling mendengarkan, kita dapat melebarkan wawasan kita dan akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang membingungkan ini.
I. SUATU PEMIKIRAN – PERTANYAAN YANG MENGHASUT
Pada suatu saat, seorang hamba Tuhan diperbolehkan untuk sering mengunjungi suatu penjara di negara Arab; di sini ia mengabarkan jalan kebenaran kepada para narapidana. Ia memiliki ijin yang sah untuk mengunjungi siapa saja yang ingin mendengarkan pesan damai dari Kebenaran yang dapat menyucikan hati dan mengubah pikiran. Hamba Tuhan tersebut masuk ke kamar-kamar penjara tanpa satu pengawas pun, dan menolak untuk dikawal. Ia percaya bahwa para narapidana hanya akan membuka diri mereka dengan bebas di dalam suatu diskusi yang jujur jika mereka tidak diawasi. Ia memasuki kamar-kamar mereka dengan berani dan duduk berbicara dengan mereka seorang diri.
Dia juga pernah masuk ke satu ruangan yang penuh dengan narapidana kelas berat yang dipenjarakan untuk waktu yang lebih lama. Mereka telah mengenal dia dari kunjungan-kunjungan dia sebelumnya dan sudah terbiasa untuk mendengar pesan-pesannya. Seusai kunjungannya, mereka berdiskusi pesan-pesan yang disampaikannya selama berhari-hari dengan semangat yang begitu besar.
Kali ini ketika dia mengunjungi mereka, tiba-tiba mereka menutup pintu setelah dia masuk ke ruangan, dan berkata, “Kami tidak akan melepaskan anda sampai anda secara jujur menjawab pertanyaan kami.” Dia menjawab, “Saya datang kepada anda secara sukarela, tanpa pengawal bersenjata. Saya siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda dari Firman Tuhan menurut apa yang saya ketahui. Saya tidak dapat menjawab apa yang saya tidak ketahui.” Mereka berkata kepada dia, “Kami tidak bertanya tentang rahasia dunia. Kami hanya ingin bertanya kepada anda, sebagai orang yang jujur dan tulus, untuk memberikan kami jawaban yang jelas terhadap perbandingan yang telah mengganggu kami: Siapa yang lebih besar, Muhammad atau Al-Masih?”
Ketika hamba Tuhan tersebut mendengar pertanyaan ini, dia berhenti sejenak untuk menarik nafas, dan berkata kepada dirinya sendiri, ” Jika saya mengatakan ‘Muhammad lebih besar,’ para narapidana yang berpihak pada Al-Masih akan menyerang saya. Dan jika saya mengatakan, ‘Al-Masih lebih besar,’ para narapidana Islam akan mencoba membunuh saya.” Dia tahu bahwa hinaan atau kata yang keras melawan Muhammad dapat dianggap sebagai pelanggaran yang pantas mendapat hukuman mati. Hamba Tuhan tersebut berdoa dalam hatinya, memohon agar Tuhan memberikan jawaban yang bijaksana dan yang meyakinkan kepada para narapidana tersebut. Dan Roh Kudus memimpin hamba Tuhan ini yang berdiri sendirian di antara para narapidana, terkunci di dalam ruangan tersebut, untuk dengan rendah hati menyampaikan jawaban yang jujur dan jelas.
Ketika hamba Tuhan tersebut tidak langsung menjawab, karena dia sedang berdoa dalam hatinya, para narapidana mendesak dia, “Jangan mengelak dari tanggung jawab anda. Jangan menjadi pengecut. Beritahu kebenaran kepada kami. Kami berjanji bahwa anda tidak akan disakiti, apapun yang akan anda katakan. Jangan bohongi kami, dan jangan juga menyembunyikan pemikiran nurani anda tentang hal ini. Beritahu kami kebenaran secara keseluruhan.” Hamba Tuhan itu menjawab, “Saya siap untuk memberitahu kalian fakta-fakta yang sebenarnya. Pertanyaan yang kalian lontarkan kepada saya bukanlah pelajaran yang telah saya siapkan untuk kalian. Walaupun demikian, jika kalian memutuskan untuk mendengarkan perbandingan antara Muhammad dan Al-Masih, saya tidak akan menyembunyikan kebenaran dari kalian. Kalian seharusnya mengetahui bahwa saya tidak bertanggung jawab atas hasil yang negatif karena pelajaran kita hari ini. Kalianlah yang bertanggung jawab, karena kalian yang menuntut agar saya menjawab sebuah pertanyaan yang bukan saja tidak saya lontarkan tetapi juga tidak ingin saya singgung.”
Hamba Tuhan itu meneruskan, “Saya sendiri tidak akan mengatakan siapa yang terbesar. Saya akan membiarkan keputusan ini dibuat oleh Al-Qur’an dan kumpulan Tradisi Islam (Hadits). Mereka telah memberikan jawaban yang tegas dan meyakinkan. Kalian mungkin ingin mengetahui apa yang Al-Qur’an katakan tentang kebenaran yang tersembunyi ini, dan kebenaran ini akan membebaskan kalian.”
II. KELAHIRAN MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bapaknya Muhammad adalah Abdullah; dan ibunya, Aminah. Muhammad lahir dari hubungan sepasang ayah dan ibu. Baik Al-Qur’an maupun pakar-pakar Islam tidak menyatakan bahwa Muhammad dilahirkan dengan cara yang supranatural. Kelahirannya tidak diwartakan oleh seorang malaikat, dan juga tidak lahir oleh Kalimat Allah. Dia lahir dengan cara yang biasa, sama seperti kita, yaitu karena hubungan sepasang ayah dan ibu.
Lain halnya dengan Al-Masih, Al-Qur’an menyatakan beberapa kali bahwa Dia tidak dilahirkan secara normal, seperti kita. Dia dikandung oleh Perawan Maryam tanpa hubungan dengan seorang lelaki, karena Allah meniupkan Roh-Nya di dalamnya. Hal ini berarti Isa Al-Masih adalah satu-satunya di seluruh dunia yang dilahirkan dari Kalimat (Firman) Allah dan Roh Allah.
Sesungguhnya, sang Mesias, Isa, Anak Maryam, duta besar Allah, adalah Firman-Nya yang Ia limpahkan kepada Maryam; dan
“Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.” (Sura 4:171).
“Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami.” (Sura 21:91).
“Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami.” (Sura 66:12).
Al-Masih bukanlah manusia biasa, tetapi Roh Tuhan yang berinkarnasi ke dalam tubuh manusia. Jadi, Dia dilahirkan dari Roh Allah dan perawan Maryam. Sebaliknya, Muhammad dilahirkan dari hubungan sepasang ayah dan ibu, sama seperti manusia lainnya. Dia tidak dilahirkan dari Roh Allah.

PERTANYAAN YANG MENUNTUT JAWABAN


_bagian kedua dari 6 artikel.
Oleh ; Abd Al Masih
[...mungkin saja anda pernah membaca artikel ini di website lain karena artikel ini memang saya copy dari alamat website lain. Saya sengaja tidak mengubah judul artikel dan isinya agar tidak menimbulkan kesalahan dalam memahami esensinya. Namun karena terlalu panjang, maka akan saya bagi dalam beberapa bagian. Pembaca hendaknya membaca sampai habis untuk mendapatkan manfaat yang utuh dari apa yang selama ini di-salah- mengerti-kan atau malah sengaja di-sembunyi-kan oleh para sarjana muslim dan para mubaligh kepada umat muslim dalam memahami Quran dan Injil. Sesuai dengan judulnya, “Pertanyaan Yang Menuntut Jawaban”, maka sebagian besar pertanyaan yang selama ini tersimpan di kepala anda akan terjawab di sini...selamat membaca]

III. JANJI-JANJI ILAHI TENTANG MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Kita akan mengutip Al-Qur’an janji-janji ilahi yang diberikan kepada Maryam tentang Al-Masih yang akan dilahirkan olehnya: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),” (Sura 3:45).
Allah sendiri memberitahukan kepada Maryam tentang kelahiran Al-Masih dengan menyebut Isa “kalimat (yang datang) daripada-Nya.” Semua nabi telah mendengar Firman Allah dan menuliskannya dengan sungguh-sungguh. Bagi Al-Masih, Dia tidak hanya mendengar Firman Allah, tapi diri-Nya sendiri juga adalah merupakan inkarnasi Firman Allah yang agung. Di dalam diri-Nya terdapat kuasa yang penuh atas Firman Allah untuk mencipta, menyembuhkan, mengampuni, menghibur, dan memperbaharui. Mengenai fakta yang unik ini, Allah terlebih dahulu telah memberitahu kelahiran Al-Masih kepada Maryam secara pribadi, mengkonfirmasikan dia kenyataan atas keajaiban yang besar itu.
Dalam Al Qur’an tidak tertulis bahwa Muhammad adalah Kalimat Allah yang berinkarnasi. Dia hanya mendengarkan Firman Allah dari seorang malaikat dan mengulanginya untuk para pendengarnya. Allah tidak memberitahukan kelahiran Muhammad kepada ibunya; dan juga Roh Allah tidak ditiupkan ke dalam Aminah. Di sisi lain, Maryam secara pribadi berhadapan dengan malaikat Jibril, yang dikirim oleh Allah untuk menjelaskan kepada dia pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya. Hanya dia yang dipilih di antara wanita-wanita, sebagaimana dikatakan Al-Qur’an, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (Sura 3:42).
Nama Maryam dicatat 34 kali dalam Al Qur’an; tetapi nama ibunya Muhammad tidak dicatat sama sekali. Ketika Muhammad memohon pengampunan atas dosa ibunya setelah ibunya meninggal, Allah menghentikan Muhammad; hal ini membuat Muhammad menangis dengan keras.
IV. KESUCIAN HIDUP MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Konon ketika Muhammad masih kanak-kanak, dua malaikat datang dan menyucikan hatinya. Ahli agama Islam mendukung cerita ini:
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?” (Sura 94:1-3).
Sejak itu, Muhammad mendapatkan gelar kehormatan al-Mustafa, “Orang Yang Terpilih.” Dia sendiri bukanlah orang yang suci dan benar, karena dua malaikat harus mengambil beban dari hatinya dan menyucikannya. Muhammad membutuhkan “operasi hati” agar dapat disucikan dan menjadi seorang nabi dan pembawa berita Allah.
Di lain pihak, kita membaca dalam Al-Qur’an bahwa Anak Maryam akan menjadi yang “paling suci” sejak saat Dia dilahirkan; malaikat berkata kepadanya:
“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci” (Sura 19:19).
Ahli-ahli agama Islam al-Tabari, al-Baidawi, dan al-Zamakhshari setuju bahwa julukan “paling suci” berarti tidak bersalah dan tidak berdosa. Sebelum Al-Masih dilahirkan, inspirasi ilahi menyatakan bahwa orang yang akan dilahirkan dari Roh Allah akan selalu hidup suci, tanpa satu dosa pun. Tidak perlu diadakan penyucian hati-Nya, karena diri-Nya sendiri adalah suci. Anak Maryam tidak hanya mendengar Kalimat Allah; diri-Nya sendiri adalah Kalimat Allah. Tidak ada perbedaan antara perbuatan-Nya dan perkataan-Nya. Dia tetap selalu tidak bersalah dan tidak berdosa.
Al-Qur’an bersaksi beberapa kali bahwa nabi-nabi tertentu telah berbuat dosa – kecuali Al-Masih, yang selalu hidup suci. Roh Allah memelihara Dia, sejak Dia lahir, dalam kesucian yang sempurna, walaupun Dia menjadi manusia. Dia tidak jatuh ke dalam pencobaan karena Dia adalah Roh Allah yang berinkarnasi.
Muhammad mengaku secara terbuka tiga kali dalam Al-Qur’an bahwa dia harus meminta pengampunan:
“dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (Sura 40:55).
“dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Sura 47:19).
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang,” (Sura 48:1-2).
Beberapa orang Islam menolak untuk menerima ayat-ayat ini yang dengan jelas diungkapkan oleh Al-Qur’an. Orang-orang Islam lainnya mencoba menutupi kebenaran ini.
Muhammad adalah manusia biasa, yang lahir dari hubungan kedua orang tuanya. Dia menjalani kehidupan yang normal dan berdosa sebagaimana kita juga berbuat dosa. Dia meminta pengampunan atas dosanya kepada Allah. Tetapi Al-Masih dilahirkan dari Roh Allah; Dia adalah Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, hidup penuh dengan kesucian sejak kelahiran-Nya.
V. INSPIRASI MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Muhammad menyatakan bahwa dia menerima inspirasi melalui malaikat Jibril, roh yang setia. Beberapa kumpulan Tradisi (Hadits) menyebutkan bahwa setiap kali Muhammad mendapatkan inspirasi, Muhammad langsung menjadi seperti tidak sadar. Buku al-Rewaya menyebutkan bahwa dia berubah dari keadaan normal menjadi seperti dalam keadaan mabuk, bahkan hampir pingsan. Beberapa pakar Islam mengatakan bahwa dia diangkat dari dunia ini. Abu Huraira mengatakan, “Ketika inspirasi memasuki Muhammad, dia menjadi pucat pasi.” Buku al-Rewaya menulis, “Wajahnya menjadi seperti depresi, dan matanya menjadi cekung. Kadangkala ia menjadi jatuh tertidur pulas sekali.” Omar bin al-Khattab mengatakan, “Ketika dia mendapatkan inspirasi, dia mendengar suara yang bising, seperti suara lebah yang sedang terbang, di seputar wajahnya.” Ketika Muhammad ditanya bagaimana inspirasi tersebut diterima olehnya; dia menjawab, “Kadangkala inspirasi tersebut datang kepada saya seperti bunyi gema bel yang keras sekali, yang merupakan bentuk inspirasi yang terberat bagi saya; dan ketika saya sadar, saya baru ingat apa yang telah disampaikan.”
Pakar-pakar Islam menyetujui bahwa Muhammad “merasa berat setiap kali mendapat inspirasi; keningnya bercucuran keringat dingin; kadangkala dia jatuh tertidur pulas sampai matanya menjadi merah.” Zaid bin Thabit mengatakan, “Ketika Muhammad mendapat inspirasi, badannya menjadi begitu berat. Suatu kali, pahanya jatuh menimpa paha saya, dan saya bersumpah kepada Allah, belum pernah saya menemukan hal yang lebih berat daripada paha Muhammad. Setiap kali dia mendapat inspirasi ketika berada di atas unta, untanya menjadi pincang, kakinya seolah-olah mau patah; dan kadangkala untanya sampai berjongkok”(Mastery in the Quranic Sciences, oleh al-Soyouti; 1:45-46). Menurut ahli agama Islam dan kesaksian-kesaksian mereka, Allah tidak berbicara langsung kepada Muhammad tetapi melalui malaikat Jibril. Allah menjaga jarak dengan dia, bahkan pada saat datangnya inspirasi.
Sebaliknya, Allah tidak pernah mengirim malaikat Jibril kepada Al-Masih, dan Al-Masih tidak pernah menerima inspirasi melalui malaikat Jibril atau pun pihak ketiga. Diri-Nya sendiri adalah kebenaran yang menjelma menjadi manusia (Sura 19:34), Firman Allah yang kekal dan Roh dari Allah, dari diri Allah, penuh dengan pengetahuan akan kehendak-Nya. Jika ada yang ingin mempelajari kehendak Allah secara mendalam, dia harus mempelajari kehidupan Al-Masih dengan seksama, karena Dia adalah inkarnasi dari kehendak Sang Maha Kuasa. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah sendiri yang mengajarkan Al-Masih Al Kitab, kebijaksanaan, Taurat, dan Injil, sebelum Dia berinkarnasi:
“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.” (Sura 3:48).
Al-Masih tahu segala rahasia di atas surga dan di bumi, karena Allah memberitahu Dia segala sesuatu yang telah ditulis dalam Kitab Surgawi (al-Lauh al-Mahfudh), termasuk seluruh kitab Taurat, Zabur dan Injil. Jadi, Al-Masih dipenuhi oleh Firman Allah. Dia tidak mengucapkan kalimat lain selain kata-kata yang berasal dari Allah. Dia mengucapkan kalimat yang menenangkan dan memberikan petunjuk kepada ibu-Nya, segera setelah Dia dilahirkan.
“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini’.” (Sura 19:24-26).
Menurut Al-Qur’an, Al-Masih mengatakan kalimat Allah ketika Dia masih bayi. Dia tidak membutuhkan seorang malaikat atau pun perantara, karena diri Dia sendiri adalah Firman Allah dan Roh Allah. Untuk alasan inilah, kuasa Allah bekerja dalam Anak Maryam, untuk mencipta, menyembuhkan, mengampuni, menghibur, dan memperbaharui.
Kesimpulan dari inspirasi kepada Muhammad dalam Al- Qur’an dan dalam kumpulan Tradisi (Hadits) terkumpul dalam Syariat (Hukum Islam), yang memuat segala perintah agung dan larangan-larangan. Wujud akhir dari inspirasi kepada Muhammad berbentuk “buku-buku”: Al-Qur’an and kumpulan Tradisi (Hadits), yang semuanya terkumpul dalam Syariat.
Inspirasi kepada Al-Masih adalah “diri-Nya sendiri.” Injil-Nya bukanlah berbentuk suatu hukum melainkan pewahyuan atas kehidupan-Nya. Juga, Al-Masih memberikan para pengikut-Nya kuasa Ruhul Qudus, sehingga mereka dapat memenuhi perintah-perintah-Nya. Para murid-Nya tidak secara utama percaya pada suatu agama, dan mereka juga tidak hidup di bawah hukum; tetapi lebih dari itu, mereka percaya kepada suatu pribadi. Mereka berpegang erat pada Al-Masih, dan mengikut Dia. Al-Masih itu sendiri adalah inspirasi Allah.

PERTANYAAN YANG MENUNTUT JAWABAN


_bagian ketiga dari 6 artikel.
Oleh ; Abd Al Masih
[...mungkin saja anda pernah membaca artikel ini di website lain karena artikel ini memang saya copy dari alamat website lain. Saya sengaja tidak mengubah judul artikel dan isinya agar tidak menimbulkan kesalahan dalam memahami esensinya. Namun karena terlalu panjang, maka akan saya bagi dalam beberapa bagian. Pembaca hendaknya membaca sampai habis untuk mendapatkan manfaat yang utuh dari apa yang selama ini di-salah- mengerti-kan atau malah sengaja di-sembunyi-kan oleh para sarjana muslim dan para mubaligh kepada umat muslim dalam memahami Quran dan Injil. Sesuai dengan judulnya, “Pertanyaan Yang Menuntut Jawaban”, maka sebagian besar pertanyaan yang selama ini tersimpan di kepala anda akan terjawab di sini...selamat membaca]

VI. KEAJAIBAN-KEAJAIBAN MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Ahli agama Islam mengatakan bahwa keajaiban yang diberikan Allah kepada Muhammad adalah ayat-ayat Al-Qur’an dalam Sura. Dengan demikian, keajaiban dari Muhammad bukan dalam bentuk perbuatan tetapi dalam bentuk firman.
Al-Qur’an bersaksi untuk Isa, menggambarkan karya-karya Al-Masih yang unik dan perbuatan penyembuhan-Nya yang agung. Al-Masih tidak mengutuk musuh-Nya, juga Dia tidak berkelakuan seperti penguasa yang kejam. Dia menunjukkan diri-Nya sebagai sumber kebaikan serta kasih dan rahmat kepada semua manusia. Kuasa Allah keluar dari diri-Nya melalui banyaknya tanda-tanda keajaiban yang dilakukan-Nya.
Tabib Terbesar yang Diberkati
Al-Qur’an membenarkan bahwa Al-Masih menyembuhkan orang buta tanpa prosedur operasi atau pun obat. Dia menyembuhkan mereka hanya dengan melontarkan kata-kata yang penuh kuasa. Perkataan-Nya terbukti memiliki kuasa penyembuhan – dahulu dan sekarang juga. Al-Masih berkata menurut Al-Qur’an:
“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada” (Sura 19:31).
Dia benar-benar merupakan pancuran berkat bagi semua orang di segala jaman (Sura 3:49; Sura 5:110).
Anak Maryam tidak takut terhadap mereka yang terkena penyakit lepra, tetapi bahkan menyentuh kulit mereka yang sakit dan menyembuhkan mereka melalui perkataan-Nya yang mempunyai kuasa menyucikan. Al-Masih adalah Tabib terbesar sepanjang masa. Dia mengasihi orang miskin dan mau menerima mereka yang sakit. Dia menumbuhkan harapan dan iman di dalam hati mereka. Dia menyembuhkan setiap orang sakit yang dibawa ke hadapan-Nya.
Dia Membangkitkan Orang Mati
Salah satu keajaiban yang dilakukan Al-Masih adalah Dia membangkitkan orang mati; hal ini juga dikonfirmasikan baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Alkitab. Dia membangkitkan seorang anak perempuan, seorang lelaki muda, dan seorang lelaki dewasa dari kematian. Siapa yang dapat membangkitkan orang mati jika bukan Allah sendiri! Penting sekali bagi kita untuk benar-benar menangkap dan mengerti arti yang mendalam dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menyatakan fakta yang tidak dapat dibantah bahwa Al-Masih berulang kali membangkitkan orang mati (Sura 3:49; Sura 5:110).
Beberapa kritikus yang dangkal mengatakan bahwa Anak Maryam tidak dapat melakukan keajaiban-keajaiban seorang diri, tetapi Allah-lah yang memberi-Nya kekuatan melalui Roh Kudus, sehingga Dia dapat melakukan keajaiban-keajaiban yang berbeda-beda. Pernyataan mereka tersebut didasarkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an berikut ini:
“dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.” (Sura 2:87).
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putera Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.” (Sura 2:253).
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai ‘Isa putra Maryam, ingatlah ni’mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, … lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (Sura 5:110).
Betapa mengherankan! Al-Qur’an bersaksi berulang kali mengenai kerja sama antara Allah, Al-Masih dan Roh Kudus. Mereka bekerja sama dalam kesatuan yang sempurna, melakukan keajaiban-keajaiban dalam Al-Masih secara bersamaan. Para pengikut Al-Masih pun percaya dengan kerja sama yang dilakukan di antara Tritunggal yang Kudus.
Pencipta Muda
Kita dapat membaca di dalam Al-Qur’an – bukan di Alkitab – bahwa Isa, sewaktu masih kecil, membentuk seekor burung dari tanah liat, dan menghembuskan nafas kepadanya; lalu burung tersebut menjadi burung yang hidup, terbang di udara:
“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.” (Sura 3:49).
Dalam ayat ini, kita menemukan kalimat yang unik, “aku membuat untuk kamu,” yang mengindikasikan bahwa Al-Masih adalah seorang Pencipta. Seorang manusia biasa tidak dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada, juga tidak dapat menghembuskan nafas kehidupan kepada benda mati.
Al-Qur’an bersaksi akan kemampuan Al-Masih untuk memberikan kehidupan melalui tiupan nafas-Nya. Dia menghembuskan nafas-Nya ke burung yang terbuat dari tanah dan burung tersebut menjadi hidup, sama seperti Allah menghembuskan nafas-Nya kepada Adam. Ini berarti Al-Masih memiliki Roh yang dapat memberi kehidupan dalam diri-Nya; Dia mampu menghembuskan hidup ke dalam benda mati (burung yang terbuat dari tanah)
Pemelihara yang Baik
Banyak sekali orang di Palestina yang mengetahui kemampuan Anak Maryam yang tidak terbatas dan mengikuti Dia, bahkan sampai ke gurun pasir, tanpa mengindahkan waktu dan keadaan yang sulit. Mereka mendengarkan Dia sampai petang hari. Al-Qur’an bersaksi bahwa Al-Masih menyiapkan makanan semeja penuh, yang diturunkan-Nya dari surga untuk mengenyangkan orang banyak di padang pasir:
“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut ‘Isa berkata: “Hai ‘Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. ‘Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”. Isa putera Maryam berdo’a: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama”. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia”.” (Sura 5:112-115).
Para pakar Islam berdiskusi dari segala macam sudut pandang tentang kuantitas dan kualitas makanan yang disediakan di atas meja di gurun pasir itu, dan bukannya meneliti Siapa yang menyediakan makanan tersebut. Menurut Injil, Al-Masih menggunakan lima potong roti dan dua ikan, mengucap syukur, dan melalui lima potong roti dan dua ikan ini Dia memberi makan kepada lima ribu orang, di samping wanita dan anak-anak. Di sini Dia memperlihatkan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas sebagai Sang Pencipta melalui cara yang praktis. Al-Masih tidak pernah mengucapkan kata-kata yang kosong; Dia melakukan apa yang Dia ajarkan dan menunjukkan kehendak serta kasih-Nya melalui keajaiban-keajaiban yang besar dan luar biasa.
Pengungkap Rahasia
Dalam Al-Qur’an, Muhammad menyatakan:
“Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib.” (Sura 6:50).
Lain halnya dengan Al-Masih. Muhammad mengacu pada Isa Al-Masih dan mengatakan bahwa Al-Masihlah yang mengetahui rahasia manusia dan dapat melihat apa yang tidak terlihat; kemampuan-kemampuan seperti ini hanyalah dimiliki oleh Allah. Muhammad mengutip Al-Masih di dalam Al-Quran:
“…dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Sura 3:49).
Muhammad menggambarkan kapasitas Al-Masih sebagai Yang Maha Tahu, untuk mencela dan memberi peringatan kepada para pengikutnya yang egois. Dia sangat jijik terhadap beberapa pengikutnya dari Medinah karena mereka menyembunyikan makanan dan harta benda di dalam rumah mereka, dan menolak untuk membagikan seluruh kekayaan mereka dengan para imigran dari Mekah. Jadi dia memberi mereka peringatan bahwa Al-Masih akan segera datang kembali sebagai Hakim, untuk memerintah pada Hari Penghakiman. Muhammad mengakui bahwa Al-Masih akan mengetahui apa yang mereka lakukan secara diam-diam di dalam rumah mereka. Dia akan mengetahui bukan hanya apa yang mereka makan, tetapi juga apa yang mereka sembunyikan. Tidak ada yang dapat lolos dari mata-Nya pada Hari Penghakiman. Tidak ada bukti yang lebih besar lagi dari Muhammad mengenai keilahian Al-Masih selain apa yang dikatakannya di sini. Dia mengakui bahwa Al-Masih mengetahui kebenaran yang tersembunyi dan rahasia-rahasia di dalam hati manusia. Al-Masih mengetahui seluruh rahasia kita secara rinci. Dia mengetahui perbuatan-perbuatan kita, yang baik maupun yang buruk, karena Dia adalah Yang Maha Tahu. Tidak ada yang dapat disembunyikan dari-Nya.
Pembuat UU yang Bijaksana
Kita membaca dalam Al-Qur’an bahwa Al-Masih mengijinkan para pengikut-Nya untuk melakukan apa yang dilarang menurut Hukum Musa. Al-Masih tidak memaksa mereka untuk memenuhi seluruh peraturan Hukum Musa. Dalam Injil, Al-Masih dengan jelas mengatakan bahwa makanan yang masuk ke dalam perut tidak akan menajiskan kita; segala pikiran yang keluar dari hati kitalah yang membuat kita najis, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19). Al-Masih mengungkapkan revolusi legislatif, karena Dia adalah Pemberi Hukum dan Pembuat UU Yang Mulia yang mengambil hak dan otoritas untuk menyempurnakan dan melengkapi Hukum Musa. Al-Qur’an mengkonfirmasikan hak istimewa yang unik dari Al-Masih ini; bahwa Dia tidak tunduk di bawah Hukum, tetapi berkuasa di atasnya dan menyempurnakannya. Musa, semua nabi, dan orang-orang lainnya dalam Perjanjian Lama hidup di bawah Hukum Musa. Mereka diharapkan untuk hidup memenuhi tuntutan Hukum Musa, tetapi Al-Masih memiliki otoritas dan kuasa untuk menyempurnakan dan melengkapinya. Untuk alasan ini, Dia menyatakan dalam Al-Qur’an:
“Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu.” (Sura 3:50).
Dalam Injil, Al-Masih mengatakan,
“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi… Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:38-44).
Pembaharu Hati dan Pikiran
Diberkatilah orang yang menyadari bahwa Al-Masih bukan hanya sekedar manusia biasa atau seorang nabi belaka, tetapi Seorang Pembuat UU Yang Mulia yang memiliki kuasa Allah. Maka Muhammad diperintahkan malaikat untuk mencari petunjuk dari orang-orang yang membaca Al Kitab, agar dia dapat mengerti arti wahyu yang diberikan kepadanya:
“Maka jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (Sura 10:94).
Al-Masih tidak perlu untuk bertanya guru-guru pada jaman Perjanjian Lama tentang rahasia dari Hukum Musa, juga dia tidak perlu meminta penjelasan dari pesan Perjanjian Lama, karena Diri Dia sendiri adalah Firman Allah dan Pembuat UU. Sebenarnya Al-Masih adalah Hukum yang berinkarnasi. Dia memiliki hak untuk ditaati semua orang. Al-Qur’an mengutip perkataan Al-Masih:
“Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku.” (Sura 3:50).
Semua manusia, Hindu, Yahudi, Islam, dan para pengikut Al-Masih, harus mempelajari Injil dengan seksama, menyimpannya dalam hati, dan mengikuti Al-Masih di dalam segala bagian kehidupan mereka. Al-Masih memiliki hak dan otoritas untuk menuntut ketaatan dari setiap orang! Al-Masih tidak hanya membimbing murid-murid-Nya kepada Allah, tetapi Dia juga memanggil mereka untuk mengikuti Dia dan untuk menerapkan ajaran-ajaran-Nya. Untuk alasan ini, Al-Qur’an menggambarkan para pengikut Al-Masih dengan gambaran yang terbaik, seperti: Penolong-penolong Allah, orang yang beriman, berserah (Islam), pengikut-pengikut-Nya dan martir (Sura 3:52-53). Kita dapat membaca apa yang dikatakan tentang para pengikut-Nya dalam Al-Qur’an:
“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang.” (Sura 57:27).
Dalam Al-Qur’an, Allah mengatakan:
“Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu.” (Sura 3:55).
Ayat-ayat Al-Qur’an ini menyatakan bahwa para pengikut Isa yang sejati termasuk dalam golongan orang yang memiliki kelas yang lebih tinggi, lebih istimewa, dan lebih terhormat. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati, tidak ingin menyombongkan diri atau menjadi tenar. Muhammad menyatakan:
“Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Sura 5:82).
Kesaksian Al-Qur’an menjelaskan keajaiban Al-Masih yang terbesar, yaitu menunjukkan kemampuan-Nya untuk dengan diam-diam mengadakan perubahan politik dan sosial tanpa peperangan ataupun tipu muslihat. Dia memperbaharui dan membuat orang berdosa menjadi bertobat, mengubah mereka dari orang yang egois menjadi orang yang mengasihi, dari pemimpin yang sombong menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Al-Masih sendiri mengakui bahwa Dia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan untuk memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28).
Setiap orang yang membandingkan keajaiban Muhammad dengan keajaiban Al-Masih menemukan bahwa tanda keajaiban dari Muhammad hanyalah berupa firman, di mana tanda keajaiban dari Al-Masih berupa keajaiban-keajaiban yang berbentuk perbuatan yang dilakukan atas dasar kasih dan rahmat.

PERTANYAAN YANG MENUNTUT JAWABAN


_bagian keempat dari 6 artikel.
Oleh ; Abd Al Masih
[...mungkin saja anda pernah membaca artikel ini di website lain karena artikel ini memang saya copy dari alamat website lain. Saya sengaja tidak mengubah judul artikel dan isinya agar tidak menimbulkan kesalahan dalam memahami esensinya. Namun karena terlalu panjang, maka akan saya bagi dalam beberapa bagian. Pembaca hendaknya membaca sampai habis untuk mendapatkan manfaat yang utuh dari apa yang selama ini di-salah- mengerti-kan atau malah sengaja di-sembunyi-kan oleh para sarjana muslim dan para mubaligh kepada umat muslim dalam memahami Quran dan Injil. Sesuai dengan judulnya, “Pertanyaan Yang Menuntut Jawaban”, maka sebagian besar pertanyaan yang selama ini tersimpan di kepala anda akan terjawab di sini...selamat membaca]

VII. KEMATIAN MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Dalam biografi mengenai sang Nabi, Ibn Hisham menulis bahwa Muhammad wafat setelah sakit karena demam yang tinggi. Sebelum kematiannya, Muhammad mengatakan bahwa racun dari bangsa Yahudi telah mematahkan hatinya. Ketika seorang budak wanita Yahudi memberikan racun kepada makanan Muhammad, seorang tamu yang makan bersamanya meninggal! Muhammad sendiri merasakan racun dalam makanannya dan memuntahkannya sebelum dia telan. Namun demikian, tubuhnya telah menyerap sebagian dari racun tersebut, dan itu yang menyebabkan kematiannya.
Kematian Al-Masih dengan jelas diwartakan dalam Al-Qur’an, menggenapi rencana Allah sebagai berkat bagi segala umat manusia. Dalam Al-Qur’an, Yang Maha Kuasa berkata langsung kepada Isa:
“Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku” (Sura 3:55).
Walaupun kutipan ini tidak tertulis dalam Injil, hal ini membuktikan bahwa Al-Masih bukan dibunuh secara tidak sengaja, tetapi mati secara suka rela sesuai dengan kehendak Allah, dalam kedamaian.
Al-Qur’an tidak membantah kematian bersejarah Al-Masih sebagaimana dikatakan orang-orang yang tidak percaya, karena kita dapat membaca nubuat yang dikatakan oleh Al-Masih tentang kematian-Nya sendiri dalam Sura Maryam 19:33:
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
Pengakuan besar dari Al-Qur’an ini mengkonfirmasikan bahwa Al-Masih dilahirkan, mati dan bangkit kembali dari kematian. Dengan pernyataan ini, Muhammad mendukung ajaran Injil. Setiap orang yang percaya kepada urut-urutan kejadian bersejarah ini akan hidup bersama Dia yang hidup sekarang dan selama-lamanya!
Ketika Al-Masih kembali ke dunia lagi, Dia tidak akan pernah mati lagi. Dia tidak mengatakan dalam Sura Maryam bahwa Dia akan mati nun jauh di kemudian hari, tetapi segera setelah kelahiran dan kehidupan-Nya. Al-Qur’an bersaksi bahwa Al-Masih dilahirkan, bahwa Dia mati, dan bahwa Dia bangkit kembali dalam mata rantai kejadian yang berurutan. Para pengikut Al-Masih sangat yakin tentang kematian dan kebangkitan Anak Maryam yang bersejarah.
Al-Masih mati secara sukarela dan dalam kedamaian yang sempurna. Kita dapat membaca hal ini dalam Injil dan dalam Al-Qur’an. Al-Masih mengetahui sebelumnya tentang bagaimana Dia akan mati. Dia bahkan memilih hari dan waktu kematian-Nya sendiri untuk dengan sengaja tepat jatuh pada hari perayaan Paskah, menurut Hukum Musa. Dia mengungkapkan bahwa Dia akan mati sebagai penebus dosa manusia dan menyelamatkan semua orang yang percaya kepada-Nya dari dosa-dosa mereka dan dari api kekal. Semua orang akan mati karena mereka telah berdosa, tetapi Al-Masih tidak pernah berbuat dosa. Al-Qur’an menegaskan hal ini beberapa kali. Al-Masih tidak mati karena dosa-Nya sendiri, tetapi karena memikul dosa kita dan mati bagi kita. Ada kedamaian dan makna yang agung yang menyelubungi kematian-Nya, menurut Sura Maryam 19:33, karena Dia, Domba Allah, memikul dosa dunia dalam kasih-Nya.
VIII. MUHAMMAD DAN AL-MASIH, SETELAH KEMATIANNYA
Muhammad dikuburkan di Medinah, dan kuburannya masih ada sampai sekarang. Orang Islam percaya bahwa rohnya menjadi perantara bagi mereka yang sudah meninggal (Barzakh), sambil menunggu Hari Penghakiman.
Kita dapat membaca dalam Al-Qur’an bahwa Allah mengangkat Al-Masih kepada diri-Nya, dan menjanjikan Dia:
“Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku” (Sura 3:55).
Janji ini dikonfirmasikan dalam Al-Qur’an sebagai fakta yang telah terpenuhi/terlaksana:
“Allah telah mengangkat ‘Isa kepadaNya.” (Sura 4:158).
Dengan kata lain, Allah memanggil anak Maryam keluar dari kuburan dan mengangkat Isa Al-Masih kepada-Nya. Isa Al-Masih sekarang berdiam dekat Allah, sangat dihormati baik di bumi maupun dalam kekekalan. Al-Qur’an bersaksi:
“Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),” (Sura 3:45).
Kuburan Al-Masih telah kosong, karena Dia memang telah dibangkitkan, seperti yang telah dikatakan-Nya sebelumnya. Tetapi jenazah Muhammad masih ada di kuburannya. Al-Masih terus hidup. Muhammad telah mati; dia tidak pernah dibangkitkan dari kuburannya, dan juga tidak pernah naik ke surga. Di sini terdapat perbedaan yang begitu besar antara hidup dan mati. Karena kehidupan lebih besar daripada kematian, demikian juga Isa lebih besar daripada Muhammad. Isa berada di dalam kekekalan. Al-Qur’an sendiri dengan jelas menggambarkan Al-Masih yang hidup sebagai sosok bagi setiap orang yang mencari kehidupan yang kekal.
IX. KEDAMAIAN MUHAMMAD DAN AL-MASIH
Setiap kali menyebutkan nama Muhammad, seluruh umat Muslim berdoa:
“Kiranya Tuhan mendoakan dia dan memberi dia damai.”
Doa mereka mengindikasikan bahwa damai Allah belum datang kepada Muhammad, walaupun para pengikutnya telah mendoakan dia selama berabad-abad! Muhammad adalah nabi yang secara terus-menerus membutuhkan campur tangan pengikutnya, bukan sebaliknya. Al-Qur’an menyaksikan bahwa Allah sendiri, seluruh malaikat dan seluruh umat Muslim, harus mendoakan Muhammad dengan tekun untuk menyelamatkan dia pada hari penghakiman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Sura 33:56).
Dalam Sura Maryam, Al-Masih dituliskan berkata:
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (Sura 19:15).
Putra Maryam adalah Pangeran Kedamaian yang hidup sebagai manusia biasa dalam damai dengan Allah dari mula hingga akhirnya. Tidak ada yang memisahkan Dia dari berkat kekal Allah.
Kelahiran Al-Masih dari perawan Maryam terjadi menurut kehendak dan kuasa Allah. Dia dilahirkan tanpa dosa. Damai Allah yang sejati ada pada diri-Nya sejak permulaan hidup-Nya. Berdasarkan kenyataan ini, langit terbuka dan malaikat-malaikat bernyanyi, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).
Al-Masih benar-benar mati. Dia tidak mati untuk dosa diri-Nya, tetapi sebagai pengganti bagi dosa-dosa kita. Bahkan dalam kematian-Nya, Isa mengalami damai dengan Allah. Manusia mati karena dosa mereka yang menjijikkan, “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Tetapi Allah sangat senang ketika Al-Masih mati, karena kematian-Nya telah mendamaikan Dia kembali dengan manusia. Oleh karenanya damai Allah menyelubungi kematian Al-Masih.
Kebangkitan Isa Al-Masih dari kematian adalah bukti terbesar bagi kesucian-Nya. Jika Al-Masih berbuat satu dosa saja selama hidup-Nya, kematian akan memiliki kuasa yang sah atas Dia dan akan terus mencengkeram Dia, sama halnya seperti kematian telah mencengkeram Muhammad. Tetapi Al-Masih tidak pernah berbuat satu dosa pun, besar atau kecil! Oleh karenanya, Dia telah mengalahkan kematian dan telah bangkit sebagai tanda kemenangan atas kuasa kegelapan. Al-Masih masih hidup – Muhammad telah mati! Seluruh umat Islam mengakui kenyataan ini ketika mereka mengucapkan menyebut nama Al-Masih, dengan berkata:
“Damai ada pada-Nya.”
Mereka mengetahui dengan baik dan bersaksi bahwa Dia hidup dengan penuh kedamaian dengan Allah.
Muhammad mengalami siksaan yang begitu berat di Mekah, tetapi ketika dia menjadi berkuasa secara politik dan sosial, dia mengirimkan serangan-serangan yang hebat dan peperangan berdarah melawan musuh-musuhnya. Kadang kala dia menjadi sangat tidak bertoleransi dan tidak mau memaafkan. Dalam Al-Qur’an, Muhammad memerintahkan lebih dari 16 kali untuk membunuh musuh-musuhnya, orang yang tidak percaya, dan orang yang keluar dari Islam:
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (Sura 2:191).
“Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong” (Sura 4:89).
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Sura 8:39).
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.” (Sura 9:5).
Muhammad tidak membawa damai ke dunia tetapi peperangan. Dia mengutus pasukannya untuk menyerang dan perang suci lebih dari 30 kali. Dia sendiri turut serta dalam penyerangan dan ekspedisi sebanyak 29 kali. Dia memimpin pengikutnya untuk mencucurkan darah musuh-musuhnya. Dia adalah contoh seorang pemimpin politik yang beragama di semenanjung Arab.
Walaupun Orang Yahudi menghukum Dia dengan kejam, tetapi Al-Masih yang rendah hati dan lembut tidak membela diri-Nya dengan pedang. Dia melarang pengikut-Nya untuk mengalirkan darah musuh-musuh-Nya, dengan memerintah Petrus “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat 26:52). Setiap orang Kristen yang berperang dengan senjata yang mematikan untuk penyebaran Injil dan menumpahkan darah orang lain berarti memberontak kehendak Tuhan. Dia akan diadili sebagai orang yang tidak taat pada perintah Pangeran Kedamaian. Tetapi setiap orang Islam yang mati dalam perang suci dijanjikan akan langsung diangkat ke surga. Hanya Al-Masih yang membangun kedamaian yang sejati tanpa peperangan dan pembunuhan. Muhammad mewajibkan setiap umatnya untuk berperang melawan musuh-musuhnya (lihat juga Sura 4:95,96; 25:52). Al-Masih lebih suka mencurahkan darah-Nya sendiri yang berharga untuk menyelamatkan musuh-musuh-Nya, sehingga mereka tidak akan binasa. Dia bahkan berdoa untuk mereka: “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).
Isa adalah satu-satunya Muslim sejati, jika kita menganggap definisi kata “Muslim” berasal dari kata Arab Salam, yang berarti “damai.” Seorang Muslim sejati adalah pendamai yang menyerahkan hidupnya sendiri kepada Allah yang penuh Kasih, dan melayani hanya kepada Allah saja.