Sebelum membaca artikel ini, anda harus membaca terlebih dahulu QS 6;38,
[Alloh berfirman ; “Tidaklah Kami meninggalkan sesuatupun didalam al-Quran!!”]
Ketika
beberapa tahun yang lalu saya menemukan artikel yang di-release oleh seorang
sarjana muslim kenamaan dari Jakarta yakni Prof Fahmi Basya perihal Candi
Borobudur sebagai warisan sejarah islam yang agung, saya pikir itu sebuah
gagasan yang mengada-ada bahkan tak lebih sebagai sebuah kekonyolan belaka. Artikel
yang terdapat dalam buku “Matematika Islam 3” tersebut begitu menghebohkan
dunia Islam di Indonesia kala itu setelah dengan sengaja di-blow-up dengan dimuat
berbagai media cetak, online dan TV, bahkan menjadi trending –topic di
masyarakat selama berbulan-bulan lamanya.
Namun,
walaupun dengan begitu mudah klaim tersebut dapat di mentahkan dengan cara yang
sangat sederhana, tapi ternyata “klaim” tersebut tetap berusaha dipertahankan
hingga kini bahkan saya tadi pagi(21 Oktober 2013) sempat menyimak dalam sebuah
tayangan TV swasta, yang minturut anak saya tayangan tersebut merupakan
pengulangan yang ke sekian kali!!. Kini, keseriusan Sang Professor Fahmi tersebut
nampak sekali dengan ditampilkannya ayat-ayat Quran sebagai bahan argumen sang
Professor tersebut....
Klaim Sang
Professor Fahmi sbb :
·
Candi
Borobudur sebagai peninggalan sejarah Islam.
·
Candi
Borobudur dibangun Nabi Sulaiman(Yahudi) dengan bantuan setan/jin.
·
Wonosobo
adalah asal Ratu Seba.
·
Kota
Sleman berasal dari nama Nabi Sulaiman.
·
Relief
di Candi Borobudur sebagai penggambaran theologis Islam.
Namun mari
bersama-sama menggunakan akal sehat barang sejenak akan hal-hal sederhana yang
justru langsung mementahkan klaim muslim diatas :
·
Semua
Nabi Tuhan sejak semula lahir dan dibesarkan dengan tradisi Agama
Yudaisme/Yahudi karena pasti merupakan keturunan Yahudi.
·
Islam
dibawa dan sebarkan oleh Muhamad dari suku Quraish dari tanah Arab 600-an tahun
Setelah Masehi.
·
King
Solomon/Nabi Salomo yang adalah Raja Israel anak Nabi Daud adalah penganut
Yudaisme yang oleh muslim disebut sebagai Nabi Sulaiman hidup dan berkuasa di
tanah Israel pada 1000 tahun Sebelum Masehi.
·
Ratu
Seba adalah penguasa daratan Etiopia yang ketika itu disebut wilayah Seba pada
masa King Solomon hidup.
·
Borobudur
dibangun oleh Maharaja yang berasal dari Wangsa Syailendra(Buddha) sebagai
penguasa tanah Jawa pada sekitar 900 tahun Setelah Masehi.
·
Sumber
kisah pada relief pada dinding Candi Borobudur sebagai pahatan perjalanan hidup
Sang Buddha, serta kisah peperangan khas dari India.
[Dari sudut pandang orang
bodoh manapun, asal masih memiliki akal sehat, siapapun tentu tidak bisa
merangkai kedua hal bertolak belakang yang saya paparkan diatas. Hal ini mirip
kejadian ketika pihak kementerian pariwisata Malaysia “mengklaim” bahwa Reog
Ponorogo sebagai milik Malaysia. Walaupun harus diakui bahwa atraksi Reog yang
diklaim pihak Malaysia memang benar-benar lahir dan ditampilkan oleh warga
mereka sendiri namun mereka tidak bisa mengelak bahwa “mereka” berasal dari
Ponorogo Jawa Timur. Namun demikian, Malaysia tidak bisa begitu saja mengkalim
bahwa Reog Ponorogo sebagai miliknya. Walaupun pada awalnya begitu ngotot,
akhirnya pihak Kementerian Pariwisata Malaysia ketika itu tidak mampu berkutik
ketika kepada mereka diajukan sebuah catatan sejarah otentik yang tertulis pada
buku “Sejarah/Babad Tanah Jawi” yang memuat kisah “Bagaimana Atraksi Reog
Ponorogo Lahir” sebagai bentuk protes penguasa/adipati Ponorogo atas Prabu
Brawijaya yang semakin lemah dalam memerintah negeri karena pengaruh salah satu
selirnya yang muslim yang berasal dari daratan Cina yang sengaja disusupkan
para Wali penyebar agama Islam di tanah Jawa untuk maksud merongrong dan
menggulingkan kekuasaan Majapahit Hindu/Buddha menjadi bercorak Islam.
Kekhawatiran Adipati Ponorogo terbukti benar ketika dari selir tersebut
kemudian lahir Raden Patah yang dikemudian hari atas hasutan para wali penyebar
agama islam lantas memberontak dan mengambil alih kekuasaan ayahandanya dan
memindahkan kekuasaan pemerintahan Majapahit ke Demak].
Lihat betapa nekat pihak muslim dalam klaimnya
tersebut seperti yang diantaranya saya kutip ini :
[ Borobudur
merupakan miniatur Al-Quran, Borobudur berceritera tentang hal yang bersesuaian
dengan Al-Quran dengan cara yang berbeda. Al-Quran berceritera tentang suatu
hal dengan bahasa syair, sedang Borobudur bercerita tentang hal yang sama
dengan bahasa teater dalam bentuk Relief.
· Puncak Borobudur dengan satu Stupa besar, disekelilingnya terdapat relief yang menggambarkan ceritera yang bersesuaian dengan Surat ke 1 (satu) di Al-quran.
· Lantai dua dari atas terdapat 8 (delapan) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 8 (delapan) di Al-Quran
· Lantai tiga dari atas terdapat 16 (enam belas) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 16 (enam belas) di Al-Quran
· Lantai empat dari atas terdapat 32 (tiga puluh dua) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 32 (tiga puluh dua) di Al-Quran
· Lantai lima dari atas terdapat 64 (enam puluh empat) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 64 (enam puh empat) di Al-Quran
· Lantai enam dari atas (lantai dasar) terdapat 72 (tujuh puluh dua) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 72 (tujuh puluh dua) di Al-Quran
Dari kesesuain relief Borobudur dengan Al-Quran diatas, rasanya lebih masuk akal bahwa negri Syain yang dimaksud nabi Muhammad SAW adalah negri Syailendra].
· Puncak Borobudur dengan satu Stupa besar, disekelilingnya terdapat relief yang menggambarkan ceritera yang bersesuaian dengan Surat ke 1 (satu) di Al-quran.
· Lantai dua dari atas terdapat 8 (delapan) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 8 (delapan) di Al-Quran
· Lantai tiga dari atas terdapat 16 (enam belas) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 16 (enam belas) di Al-Quran
· Lantai empat dari atas terdapat 32 (tiga puluh dua) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 32 (tiga puluh dua) di Al-Quran
· Lantai lima dari atas terdapat 64 (enam puluh empat) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 64 (enam puh empat) di Al-Quran
· Lantai enam dari atas (lantai dasar) terdapat 72 (tujuh puluh dua) Stupa, disekelilingnya terdapat relief yang menceriterakan suatu hal yang bersesuaian dengan Surat ke 72 (tujuh puluh dua) di Al-Quran
Dari kesesuain relief Borobudur dengan Al-Quran diatas, rasanya lebih masuk akal bahwa negri Syain yang dimaksud nabi Muhammad SAW adalah negri Syailendra].
Mengapa relief di Borobudur sepertinya bersesuaian
dengan klaim Prof Fahmi Basya?
Klaim muslim nampak seperti masuk akal bukan??
Namun, marilah dewasa sedikit. Marilah kita buang kacamata kuda kita dan
melihat keluar sana, sekali lagi agama Buddha lahir dibawa Siddharta Gautama di
India sekitar 5000 tahun Sebelum Masehi dengan memiliki teknologi yang luar
biasa termasuk matematika. Sedangkan Islam sekali lagi dibawa Muhamad sekitar
600 tahun Setelah Masehi. Pengaruh penguasaan Buddha India hingga daratan Arab
dengan bukti sejarah berupa 7(tujuh)Kuil
Kaabah dengan satu-satunya yang tersisa akhirnya dikuasai pihak muslim di kota
Mekah. Bila anda membandingkan
kisah/sejarah penguasaan Kuil Kaabah oleh Muhamad dengan kisah keinginan muslim
menguasai Kuil Borobudur, maka itu hanyalah pengulangan sejarah belaka.
Ternyata Muhamad tidak saja menguasai Kuil Kaabah saja dengan dalih peninggalan
Nabi Ibrahim(Yahudi), namun juga hikayat dan hampir semua tatacara ibadah
bahkan ritual haji juga diambil dari ritual Buddha, dari sudut pandang ini bila
relief di Borobudur bersesuaian dengan ayat-ayat al-Quran, itu sangat masuk
akal banget!!
Jadi bila pada zaman kebodohan masa lalu Muhamad sukses melakukan “penyesuaian sejarah” Kaabah di Mekkah, begitu juga mestinya di Jawa atas Kuil Borobudur. Bila dimasa lalu Muhamad sukses melakukan “penyesuaian sejarah” atas kisah keluarga Nabi Abraham dan keluarganya yang sejarah aslinya dimakamkan di Makpela, Hebron, begitu juga mestinya kini muslim juga harus melakukanya atas makam Nabi Sulaiman(Yahudi) agar lebih afdol disesuaikan makamnya misalnya di alun-alun kota Sleman, seperti klaim Muhamad bahwa makam Nabi Ibrahim ada di Mekkah walaupun Nabi Ibrahim tidak mungkin pernah menginjakkan kakinya disana dan makam sejatinya berjarak ribuan kilometer dari tanah gersang tersebut....





